BKKBN Luncurkan Aplikasi 'Siperindu' Atasi Masalah Kependudukan
- 19 Okt 2023 20:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan aplikasi Sistem informasi peringatan dini pengendalian kependudukan (Siperindu). Hal ini bertujuan untuk membantu mengatasi permasalahan kependudukan, khususnya di daerah.
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyatakan, sebelumnya aplikasi ini telah digunakan oleh beberapa daerah sejak tahun 2022. Namun pada tahun 2023 ini dilakukan beberapa pemutakhiran.
"Ada beberapa indikator yang kita tambahkan di dalam aplikasi Siperindu. Kemudian, ada dashboard juga, itu penting bagi kepala daerah melihat ada indikator utama yang bisa menggambarkan ada ancaman terhadap permasalahan kependudukan," katanya saat ditemui di kantor BKKBN, Jakarta, pada Kamis (19/10/2023).
Ia menjelaskan, fitur terbaru tentang peringatan dini permasalahan kependudukan di aplikasi ini kini menyajikan solusi-solusi dan mitigasi yang bisa dipilih. Yakni oleh kepala daerah, dan nantinya mereka dapat menentukan pilihan mana yang tepat jika disesuaikan dengan kondisi di daerahnya.
"Jadi dalam dashboard itu ketika muncul permasalahan tentang kependudukan, ada solusi-solusi yang diberikan dari BKKBN, dengan data yang diolah bersama para peneliti yang menganalisis. Misalnya dalam suatu daerah, angka kelahiran total atau TFR-nya tinggi, diberikan beberapa solusi bisa diambil secara teknikal," ucapnya.
Ia mengemukakan, nantinya ketika aplikasi ini diterapkan di daerah, bisa dikolaborasikan dengan aplikasi lokal masing-masing. Tahun ini akan dimonitor berapa yang menggunakan, kadang-kadang ada beberapa kabupaten/kota yang sudah mempunyai aplikasi sendiri.
"Misalnya Kota Surabaya sudah punya, itu nanti bisa digabungkan, (data) yang tidak ada di aplikasi daerah. Bisa mengambil di Siperindu," kata dia.
Dari Siperindu, BKKBN juga dapat melihat berapa banyak pengguna yang sudah mengakses. Lalu memantau apakah kepala daerah yang mengakses sudah menerapkan hasilnya dalam Grand Desain Pembangunan Kependudukan (GDPK) di daerah.
"Nanti bisa kita cek dan pantau berdasarkan implementasinya," kata dia.
Selain itu, pada kesempatan yang sama, BKKBN juga meluncurkan laporan kependudukan.
"Selama ini kita belum punya laporan kependudukan, padahal selama ini yang membuat strategi kependudukan itu hanya kita (BKKBN). Untuk itu kita coba membuat suatu terobosan baru, minimal sebagai pembuka jalan, kita buat Laporan Kependudukan Indonesia 2023," ujarnya.
Laporan ini jika dilihat memang masih sederhana, belum sampai mendetail dan rinci sampai kedalaman analisis. Tetapi ini adalah langkah awal menuju satu data kependudukan untuk Bangsa Indonesia.
"Dari laporan tersebut, layoutnya sudah menarik, kita dengan cepat bisa menemukan, di daerah ini TFR-nya sekian, di daerah ini pengendalian penduduknya bagaimana. Ke depan kita akan perbaiki dengan mendetailkan, mungkin ada satu boks khusus untuk analisis secara mendalam," ucap dia.
Ia melanjutkan, di tahun 2024, BKKBN juga akan membuat laporan kependudukan level provinsi. Anggaranya sudah ada, dan yang kita bicarakan sekarang kan nasional.
Ke depan, yang laporan provinsi itu bisa nyambung juga ke Siperindu tadi, ada integrasi. Sambil tahun depan dicoba juga integrasi dengan level bawah, yakni rumah data kependudukan.
Ia menuturkan, baik data-data yang ada di Siperindu maupun Kampung Keluarga Berkualitas. Fondasinya dari data yang berasal dari desa dan kelurahan atau rumah data kependudukan.
"Jadi sistem informasi kependudukan yang akan kami bangun dimulai dari Siperindu. Tetapi kami juga punya situs web khusus untuk Kampung KB, ini akan jadi satu paket," katanya.
"Jadi kalau untuk level desa itu kampung keluarga berkualitas, dinaikkan datanya menjadi Siperindu. Dan data mentahnya by name by address itu ada di rumah data kependudukan."
Ia menegaskan, seluruh upaya yang dilakukan untuk pemutakhiran Siperindu dan integrasi dengan laporan kependudukan Indonesia. Ini merupakan langkah menuju satu data kependudukan Indonesia.
"Ke depan juga akan kita buat tabel dinamis, misalnya dari kampus butuh jumlah anak stunting seluruh Indonesia. Atau TFR seluruh Indonesia, bisa diunduh dalam format tabel," kata Bonivasius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....