KBRN, banjarmasin : Khusus sapi, mayoritas didatangkan dari Pulau Jawa dan sebagian dari kabupaten tetangga di Kalsel. Seperti Barito Kuala dan Tanah Laut.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin pun mulai melakukan persiapan. Salah satunya, memastikan kesehatan hewan kurban yang masuk ke Banjarmasin. Mengingat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menghantui.
"Semakin mendekati Iduladha, semakin kami perketat lagi pengawasannya," ucap M Makhmud, Kepala DKP3 Banjarmasin.
Ia menerangkan, PMK menyerang banyak ternak sapi dan sempat merebak di beberapa wilayah di Pulau Jawa, termasuk di Provinsi Kalsel.
"Sesuai SOP, setiap sapi yang akan dikirim ke seluruh wilayah termasuk ke Banjarmasin, tidak bisa langsung dikirim begitu saja. Peternak juga harus menyertakan hasil laboratorium kesehatan ternaknya," jelasnya.
Tidak hanya itu, setibanya di daerah tujuan menurut Makhmud, hewan kurban tidak langsung masuk ke Rumah Potong Hewan (RPH). Melainkan, harus dikarantina terlebih dahulu selama beberapa hari.
"Sapi-sapi itu juga sudah harus divaksinasi. Setelah dikarantina, baru bisa didistribusikan ke RPH atau masyarakat," tekannya.
Sementara itu, Kepala RPH Kota Banjarmasin, Agus Siswadi mengaku, meski beberapa pekan lagi, permintaan sapi kurban sudah banyak.
"Kemungkinan mendekati hari raya nanti makin banyak lagi," ucap Agus.
Menurut Agus, berkaca dengan tahun lalu, permintaan sapi kurban sebenarnya cukup tinggi. Namun karena adanya penyebaran virus PMK membuat ketersediaan terbatas, lantaran pengiriman dari daerah pemasok dibatasi.
"Namun sekarang tidak seketat dan terbatas seperti dulu. Makanya ketersediaan kita ada banyak," katanya.
Ditambahkannya, tahun ini harga sapi kurban mengalami kenaikan harga dari tahun lalu, dikisaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per ekor.
"Kenaikan sudah terjadi dari pemasok. Namun kenaikan masih terbilang normal apalagi jelang kurban. Dibandingkan tahun lalu meroket sekali harganya," tutupnya.