Mengenal Proses Terjadinya Pasang Surut Air Laut

  • 16 Mei 2024 08:51 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN Banda Aceh : Pasang surut laut merupakan naik turunnya permukaan air laut karena pengaruh gravitasi dari bulan dan matahari. Peristiwa pasang surut merupakan dampak dari tarikan gravitasi Bulan dan Matahari terhadap Bumi. Hal ini sudah diketahui sejak dijelaskan oleh Isaac Newton melalui teori gravitasinya pada tahun 1687 (Ekman, 1993).

Menurut Buletin SIMMAG yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) SIM, Sama halnya dengan bumi, bulan juga memiliki gaya gravitasi yang bisa menarik benda -benda terdekatnya. Gaya gravitasi bulan lebih dominan pengaruhnya dibandingkan gaya gravitasi matahari terhadap terjadinya pasang air laut. Sebab, posisi bulan lebih dekat ke bumi dibandingkan jarak bumi ke matahari.

Gaya gravitasi bulan nantinya akan menghasilkan gaya pasang surut. Karena sifatnya yang mudah bergerak, gerakan air ke arah bulan, atau yang ditandai dengan air pasang, menjadi mudah terlihat. Pasang besar akan terjadi ketika tempat-tempat di bumi mengalami bulan mati dan bulan purnama. Gelombang pasang saat bulan purnama dapat terjadi ketika posisi bulan, bumi, dan matahari sejajar dalam satu garis lurus. Karena itu, bulan purnama bisa menyebabkan terjadinya gelombang pasang yang tinggi.


Tipe-tipe Pasang Surut Air Laut


Karena ada dua benda langit yang menarik permukaan laut, yakni Bulan dan Matahari, maka sejatinya ada dua tonjolan pasang yang terjadi setiap saat, mengacu pada posisi masing-masing. Pada fase Bulan purnama dan baru, tonjolan akibat gravitasi Bulan dan Matahari akan saling bertumpuk sehingga pasang yang dihasilkan lebih tinggi dari biasanya. Jenis pasang ini disebut sebagai pasang purnama.

Sementara itu, ketika Bulan berada pada fase kuartil, kedua tonjolan pasang akan saling meniadakan sehingga pasang yang dihasilkan akan lebih rendah dari biasanya. Jenis pasang ini disebut pasang perbani.

Ada tiga tipe pasang surut air laut yang berbeda berdasarkan frekuensi air pasang dan surut setiap harinya. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi perairan terhadap gaya pembangkit pasang surut, yaitu :

• Pasang surut harian tunggal (diurnal tides): adalah tipe pasang surut yang terjadi satu kali dalam sehari.

• Pasang surut harian ganda (semidiurnal tides): adalah tipe pasang surut yang terjadi dua kali sehari.

• Pasang surut campuran (mixed tides): pasang surut campuran terbagi menjadi dua bagian, yaitu pasang surut condong ke harian tunggal dan pasang surut campuran condong ke harian ganda.

Pada pasang surut condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal) dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi terkadang juga terjadi dua kali pasang surut.

Sementara pada pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal) di mana terjadi dua kali pasang surut dalam sehari, tetapi tinggi dan periode pasang surutnya berbeda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....