Mengenal Abbas Ibn Firnas, Pelopor Penerbangan dari Andalusia

  • 19 Agt 2026 23:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Abbas Ibn Firnas adalah ilmuwan Muslim asal Andalusia yang membuktikan manusia bisa terbang melalui percobaan berisiko pada abad ke-9.
  • Penemuan Abbas Ibn Firnas menjadikannya sebagai perintis penerbangan dunia, jauh sebelum pesawat modern ditemukan.
  • Kontribusi ilmuwan Muslim dalam sejarah penerbangan menunjukkan peran penting pemikiran ilmiah Islam pada periode Abad Pertengahan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jauh sebelum pesawat modern menguasai langit, seorang ilmuwan Muslim asal Andalusia telah membuktikan manusia bisa ‘terbang’. Abbas Ibn Firnas menjadi sosok perintis penerbangan dunia lewat percobaannya yang penuh risiko pada abad ke-9.

Melansir dari Dinas Perhubungan Provinsi Aceh, Abbas Ibn Firnas lahir di Ronda, Spanyol, pada tahun 810 Masehi. Ia kemudian menetap di Cordoba yang saat itu menjadi pusat pembelajaran dunia Islam.

Ibn Firnas dikenal sebagai ulama brilian dengan keahlian lintas disiplin, mulai dari astronomi, kedokteran, hingga musik dan puisi. Ia juga merancang jam air, kaca tidak berwarna, dan lensa korektif yang menjadi cikal bakal berbagai penemuan.

Ketertarikannya pada dunia penerbangan dimulai saat melihat Armen Firman yang melompat dari menara menggunakan pakaian sutra berpenguat kayu. Meski gagal terbang, alat tersebut cukup memperlambat jatuhnya sehingga Firman hanya mengalami luka ringan.

Peristiwa itu mendorong Ibn Firnas mendalami ilmu aeronautika hingga akhirnya berhasil menciptakan alat terbangnya sendiri 23 tahun kemudian. Sayap yang ia gunakan terbuat dari kombinasi bulu asli, kayu, dan sutra sebagai bahan utamanya.

Melansir dari Balai Tekkomdik DIY, penerbangan bersejarah tersebut dilakukan Ibn Firnas pada tahun 875 Masehi di Jabal Al-'Arus. Ia bahkan sempat berpamitan kepada warga sebelum melakukan uji coba yang penuh risiko itu.

Dalam percobaan tersebut, Ibn Firnas dilaporkan berhasil melayang di udara selama sekitar sepuluh menit sebelum mengalami masalah ketika mendarat. Kegagalan pendaratan membuatnya menyadari bahwa rancangan tersebut membutuhkan mekanisme pengendalian yang lebih baik.

Setelah percobaan itu, Ibn Firnas menyadari pentingnya ekor untuk membantu menjaga keseimbangan sekaligus memperlambat gerakan ketika melakukan pendaratan. Ia tidak kembali melakukan penerbangan, tetapi gagasannya menjadi bagian dari sejarah awal perkembangan teknologi penerbangan.

Warisan Ibn Firnas kemudian mendapat penghormatan dalam sejarah modern, salah satunya melalui penamaan sebuah kawah Bulan menggunakan namanya. Namanya juga diabadikan di bandara di Baghdad sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusinya.

Kisah Ibn Firnas menunjukkan bahwa keberanian bereksperimen dapat membuka jalan bagi perkembangan pengetahuan, meskipun percobaan pertama belum sempurna. Sosoknya kini dikenang sebagai ilmuwan Andalusia yang berani menantang batas kemampuan manusia dalam menjelajahi udara. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....