Peneliti BRIN Kembangkan Sengon Unggul Tahan Kekeringan dan Genangan
- 09 Sep 2026 19:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
Sengon (Falcataria moluccana) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan asli Indonesia, khususnya yang memiliki sebaran alami di wilayah Maluku. Tanaman yang dikenal cepat tumbuh dan serbaguna (multi purpose) ini memiliki nilai ekonomi penting karena banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri perkayuan. Selain itu, sengon juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penghutanan kembali dan memiliki manfaat ekologis karena kemampuannya mengikat nitrogen yang berkontribusi terhadap kesuburan tanah.
Namun, pengembangan sengon masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam penyediaan benih atau bibit unggul yang produktif, berkualitas, serta mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem akibat perubahan iklim. Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan tanaman sengon unggul yang memiliki kemampuan bertahan pada kondisi kekeringan dan genangan melalui pendekatan bioteknologi.
Peneliti Ahli Utama, Prof. Dr. Ir. Enny Sudarmonowati, Pusat Rekayasa Genetika, BRIN menjelaskan bahwa pengembangan sengon unggul tersebut merupakan bagian dari upaya menghasilkan sumber benih yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Tanaman Sengon dan Seminar Kegiatan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Platform Kolaborasi Internasional Pisang, Kamis (3/9/2026), di Gedung BNC, KST Cibinong.
Menurut Enny, penelitian sengon membutuhkan proses yang cukup panjang karena tanaman kehutanan pada umumnya memerlukan waktu lama untuk tumbuh dan menunjukkan karakter unggul. Penelitian yang dilakukan BRIN saat ini melengkapi pemuliaan tanaman secara konvensional yang telah dilakukan sebelumnya dengan pendekatan bioteknologi dan analisis molekuler.
“Saat ini kita dituntut untuk menghasilkan benih unggul yang tahan terhadap perubahan iklim. Karena itu, kami mengembangkan sengon yang tahan kekeringan maupun tahan genangan,” ujar Enny.
Ketahanan terhadap kekeringan menjadi penting untuk mendukung pengembangan sengon pada wilayah yang memiliki keterbatasan air, termasuk lahan marginal di kawasan timur Indonesia. Sementara itu, pada lahan dengan struktur tanah yang memiliki kemampuan menyerap air rendah, tanaman dapat menghadapi persoalan genangan. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk mengembangkan dua karakter utama, yakni sengon yang toleran terhadap kekeringan dan genangan.
Pengembangan sengon unggul tersebut berawal dari sumber daya genetik yang telah dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia. Benih-benih sengon kemudian ditanam dan diamati untuk mendapatkan individu dengan karakter terbaik. Dalam pemuliaan tanaman kehutanan, individu terpilih tersebut dikenal sebagai pohon plus, yaitu pohon yang memiliki karakter unggul berdasarkan kriteria tertentu.
Untuk sengon yang dikembangkan sebagai bahan baku kayu, kriteria pohon plus antara lain memiliki batang yang lurus, batang bebas cabang yang tinggi, diameter batang besar, serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.
“Karena ini untuk kayu, pohon plus itu yang batangnya lurus, batang bebas cabangnya tinggi, diameternya besar, serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit,” jelas Enny.
Pohon-pohon terpilih selanjutnya dikembangkan melalui kultur jaringan. Material tanaman dari berbagai provenance atau asal-usul geografis kemudian dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan karakter unggul yang dapat dikembangkan sebagai sumber benih.
Menurut Enny, sengon menjadi salah satu fokus penelitian karena merupakan sumber daya genetik asli Indonesia. Pengembangannya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas kayu, tetapi juga untuk mengoptimalkan potensi tanaman kehutanan yang berasal dari Indonesia.
Dalam proses penelitian, tim melakukan berbagai perlakuan untuk mengetahui kemampuan tanaman bertahan dalam kondisi kekurangan air maupun genangan. Pengamatan tersebut kemudian diperkuat melalui analisis ekspresi gen untuk mengetahui secara genetika molekuler yang berperan dalam ketahanan tanaman terhadap kekeringan.
