BRIN Siapkan Teknologi Hadapi Karhutla, Deteksi Api hingga Hujan Buatan

  • 24 Agt 2026 23:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BRIN mengembangkan teknologi GEOMIMO berbasis AI dan citra satelit untuk mendeteksi titik api dalam upaya menghadapi karhutla Kalimantan.
  • BRIN mengembangkan Dumakron untuk meningkatkan efisiensi modifikasi cuaca, dengan bahan semai berukuran kecil yang dapat disebarkan menggunakan drone.
  • Teknologi flare juga disiapkan BRIN untuk mendukung modifikasi cuaca, dan saat ini ditawarkan kepada instansi yang memiliki kewenangan terkait.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria angkat bicara terkait upaya menghadapi peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan. Menurutnya karhutla bisa terjadi karena berbagai faktor dan BRIN telah punya teknologi untuk menghadapinya.

"Karhutlah pertama adalah bahwa ini kejadian yang tentu variable-nya sangat banyak. Dan BRIN memiliki sejumlah teknologi (untuk menanggulangi karhutla)," ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Senin, 24 Agustus 2026.

Teknologi pertama yang dimiliki BRIN adalah GEOMIMO (Geoinformatika Multi Input Multi Output). GEOMIMO adalah platform integrasi data citra satelit dan artificial intelligence (AI) yang mampu mendeteksi sumber-sumber titik api.

"Aplikasi berbasis pada AI yang sudah kita kembangkan sudah agak lama. Dan ini sebenarnya sudah diadopsi oleh Kementerian Kehutanan," katanya, menjelaskan.

Kedua, BRIN tengah mengembangkan teknologi yang bisa berguna dalam proses modifikasi cuaca. Ia menegaskan, modifikasi cuaca menjadi upaya yang sangat penting agar hujan buatan bisa tercipta.

Agar lebih efektif, modifikasi cuaca bisa menggunakan Dumakron. Dumakron adalah bahan semai garam bubuk (powder) higroskopis berukuran diameter 2-5 mikron.

"Teknologi yang kita kembangkan salah satunya adalah teknologi tentang Dumakron, bagaimana NaCl yang selama ini digunakan untuk modifikasi cuaca. Jadi Dumakron itu kecil sekali dan itu bisa membuat efisiensi sangat tinggi untuk modifikasi cuaca," ujarnya.

Lantaran ukurannya yang kecil, penyebaran dumakron bisa cukup dilakukan hanya dengan drone. Terbaru, BRIN punya teknologi flare yang juga bisa digunakan untuk proses modifikasi cuaca.

Teknologi flare saat ini tengah ditawarkan BRIN kepada instansi-instansi terkait. Terutama bagi mereka yang langsung menangani modifikasi cuaca.

"Kita juga punya teknologi lain seperti flare. Saat ini juga sedang kita tawarkan ke instansi yang punya otoritas untuk melakukan kegiatan modifikasi cuaca ini," katanya, menegaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....