Sejarah Panjang Dibalik Sabtu Minggu Hari Libur Akhir Pekan
- 10 Mei 2024 23:13 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Hampir di seluruh dunia, menetapkan hari libur yang berbeda-beda setiap minggunya. Hingga pertengahan abad 20, negara-negara di Timur Tengah menetapkan Jumat dan Sabtu sebagai hari libur.
Kemudian, sejumlah negara Afrika Utara yang menetapkan hari libur pada Kamis dan Jumat. Tapi seiring berkembangnya globalisasi, peraturan di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan pun mengalami penyamarataan. Kesepakatan hari libur kerja itu mengalir sesuai berkembangnya kemajuan ekonomi di berbagai negara.
Misalnya pada tahun 1938, pemerintah Amerika mengeluarkan Undang-Undang (UU) Standar jam kerja buruh beserta liburnya. Dalam UU itu, mengamanatkan maksimal 40 jam kerja setiap minggu, serta menetapkan Sabtu dan Minggu sebagai hari libur bersama yang diterapkan secara nasional.
Seiring penetapan UU tersebut, perlahan saat Sabtu malam atau Malam Minggu, digunakan para buruh pabrik untuk melepas penat mereka dengan bersenang-senang bersama keluarga atau teman. Dampaknya, industri hiburan seperti bar, bioskop, diskotik, dan lain-lain mulai berkembang.
Dampak lainnya, produktivitas para karyawan di Amerika berakibat pada meningkatnya kinerja karyawan. Pabrik-pabrik disana serta bagi perindustrian di Amerika mengalami peningkatan.
Melihat kemajuan industri di Amerika dengan penerapan jam kerja seperti itu, mulai dari tahun 1940 –1960, makin banyak negara mengadopsi akhir pekan Sabtu dan Minggu sebagai hari libur, termasuk di Indonesia.
Lepas dari penjajahan perusahaan VOC karena bangkrut pada 1799, Indonesia jatuh ke tangan Kerajaan Belanda pada 1800. Dikarenakan di Belanda hari libur adalah hari minggu, maka sistem itu diterapkan pula kepada wilayah Indonesia.
Indonesia mengadopsi sistem Belanda, yaitu libur di hari Minggu untuk pekerja & pelajar. Sementara untuk BUMN dan Swasta, diserahkan kepada kebijakan masing-masing lembaga dan perusahaan.
Untuk tradisi malam mingguan di Indonesia sendiri, mulai menyebar luas dari kota sampai ke desa-desa tahun 1973.
Baik dari zaman Kolonial maupun zaman Orde lama, tradisi malam mingguan memang sudah ada. Tapi sifatnya tidak merata, dan biasanya tradisi malam minggu hanya di wilayah perkotaan oleh kalangan menengah ke atas.
Dikutip dari BBC, sepanjang abad ke-19, berbagai peraturan pemerintah Inggris dibentuk untuk mengurangi jam kerja di pabrik dan menetapkan waktu istirahat minimal. Namun akhir pekan tidak hanya muncul dari undang-undang yang dibentuk pemerintah, melainkan kombinasi antara kampanye dan gerakan sipil.
Beberapa kampanye dipimpin kelompok pengusung libur setengah hari, sementara yang lain disokong serikat buruh, pengusaha hiburan komersial dan para pemilik pabrik itu sendiri.
Walau begitu, institusi keagamaan dan serikat buruh berkeras menerapkan libur yang lebih resmi dalam satu pekan. Lembaga agama menilai bahwa libur pada hari Sabtu dapat memperbaiki mental dan moral kelas pekerja.
Contohnya pada tahun 1862, Pendeta George Heaviside menangkap optimisme pimpinan agama ketika melalui esainya di koran Coventry Herald, ia mengklaim akhir pekan dapat menyegarkan para buruh sekaligus menggenjot angka kehadiran kebaktian di gereja.
Di sisi lain, serikat buruh ingin memastikan praktik libur akhir pekan yang tidak terakomodasi kebiasaan lama. Hingga saat ini, libur dua hari selama akhir pekan masih diklaim sebagai pencapaian membanggakan dalam sejarah serikat buruh.
Di seluruh Inggris, industri rekreasi yang berkembang menganggap kerja setengah hari pada hari Sabtu sebagai peluang bisnis. Operator kereta api memotong harga karcis untuk para pelancong yang bepergian ke pedesaan pada Sabtu sore.
Dengan semakin banyaknya pemberi kerja yang mengadopsi kerja setengah hari di hari Sabtu, teater dan warung pemutar musik juga mengubah jadwal hiburan terbaik mereka dari Senin ke Sabtu sore.
Mungkin yang paling berpengaruh untuk membantu menerapkan libur akhir pekan modern itu adalah keputusan menggelar pertandingan sepak bola pada Sabtu sore.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....