Cegah Krisis Kesehatan Mental, Perlu Keterlibatan Masyarakat.
- 16 Mei 2024 14:56 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia bersama The University of Manchester, Badan Riset Nasional Indonesia (BRIN), Universitas Brawijaya, serta empat organisasi yang berfokus pada kesehatan mental (Into The Light, KPSI, Ubah Stigma, dan CISDI) melakukan riset Sustainable Treatment for Anxiety and Depression in Indonesia (STAND-Indonesia). Program ini dilakukan dilatarbelakangi meningkatnya prevalensi gangguan mental terutama masalah kecemasan dan depresi sejak tahun 2018.
Riset STAND-Indonesia yang dimulai sejak tahun 2022 dan dijadwalkan selesai 2026 bertujuan untuk menghadirkan solusi yang lebih baik dari masalah kecemasan dan depresi di Indonesia. Cakupan wilayah riset melibatkan empat provinsi di Pulau Jawa. Secara spesifik, riset ini meliputi enam daerah perkotaan dan enam daerah pedesaan yang berada di Kota Tangerang, Kabupaten Bogor, dan Kota Semarang, serta Kabupaten Magelang, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Jombang sesuai Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.
Ketua Peneliti STAND – Indonesia Herni Susanti, S.Kp., M.N., Ph.D mengatakan, dari seluruh individu yang mengalami peningkatan kecemasan dan depresi di Indonesia, hanya 9% yang mendapatkan pengobatan di pelayanan Kesehatan (Riskesdas,2018). Ini terjadi kemungkinan disebabkan masyarakat diperkirakan belum melek informasi tentang ketersediaan layanan kesehatan dari pemerintah, atau malah takut dengan adanya stigma gangguan jiwa di masyarakat.
“Hal yang harus kita sadari adalah bahwa kondisi kecemasan atau depresi dapat dibantu, tetapi sebaliknya kondisi kecemasan atau depresi dapat mengakibatkan penurunan produktivitas hingga kejadian kejadian bunuh diri bila tidak ditangani,” ujarnya dalam seminar nasional “Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Jiwa Melalui Pemberdayaan Masyarakat” di Jakarta, Kamis (16/05/2024).
Hingga tahun 2021 Herni menambahkan, tercatat bahwa jumlah tenaga profesional yang dapat memberikan perawatan kesehatan jiwa masih sangat minim di Indonesia. Oleh karena itu, fokus dari riset ini adalah mengembangkan sebuah model Perawatan Kesehatan Jiwa Sederhana bagi individu dengan cemas dan depresi yang dapat diberikan oleh Kader yang terlatih.
Herni yang juga menjabat sebagai Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia menjelaskan, program riset ini meliputi 5 tahapan yang kompleks, sehingga selain membuahkan sebuah model perawatan bagi orang dengan kecemasan dan depresi, hasil riset juga dapat digunakan sebagai basis data dari Provinsi Jawa. Pada tahun 2023, telah dilakukan tahap pertama yaitu suatu survei rumah tangga pada 19.236 individu dari 4 provinsi di Pulau Jawa.
“Didapatkan data angka depresi sebesar 4,42% dan angka kecemasan teridentifikasi sebesar 5,68%. Prevalensi depresi dan atau kecemasan di Jawa Timur (Kabupaten Malang dan Jombang) menunjukkan angka yang lebih tinggi (8,79%), diikuti oleh Jawa Tengah (Kota Semarang dan Kab. Magelang) (7,86%). Temuan lainnya juga didapatkan data dari 1.480 orang yang teridentifikasi mengalami depresi dan atau kecemasan hanya 338 orang (22,9%) yang mencari perawatan kesehatan mental,” katanya.
Sementara itu, Tim Peneliti STAND – Indonesia dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH menyampaikan, riset ini sangat sejalan dengan konsep-konsep kesehatan masyarakat dan menggunakan sumber-sumber yang ada di sekitar. Tidak memerlukan tenaga psikiater sehingga lebih murah dan efektif serta diharapkan menjadi suatu kontribusi sumbangan buat policy ke depan.
“Kalau kita bisa buktikan nanti bahwa Low Intensity Psychological Intervention (LIPI) akan mempunyai dampak besar sekali, bukan hanya terhadap rujukan tapi kalau kita bisa intervensi di awal ini akan jauh lebih murah. Begitu orang-orang yang ada potensi sedikit atau gangguan ringan, bisa menggunakan tenaga-tenaga yang dilatih dengan mereduksi tingkat keseriusan penyakit. Dengaan Langkah ini selain manfaat kesehatan dalam artian statistik menjadi kurang beban keluarga dan penurunan beban disability. ini manfaat yang komprehensif dari kegiatan yang relatif murah,” ucap dr. Hasbullah dr. Hasbullah yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesian Health Economist Association (INAHEA).
Guru Besar Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp,. M.App,.Sc mengatakan, Low Intensity Psychological Intervention (LIPI) ini untuk kecemasan dan depresi ringan ke sedang. Sehingga kalau bisa mengatasi ringan ke sedang, maka orang dengan gangguan tersebut tidak perlu dirawat di rumah sakit dan beban ekonominya akan berkurang. Kondisi ini tidak menjadi stigma bagi mereka, karena tidak perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Perlu juga literasi bagi masyarakat karena ini dijalankan di masyarakat sehingga masyarakat akan lebih excited tentang pelayanan Kesehatan jiwa,” ujarnya.
Riset ini ini didanai oleh NIHR Global Health Research for Sustainable Care for anxiety and depression in Indonesia (Award ID NIHR134638) dengan menggunakan dana pembangunan internasional dari Pemerintah Inggris untuk mendukung penelitian kesehatan global. Pandangan yang diungkapkan dalam publikasi ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan NIHR atau pemerintah Inggris.