Sejarah Penemuan Kode QR

  • 25 Mei 2024 10:17 WIB
  •  Padang
KBRN, Padang : Kode QR, kode RC, kode respons cepat, atau kode cepat tanggap adalah bentuk evolusi kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Sebelum QR code, dunia sudah mengenal barcode, kode batang yang terdiri dari garis-garis vertical dan spasi dengan panjang dan jarak yang berbeda-beda.

Garis-garis ini mengodekan informasi yang dapat dibaca oleh mesin, seperti scanner barcode. Barcode digunakan untuk mengidentifikasi dan melacak produk, barang, atau informasi lainnya secara otomatis dengan cepat dan akurat. Namun, kelemahannya, barcode hanya bisa menyimpan 20 digit data.

Pada tahun 1994 Masahiro Hara, seorang insinyur di perusahaan otomotif Denso Wave Jepang, adalah orang yang pertama kali mengembangkan kode QR atau Quick Respons code. Saat itu, ia berusia masih cukup muda, yaitu 35 tahun.

Bersama seorang koleganya, yang kemudian menjadi anggota timnya, ia mengembangkan kode berbentuk kisi-kisi hitam putih tersebut. Gagasan ini muncul karena antusias pengguna barcode yang bisa menampung lebih banyak informasi secara ringkas dan bisa dibaca dengan cepat.

Masahiro Hara melakukan percobaan untuk membuat kode batang yang bisa menampung lebih banyak data dan lebih cepat dibaca. Kode QR ini mampu menampung hingga sekitar 7.089 angka, 4296 karakter alfanumerik, dan 1817 karakter Kanji.Jika dibandingkan dengan barcode, jumlah ini sangat jauh berbeda. Saat itu barcode sendiri hanya bisa menyimpan data sekitar 20 karakter alfanumerik. Selain itu, kode QR juga memiliki tingkat pembacaan 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan kode lainnya.

Kode QR dicirikan dengan pola dua dimensi berupa titik-titik hitam dan putih dalam sebuah kotak persegi. Inspirasi teknologi ini datang dari permainan kegemaran Masahiro Hara, yaitu permainan papan Go.

Permainan yang juga dikenal sebagai weiqi di China dan baduk di Korea, adalah permainan papan strategi untuk dua orang yang berasal dari Tiongkok. Hara menggunakan pola deteksi posisi berupa tiga kotak hitam kecil di tiga sudut kotak. Pola ini membentuk sudut siku-siku dari setiap orientasi pandang.

Hara dan tim menggunakan rasio area hitam dan putih yang paling sedikit digunakan pada barang cetakan, Pada beberapa sudutnya juga terdapat kotak persegi kecil yang digunakan sebagai posisi deteksi. Ini ditambahkan oleh Hara untuk memudahkan pembacaan kode lebih cepat oleh pemindai dan memungkinkan dibaca dari segala arah.


Saat ini kode QR sudah digunakan secara luas mulai dari melakukan pembayaran hingga memanggil taksi dan lainnya. Teknologi ini menjadi sangat populer di beberapa negara, untuk negara indonesia sendiri telah menggunakan QRIS, salah satu pengaplikasian kode QR sebagai pembayaran resmi non tunai.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....