Mengenal Club "Siluman" Dari Persikubar menjadi Bhayangkara FC

  • 09 Feb 2024 21:12 WIB
  •  Sendawar

KBRN, Sendawar : Hasil pertandingan Bhayangkara FC melawan Persebaya Surabaya pada laga pekan ke-24 Liga 1 Indonesia, di Stadion GBT Surabaya, Minggu (4/2/2024) menempatkan Persebaya di posisi ke-12 klasemen sementara dengan total 30 poin dari 24 pertandingan.

Sementara, Bhayangkara FC masih menjadi juru kunci pada klasemen sementara Liga 1 Indonesia dengan 15 poin dari 24 pertandingan.

Pertandingan selanjutnya, Persebaya akan melawat ke kandang Persita Tangerang pada 23 Februari. Sementara Bhayangkara Presisi FC akan menjamu PSS Sleman pada 22 Februari.

Bhayangkara FC membawa sejarah kelam sepak bola Indonesia. Dari Persikubar Kutai Barat hingga Bhayangkara FC juara, klub ini telah menempuh perjalanan yang tidak terduga. Mereka tidak hanya bermain untuk meraih kemenangan di atas lapangan, tetapi juga untuk mengenang jejak-jejak kelam dan identitas yang telah membentuk mereka menjadi salah satu klub ‘siluman’ dalam sepak bola Indonesia.

BHAYANGKARA FC, sebuah tim yang kini tengah terperosok di zona degradasi kasta tertinggi Liga Indonesia, memiliki jejak perjalanan yang tak terduga.

Klub ini pernah melalui berbagai perubahan identitas dan tantangan sepanjang perjalanan mereka dalam dunia sepak bola Indonesia. Dari awalnya dikenal sebagai Persikubar Kutai Barat, hingga meraih gelar juara Liga 1, Bhayangkara FC telah menulis kisah uniknya.

Jalan pintas untuk meraih prestasi instan seringkali menjadi pilihan bagi banyak klub, dan Bhayangkara FC tidak terkecuali. Mereka memilih untuk menghindari proses merangkak dari kasta terbawah, seperti halnya klub-klub lainnya. Sebelum menjadi Bhayangkara FC, klub ini awalnya dikenal sebagai Persikubar Kutai Barat.

Pergantian identitas ini bukanlah hal yang asing dalam sepak bola Indonesia. Bhayangkara FC menjalani perubahan besar saat dualisme melanda Persebaya Surabaya pada 2010. Persikubar Kutai Barat berganti identitas menjadi Persebaya Surabaya untuk berkompetisi di Divisi Utama (DU) 2011/2012, sebuah kompetisi tidak resmi pada masa itu. Sementara itu, Persebaya Surabaya yang asli, Persebaya 1927, bermain di Liga Primer Indonesia (LPI) 2011 di bawah naungan PSSI.

Klub ini pernah melalui berbagai perubahan identitas dan tantangan sepanjang perjalanan mereka dalam dunia sepak bola Indonesia. Dari awalnya dikenal sebagai Persikubar Kutai Barat, hingga meraih gelar juara Liga 1, Bhayangkara FC telah menulis kisah uniknya.

Jejak cikal bakal lahirnya Persebaya DU, sebutan klub saat itu, dipengaruhi oleh beberapa tokoh, antara lain Wisnu Wardhana dan La Nyalla Mattalitti. PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) ditunjuk sebagai pengelola tim ini. Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mulus, terutama dalam mendapatkan dukungan penuh dari suporter setia Persebaya Surabaya, Bonek.

Persebaya DU berhasil meraih kesuksesan dengan menjadi juara Divisi Utama 2013 dan mendapatkan promosi ke Indonesia Super League (ISL) 2014. Namun, eksistensi mereka tidak berlangsung lama. Bonek masih menganggap Persebaya 1927 sebagai klub asli mereka, sehingga Persebaya DU dianggap sebagai klub siluman. Situasi ini menjadi kompleks, menciptakan ketidaksetujuan di antara suporter.

Pada 2015, eksistensi Persebaya DU berakhir. Ini berawal dari tidak didapatkannya rekomendasi dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) untuk berkompetisi di ISL, karena masalah legalitas yang belum terselesaikan. Klub ini terlibat dalam dualisme dengan Persebaya 1927, dan BOPI menemukan masalah hukum pada kedua klub tersebut.

Meski melawan keputusan BOPI, Persebaya DU dan Arema Cronus, klub yang juga terlibat dalam masalah serupa, tidak dapat menjaga kiprah mereka setelah FIFA memberikan sanksi kepada PSSI, yang mengakibatkan dihentikannya kompetisi di awal musim.

Namun, dari puing-puing dualisme dan ketidakpastian, muncul Bhayangkara FC. Klub ini muncul sebagai kekuatan baru dalam sepak bola Indonesia, dan mereka membuktikan diri dengan meraih gelar juara Liga 1.

Transformasi Bhayangkara FC menjadi tim yang memiliki daya saing tinggi di level tertinggi sepak bola Indonesia menjadi bukti bahwa di balik karut marut dan tantangan, sebuah klub bisa bangkit dan mencapai puncak prestasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....