COGI VR BRIN Kenalkan Teknologi Nuklir Lewat Simulasi Virtual
- 03 Okt 2026 07:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Poltek Nuklir BRIN mengembangkan simulator COGI VR untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap teknologi nuklir secara aman dan interaktif.
- Teknologi nuklir dimanfaatkan dalam berbagai sektor strategis termasuk kesehatan, pertanian, pangan, dan pendidikan.
- Keterbatasan akses terhadap fasilitas nuklir masih menjadi tantangan utama dalam upaya peningkatan pemahaman masyarakat tentang teknologi nuklir.
RRI.CO.ID, Jakarta - Teknologi nuklir kini dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, pertanian, pangan, dan pendidikan. Namun, keterbatasan akses terhadap fasilitas nuklir masih menjadi tantangan dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN mengembangkan COGI VR untuk menjawab tantangan tersebut. Simulator berbasis virtual reality (VR) ini membantu masyarakat mengenal teknologi nuklir secara aman dan interaktif.
COGI VR merupakan replika virtual fasilitas Category I Gamma Irradiator di Laboratorium Dr. Mirzan T. Razzak, Poltek Nuklir, Yogyakarta. Simulator tersebut mengenalkan proses kerja gamma irradiator tanpa mengharuskan pengguna berhadapan langsung dengan peralatan radiasi.
Dosen Poltek Nuklir BRIN, Halim Hamadi, mengatakan pengguna tidak perlu memasuki fasilitas irradiator secara langsung. Perangkat VR tersebut dirancang untuk mengenalkan cara kerja fasilitas sekaligus aspek keselamatannya.
“Simulator membawa pengguna mengikuti tujuh tahapan pembelajaran. Mulai dari memasuki laboratorium, mengikuti pengenalan keselamatan, mengambil sampel,” ujarnya, Kamis, 1 Oktober 2026.
"Masuk ke ruang iradiator, menempatkan sampel, dan mengamati proses iradiasi. Hingga mengambil kembali sampel yang telah diiradiasi."
Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat memahami proses kerja dan prinsip keselamatan irradiator tanpa melakukan pengoperasian secara langsung. Simulator juga dilengkapi video edukasi mengenai proses iradiasi yang berlangsung di dalam fasilitas.
Halim menjelaskan pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi masyarakat. Survei awal terhadap sepuluh responden menunjukkan tujuh orang atau 70 persen tertarik mempelajari teknologi nuklir melalui aplikasi VR.
“Masyarakat dapat melihat secara langsung gambaran fasilitas dan alur proses iradiasi dalam lingkungan virtual. Tanpa harus berhadapan dengan risiko radiasi maupun keterbatasan akses ke fasilitas sebenarnya,” katanya.
Hasil uji coba menunjukkan peningkatan pemahaman peserta setelah menggunakan COGI VR. Penelitian melibatkan sepuluh peserta yang terdiri atas siswa sekolah menengah dan mahasiswa.
Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 30 sebelum menggunakan simulator menjadi 88 setelah mengikuti pembelajaran. Penelitian juga mencatat seluruh 15 skenario pengujian fungsi berhasil dilakukan tanpa kesalahan.
Peningkatan pemahaman juga terlihat pada materi yang berkaitan langsung dengan teknologi nuklir. Pengetahuan mengenai dasar-dasar nuklir dan iradiasi meningkat dari 17,5 menjadi 82,5 persen.
Sementara itu, pemahaman mengenai alur kerja fasilitas dan keselamatan meningkat dari 40 menjadi 92 persen. Halim menilai temuan tersebut menunjukkan potensi COGI VR sebagai media pengenalan teknologi nuklir yang lebih interaktif.
“Pengembangan ini membuka peluang pembelajaran teknologi nuklir yang lebih terbuka dan mudah diakses. Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, tetapi dapat melihat lingkungan laboratorium,” ucapnya.
"Mengenali perangkat pendukung, dan memahami tahapan iradiasi. Sekaligus mendapatkan informasi mengenai keselamatan radiasi melalui pengalaman virtual."
Manfaat tersebut penting karena iradiator gamma menggunakan sumber radiasi beraktivitas tinggi. Akses dan pengoperasiannya harus mengikuti persyaratan keselamatan yang ketat.
COGI VR memungkinkan aspek tersebut diperkenalkan tanpa menempatkan pengguna pada lingkungan radiasi sebenarnya. Teknologi virtual juga dapat menjadi jembatan antara teknologi nuklir yang kompleks dengan kebutuhan informasi masyarakat.
Halim berharap COGI VR dapat dikembangkan dengan fitur lebih dinamis pada tahap berikutnya. Fitur tersebut mencakup simulasi dosis secara waktu nyata, sistem penilaian kinerja pengguna, serta dukungan pelatihan operator.
“Fokus utamanya tetap pada pengenalan teknologi dan peningkatan literasi nuklir masyarakat secara aman, interaktif, dan mudah diakses. Kedepannya, penilaian terkait aplikasi COGI VR perlu dikembangkan dan diperdalam untuk melihat kebutuhan yang lebih dari masyarakat,” ujarnya.
Penelitian berjudul Enhancing public nuclear literacy through virtual reality: Development and pilot evaluation of the COGI VR category I gamma-irradiator simulator dilakukan Halim Hamadi dan sejumlah peneliti lainnya. Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Radiation Physics and Chemistry. Artikel penelitian COGI VR
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....