Alasan Kecerdasan Buatan Penting untuk Data Satelit Kebencanaan
- 22 Nov 2024 07:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pemanfaatan data satelit dan artifical intelligence (AI) dalam upaya penanganan dan pencegahan bencana di Indonesia. Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Joko Widodo, menggarisbawahi pentingnya data satelit dalam mendukung pemantauan kondisi geospasial.
"Kami punya pengalaman memantau kondisi penurunan tanah di Tangerang, Jakarta, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Semarang, dan Demak. Ini alasan utama,mungkin, kami dapat mengusulkan daerah-daerah itu sebagai proyek percontohan proyek AI," kata Joko. Hal itu dikatakannya dalam Workshop Executive Action Plan on Early Warnings for All (E4WAll) yang diselenggarakan BRIN bersama UN ESCAP di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Menurut Joko, penggunaan AI mampu meningkatkan analisis data untuk mengidentifikasi pola penurunan tanah dan risiko bencana dengan cepat. Simulasi yang dilakukan, menunjukkan bahwa banjir di Jakarta memiliki korelasi erat dengan penurunan tanah.
Maka, Joko menegaskan lokasi menjadi faktor utama dalam penanganan bencana, terutama di wilayah-wilayah rawan seperti pantai utara Jawa, termasuk Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan Demak. "Di daerah ini, kami memiliki pengalaman panjang dalam memantau kondisi penurunan tanah, yang merupakan salah satu penyebab utama banjir," ujar Joko.
Penurunan tanah, terutama di Jakarta dan Pekalongan, mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, dengan angka mencapai 10 sentimeter per tahun. "Kondisi ini memperparah risiko banjir, terutama karena beberapa wilayah seperti Muara Baru di Jakarta telah berada 2,4 meter di bawah permukaan laut," Joko menambahkan.

Rencana Proyek AI untuk Indonesia
Oleh karena itu pihaknya mengusulkan proyek percontohan pemanfaatan AI Float Indonesia untuk wilayah prioritas Jakarta dan pantai utara Jawa, sebagai upaya penanganan penurunan muka tanah dan juga banjir di wilayah pantura. Proyek ini akan menggunakan data satelit resolusi tinggi, analisis berbasis AI, serta kolaborasi antara institusi lokal seperti BRIN, Kementerian PUPR, BNPB, dan pemerintah daerah dengan lembaga internasional seperti UN ESCAP.
Untuk mendukung proyek ini, BRIN juga berencana meluncurkan Satelit Konstelasi Nusantara, yang mencakup empat satelit beresolusi tinggi dan radar aperture sintetis (SAR). Selain itu, program Geoinformatika Multi Input Multi Output (Geo-MIMO) akan digunakan sebagai platform nasional untuk memantau data geospasial secara real-time.
Joko juga menyoroti pengalaman BRIN dalam menggunakan AI untuk proyek-proyek lain, seperti pemantauan daerah kumuh di Bandung dan Makassar. Metode ini memanfaatkan algoritma random forest dan convolutional neural network (CNN) untuk memetakan area secara akurat. "Pengalaman ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan AI di sektor mitigasi bencana," katanya.
Untuk memastikan keberlanjutan, proyek ini direncanakan mendapatkan pendanaan multi-sumber, termasuk dari program riset tahunan BRIN dan kerja sama dengan kementerian terkait. Kolaborasi internasional diharapkan dapat memperluas cakupan proyek dan memperkuat teknologi yang digunakan.
Proyek ini diharapkan tidak hanya mengurangi risiko bencana tetapi juga meningkatkan kapasitas teknologi lokal dan mendorong adopsi teknologi AI secara luas. "Melalui kerja sama ini, kita dapat belajar bersama dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia," Joko memungkasi.
Workshop yang digelar selama tiga hari ini menjadi momen penting untuk memperkuat komitmen terhadap pengembangan teknologi dalam mitigasi bencana, sekaligus menggarisbawahi urgensi tindakan bersama untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana alam. Dalam kesempatan tersebut hadir juga perwakilan dari negara Thailand dan Uzbekiztan yang turut sharing informasi mengenai pemanfaatan data geospasial dan artificial intelligence dalam memitigasi bencana. (jml)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....