Ketika Matahari Punya Peran Rahasia dalam Iklim Bumi

  • 25 Agt 2026 14:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perjalanan heliosfer melewati awan antarbintang dingin kemungkinan memengaruhi iklim purba Bumi.
  • Penyusutan heliosfer dapat membuat Bumi terpapar langsung lingkungan antarbintang yang berbeda.
  • Aktivitas Matahari muda diduga membantu menghangatkan Bumi melalui pembentukan gas rumah kaca.

RRI.CO.ID, Jakarta – Sebanyak dua penelitian yang didanai NASA mengungkap bagaimana sejarah Matahari kemungkinan turut membentuk iklim unik Bumi. Penelitian pertama menunjukkan perjalanan gelembung pelindung tata surya atau heliosfer melewati galaksi dapat memengaruhi kondisi iklim Bumi.

Mengutip NASA, Selasa, 25 Agustus 2026, heliosfer merupakan gelembung pelindung yang terbentuk dari aliran angin Matahari. Aliran tersebut terdiri atas partikel bermuatan yang membantu melindungi tata surya dari lingkungan antarbintang.

Selama 4,6 miliar tahun, heliosfer bergerak mengelilingi pusat Galaksi Bima Sakti dan melewati berbagai wilayah. Pemodelan NASA menunjukkan, Matahari setidaknya tiga kali melewati awan gas dan debu antarbintang yang sangat dingin dalam jutaan tahun terakhir.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar 2 hingga 3 juta, 6 hingga 7 juta, serta 13 hingga 14 juta tahun lalu. Tekanan awan antarbintang yang padat dapat membuat heliosfer menyusut hingga lebih kecil dari orbit Bumi.

Kondisi itu membuat Bumi berada di luar perlindungan heliosfer dan terpapar lingkungan antarbintang yang berbeda. Simulasi menunjukkan paparan tersebut dapat meningkatkan kandungan uap air di atmosfer dan mengubah dinamika atmosfer bagian atas.

Perubahan itu diduga turut memengaruhi kondisi permukaan Bumi dan kemungkinan berkontribusi terhadap perubahan iklim purba, termasuk zaman es. Penelitian kedua menyoroti teka-teki Matahari muda yang jauh lebih redup dibandingkan saat ini.

Sekitar tiga miliar tahun lalu, kecerahan Matahari diperkirakan hanya 70 persen dari kondisi sekarang. Namun, bukti geologi menunjukkan air cair sudah ada di Bumi.

Para peneliti menemukan aktivitas ledakan dahsyat pada Matahari muda kemungkinan menghasilkan partikel berenergi tinggi. Partikel tersebut diduga memicu pembentukan dinitrogen monoksida atau nitrous oxide di atmosfer Bumi purba.

Gas rumah kaca tersebut sekitar 300 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam memerangkap panas. Bahkan jika hanya sebagian kecil gas tersebut bertahan di atmosfer, panasnya diperkirakan cukup untuk menjaga wilayah ekuator Bumi tetap berada di atas titik beku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....