Pendanaan Menipis, Bantuan Kemanusiaan untuk Sudan Terancam Dikurangi

  • 15 Sep 2026 13:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sejumlah badan bantuan PBB mengatakan, mereka mungkin terpaksa mengurangi bantuan kemanusiaan di Sudan akibat kekurangan pendanaan.
  • Pelaksana Tugas Direktur World Food Program (WFP) Carl Skau mengatakan bahwa krisis di Sudan jauh dari mendapatkan perhatian yang layak.
  • Sudan telah dilanda konflik sipil yang brutal sejak 2023 antara kelompok militer yang saling bersaing beserta para pendukungnya.

RRI.CO.ID, New York - Sejumlah badan bantuan PBB mengatakan, mereka mungkin terpaksa mengurangi bantuan kemanusiaan di Sudan akibat kekurangan pendanaan. Hal itu disampaikan pada Senin, 14 September 2026, soal pendanaan untuk Sudan yang mengalami krisis kelapangan dan pengungsian terburuk di dunia.

“Kita sama sekali tidak bisa berpaling dari rakyat Sudan ketika mereka paling membutuhkan kita. Seluruh sistem kemanusiaan dapat runtuh dalam hitungan minggu jika kita tidak bertindak sekarang,” kata Direktur Jenderal badan migrasi PBB (IOM), Amy Pope, dilansir UN News, Selasa, 15 September 2026.

Sementara, Pelaksana Tugas Direktur World Food Program (WFP) Carl Skau mengatakan bahwa krisis di Sudan jauh dari mendapatkan perhatian yang layak. Skau sendiri telah melakukan perjalanan selama delapan hari ke Sudan pada bulan ini.

Ia menambahkan WFP memiliki keberadaan dan kapasitas untuk memberikan respons kemanusiaan yang efektif, tetapi sebagian besar terk adalah pendanaan. Ada risiko kami harus mengurangi bantuan secara signifikan dalam beberapa minggu ke depan kecuali pendanaan tambahan tersediaendala oleh pendanaan.

“Adalah mungkin untuk membawa perubahan, masalah utama kami adalah pendanaan. Ada risiko kami harus mengurangi bantuan secara signifikan dalam beberapa minggu ke depan kecuali pendanaan tambahan tersedia,” ujar Skau menambahkan.

Sementara itu, WFP menjangkau 4 hingga 5 juta orang di Sudan setiap bulan dengan bantuan kemanusiaan, termasuk dukungan pertanian serta bantuan tunai dan pangan. Di tengah berbagai tantangan akses melalui jalur darat, Skau mengatakan bahwa WFP baru-baru ini memperluas layanan bantuan kemanusiaannya di Sudan.

Dengan tambahan pendanaan kemanusiaan, PBB dan para mitranya dapat memperluas layanan melalui udara dan menjangkau lebih banyak warga sipil yang membutuhkan. “Kita perlu meningkatkan upaya, kita tidak bisa terus mengecewakan orang-orang ini,” katanya.

Sistem Common Humanitarian Pipeline yang dikelola International Organization for Migration (IOM) dan memungkinkan lebih dari 100 mitra untuk menyalurkan bantuan telah menjangkau 2,84 juta orang sejak Juli 2023. Namun, jangkauannya menyusut setiap tahun akibat menurunnya donasi, sementara krisis-krisis lain mendominasi perhatian dunia.

IOM memperingatkan persediaan tempat tinggal, fasilitas sanitasi, serta barang-barang bantuan darurat untuk rumah tangga yang tersedia saat ini akan habis pada akhir September. Sementara itu, gudang-gudang bantuan akan ditutup tanpa pendanaan tambahan paling lambat pada Desember.

Sudan telah dilanda konflik sipil yang brutal sejak 2023 antara kelompok militer yang saling bersaing beserta para pendukungnya. Sekitar 8,6 juta orang masih mengungsi di dalam negeri.

Sementara 19,5 juta orang saat ini menghadapi tingkat kerawanan pangan yang sudah mencapai tahap krisis. Kondisi ini diperparah oleh gangguan transportasi laut dan kekeringan yang disebabkan oleh pola cuaca El Niño.

Memasuki tahun keempat, perang antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) terus membahayakan warga sipil. Termasuk, memaksa orang-orang meninggalkan rumah mereka, menurut kantor bantuan PBB (OCHA).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....