Waspada Jejak Karbon Digital!
- 07 Okt 2024 20:06 WIB
- Biak
KBRN, Biak: Jejak karbon digital merupakan dampak lingkungan yang timbul akibat penggunaan teknologi digital. Mulai dari produksi perangkat elektronik, konsumsi energi pada pusat data, hingga aktivitas kita sehari-hari di dunia maya seperti streaming, bermain game, dan berselancar internet, semuanya berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca.
Sampah digital berdampak menghasilkan jejak karbon digital yang berpengaruh pada perubahan iklim, 83,7 juta pengguna internet di Indonesia menghasilkan 3,7% emisi global. Data-data seperti dokumen, foto, video, dan history penelusuran menghasilkan jejak karbon sekitar 2% dari emisi global.
Berdasarkan sumber Kemenkominfo, cara mengurangi sampah digital yaitu:
1. Bersihkan e-mail Hapus e-mail yang sudah dibaca, kosongkan spam dan berhenti berlangganan newsletter yang tidak perlu.
2. Hapus file yang tidakk penting Pilih dan hapus foto, video, riwayat penelusuran atau pencarian intenet, dan dokumen yang tidak diperlukan lagi.
3. Gunakan penyimpanan sekunder Kalau kalian perlu penyimpanan file yang besar, disarankan menggunakan perangkat memory card atau hard disk.
Bila penggunaan media sosial menghabiskan waktu masing-masing 5 menit setiap harinya di kesepuluh platform media sosial tersebut, maka akan dapat menghasilkan jejak karbon atau carbon footprint dengan jumlah perkiraan 20kg dalam satu tahun. Karbon yang dihasilkan dari media sosial tersebut adalah jenis footprint, yaitu jejak karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang diperlukan unntuk menghasilkan energi listrik, untuk dapat menjalankan perangkat ponsel dalam bermain media sosial.
Aktivitas digital memiliki dampak langsung pada lingkungan. Peningkatan jejak karbon secara global, termasuk yang dihasilkan dari aktivitas digital, akan membawa konsekuensi serius bagi masa depan planet.
Salah satu dampak yang paling nyata adalah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Kenaikan suhu global akan menyebabkan berbagai bencana alam seperti gelombang panas yang lebih sering dan intens, kekeringan berkepanjangan, serta peningkatan frekuensi dan intensitas badai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....