Catwalk Batik KBRI Ottawa Tuai Decak Kagum Ratusan Undangan

  • 04 Okt 2026 15:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peragaan batik yang diselenggarakan KBRI Ottawa menampilkan 12 kain pusaka dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Cirebon, Lasem, Madura, hingga Papua.
  • Kegiatan sekaligus memperingati 17 tahun pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

RRI.CO.ID, Ottawa – Kedutaan Besar RI (KBRI) Ottawa memperkenalkan kekayaan batik Indonesia melalui peragaan busana pada Jumat, 2 Oktober 2026. Sekitar 150 undangan hadir menyaksikan beragam batik Nusantara pada peringatan Hari Batik Nasional.

Kegiatan bertema "Batik: From Indonesia to the World" digelar di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada. Acara tersebut sekaligus memperingati 17 tahun pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai "Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan".

Alunan gamelan Jawa menyambut para tamu yang sebagian hadir dengan mengenakan pakaian batik. Suasana semakin meriah melalui penampilan Indonesia Canadian Angklung Society (ICAS) yang membawakan dua lagu.

Salah satu lagu yang dibawakan adalah "It’s Now or Never" yang dipopulerkan Elvis Presley. Rangkaian acarakemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek mengenai batik produksi KBRI Ottawa.

Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, mengatakan batik memiliki akar yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Menurut dia, batik telah diwariskan selama berabad-abad melalui teknik penggunaan malam dan pewarnaan.

“Izinkan saya menyampaikannya secara lugas: Batik adalah Indonesia. Indonesia dalam namanya, yang berasal dari bahasa Jawa,” ujarnya, dikutip Minggu, 4 Oktober 2026.

Muhsin mengatakan batik bukan sekadar benda museum karena selalu hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut dia, batik menyertai berbagai momen kehidupan, mulai kelahiran dan pernikahan hingga perpisahan.

Kehadiran batik juga terlihat dalam keseharian masyarakat, baik di sekolah, kantor, maupun ruang pemerintahan. Selain memiliki nilai budaya, batik menopang penghidupan hampir 200 ribu warga Indonesia.

Batik juga menjadi bagian dari diplomasi Indonesia dalam membangun kedekatan dengan negara lain. Muhsin mengingatkan sejumlah pemimpin Kanada pernah mengenakan batik ketika menghadiri pertemuan internasional di Indonesia.

Jean Chrétien mengenakan batik bersama para pemimpin Asia-Pasifik pada KTT APEC di Bogor 1994. Justin Trudeau juga mengenakannya saat menghadiri KTT ASEAN di Jakarta pada 2023.

“Setiap kali, batik menyampaikan sesuatu yang tak mampu diungkapkan komunike mana pun. Persahabatan dapat dikenakan, tidak hanya dituliskan,” katanya.

Muhsin kemudian mengaitkan filosofi batik dengan hubungan diplomatik Indonesia-Kanada yang memasuki usia 75 tahun pada 2027. Menurut dia, hubungan yang langgeng membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan komitmen dari kedua negara.

“Hal-hal yang langgeng dibuat titik demi titik, garis demi garis. Dengan kesabaran, ketelitian, dan komitmen dari kedua belah pihak,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan Anggota Parlemen Kanada Sameer Zuberi yang hadir sebagai tamu kehormatan. Menurut dia, batik dapat memperdalam pemahaman masyarakat Kanada terhadap Indonesia dan kekayaan budayanya.

“Batik adalah pintu yang indah untuk mengenal Indonesia. Indonesia juga merupakan bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut Zuberi, pemahaman antarmasyarakat semakin penting seiring menguatnya hubungan kedua negara. Ini juga diperkuat dengan ICA-CEPA yang ditandatangani di Ottawa pada 24 September 2025.

“ICA-CEPA membuka babak baru kemitraan kita. Perayaan budaya seperti ini memastikan kemitraan tersebut berakar pada saling pengertian antarmasyarakat,” katanya.

Kekaguman terhadap batik juga disampaikan Helena Skarcic, istri Duta Besar Kroasia untuk Kanada. Dia mengaku baru mengetahui proses pembuatan batik dan terkesan dengan penggunaannya dalam berbagai kesempatan.

“Sebelumnya saya tidak tahu bagaimana batik dibuat dan saya sungguh kagum. Saya sangat terkesan melihat anak-anak begitu gembira,” ucapnya.

Setelah rangkaian sambutan, acara berlanjut dengan peragaan busana bertajuk "The Ageless Runway: Batik Across Generations". Kegiatan ini dibuka dengan tari kontemporer yang dibawakan keluarga besar KBRI Ottawa bersama diaspora Indonesia.

Peragaan kemudian memasuki sesi "The Living Museum: Timeless Artifact" dengan menghadirkan 12 kain pusaka. Koleksi tersebut ditampilkan dalam tiga babak yang menggambarkan kekayaan batik dari berbagai daerah Indonesia.

Babak pertama menampilkan batik dari keraton Yogyakarta dan Surakarta melalui sejumlah motif klasik. Motifnya meliputi Udan Liris, Parang Rusak Klitik, Semen Sawat/Gurda, Sidomukti, dan Peksi Kurung.

Babak kedua berlanjut ke Banyumas melalui motif Jahean, Semen Sawat polikrom, dan Burung Hong. Koleksi tersebut menggambarkan perjumpaan batik dengan pengaruh budaya Eropa dan Tionghoa.

Sementara, babak terakhir menghadirkan beragam batik dari kawasan pesisir hingga wilayah Indonesia lainnya. Koleksinya mencakup Mega Mendung Cirebon, Lunglungan Lasem, Gentongan Tanjung Bumi Madura, hingga corak Asmat Papua.

Setelah kain pusaka, peragaan dilanjutkan dengan busana batik keseharian yang dikenakan tiga kelompok lintas generasi. Anak-anak, remaja, dan perempuan tampil memperlihatkan batik tetap dapat dikenakan dalam berbagai usia dan kesempatan.

Peragaan tersebut menutup rangkaian peringatan Hari Batik Nasional yang digelar KBRI Ottawa. Melalui kegiatan ini, batik diperkenalkan sebagai warisan Indonesia yang terus dikenakan, dipahami, dan diteruskan lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....