“Bedanya, penelitian ini tidak hanya melihat apakah tanaman tahan kekeringan atau tahan genangan, tetapi juga didukung dengan data dan informasi biologis, termasuk ekspresi gen dan gen-gen yang berperan dalam mengatur ketahanan terhadap kekeringan,” ungkap Enny.
Pengembangan sengon unggul tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri. Kayu sengon dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari industri kayu ringan (light wood), chip, furnitur, peti kemas, hingga produk seperti sumpit (chopstick).
Tingginya kebutuhan tersebut membuat ketersediaan bahan baku sengon menjadi tantangan tersendiri. Menurut Enny, kebutuhan kayu sengon untuk pasar dalam negeri saja masih belum sepenuhnya terpenuhi, sementara permintaan untuk kebutuhan ekspor juga cukup besar.
“Pengguna sengon ini banyak sekali. Kebutuhan bahan baku untuk industri, seperti light wood, chip, furnitur ringan, peti kemas, bahkan chopstick, sangat tinggi. Untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kurang, apalagi untuk ekspor,” katanya.
Di sisi lain, pengembangan sengon di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, terutama serangan hama dan penyakit. Gangguan tersebut dapat menurunkan kualitas kayu dan menyebabkan kerusakan pada tanaman, termasuk pada pohon yang telah tumbuh besar dan siap dipanen. Karena itu, penelitian sengon perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya untuk menghasilkan tanaman yang tahan terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga untuk mengidentifikasi karakter unggul lain yang dapat mendukung produktivitas dan kualitas kayu.
Dorong Kolaborasi untuk Perbanyak Benih dan Sebaran Sengon
Enny menekankan pentingnya kolaborasi untuk memastikan hasil penelitian dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam skala yang lebih luas. BRIN memiliki peran dalam menghasilkan inovasi dan sumber daya genetik unggul, sedangkan proses perbanyakan tanaman dan penyediaan benih dalam jumlah besar membutuhkan dukungan mitra yang memiliki kapasitas di bidang perbenihan.
Melalui kerja sama tersebut, hasil penelitian sengon unggul diharapkan dapat dikembangkan menjadi pohon indukan dan selanjutnya menjadi sumber benih berkualitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan kehutanan di berbagai wilayah Indonesia. “BRIN tidak bisa memperbanyak sendiri karena kami juga harus melanjutkan penelitian. Harapannya, hasil sengon unggul yang kami serahkan dapat diperbanyak menjadi pohon indukan dan selanjutnya menjadi sumber benih,” tutur Enny.
Ia menegaskan, penyerahan hasil penelitian kepada mitra bukan berarti proses penelitian telah selesai. Material tanaman yang telah dikembangkan tetap perlu dipantau untuk mengetahui kemungkinan adanya karakter unggul lain yang belum teridentifikasi, termasuk ketahanan terhadap hama dan penyakit maupun karakteristik kayu.
“Ini tidak dilepas begitu saja. Tetap akan kami monitor. Yang sudah kami ketahui saat ini adalah tahan genangan dan tahan kekeringan, tetapi mungkin ada sifat unggul lainnya yang bisa ditemukan, seperti tahan penyakit, tahan hama, atau karakter kayu yang lebih baik,” katanya.
Menurut Enny, kesinambungan antara riset, perbanyakan, dan sertifikasi benih menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor kehutanan. Benih berkualitas diperlukan agar pengembangan sengon dapat dilakukan secara lebih terarah sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kayu nasional. Perlu diperbanyak terlebih dahulu bila akan dijadikan sumber benih berupa kebun benih nasional untuk penyedia benih bersertifikat nasional, namun bila untuk sebagai indukan tetua awal, sudah dapat langsung dimanfaatkan hingga tujuan tertentu.
Ke depan, pengembangan sengon juga berpotensi diarahkan pada pemanfaatan yang lebih terintegrasi melalui pendekatan agroforestri. Pendekatan tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan sengon bersama komoditas lainnya, sekaligus memperluas penerapan hasil riset BRIN di tingkat lapangan.
Dengan demikian, pengembangan sengon unggul tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman yang mampu bertahan terhadap kekeringan dan genangan, tetapi juga membangun fondasi penyediaan sumber benih berkualitas yang dapat mendukung produktivitas kehutanan, kebutuhan industri kayu, serta pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik Indonesia. (sh/ed:ade,jml)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....