Sekjen ASEAN Tekankan Dialog dan Diplomasi Hadapi Persaingan Geopolitik

  • 14 Sep 2026 14:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekjen ASEAN menekankan dialog dan diplomasi sebagai instrumen utama menghadapi persaingan geopolitik.
  • ASEAN diminta menjaga koherensi dan relevansi arsitektur regional di tengah meningkatnya kompleksitas kawasan.
  • ASEAN Think Tanks Summit diharapkan mendukung refleksi dan pembaruan kebijakan ASEAN menuju usia 60 tahun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menekankan pentingnya dialog dan diplomasi menghadapi persaingan geopolitik yang semakin intensif. Menurutnya, kedua pendekatan tersebut harus menjadi instrumen utama ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Di tengah persaingan geopolitik yang semakin intensif, ASEAN harus terus berinvestasi dalam dialog dan diplomasi. Ini sebagai instrumen pilihan pertama,” ujarnya dalam acara ASEAN Think Tanks Summit ke-3 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Kao mengatakan, ASEAN memiliki dasar kuat untuk mengedepankan dialog dan diplomasi melalui Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC). Traktat tersebut kini memasuki usia 50 tahun dan tetap menjadi landasan hubungan damai antarnegara.

Menurutnya, TAC mencerminkan prinsip fundamental dalam membangun hubungan damai sekaligus menolak penggunaan kekuatan di kawasan Asia Tenggara. Prinsip tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik yang terus berubah.

Pandangan ASEAN mengenai Indo-Pasifik atau ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) juga memperluas pendekatan tersebut. AOIP menjadi landasan keterlibatan ASEAN dengan kawasan yang lebih luas dengan tetap mengedepankan sentralitas ASEAN.

Kao menilai ASEAN telah memiliki berbagai mekanisme untuk mengutamakan dialog dan diplomasi dalam menghadapi persoalan kawasan. Namun, mekanisme tersebut perlu terus disesuaikan agar tetap relevan dengan perubahan lanskap regional.

Menurutnya, persaingan geopolitik yang semakin tajam diikuti dengan kemunculan berbagai institusi dan inisiatif baru. Kondisi tersebut menjadi tantangan agar arsitektur regional tidak semakin terfragmentasi.

“Bagi ASEAN, pertanyaannya adalah bagaimana memastikan arsitektur regional yang semakin kompleks ini tidak menjadi begitu terfragmentasi. Sehingga proses-proses yang dipimpin ASEAN kehilangan koherensi, relevansi, atau kemampuan untuk mempertemukan berbagai pihak,” ucapnya.

Menjelang peringatan 60 tahun ASEAN pada 2027, Kao mengajak negara anggota mengevaluasi pola kerja sama yang selama ini diterapkan. Evaluasi diperlukan untuk memastikan asumsi, institusi, dan mekanisme yang ada tetap sesuai dengan lingkungan strategis saat ini.

Ia berharap ASEAN Think Tanks Summit menjadi bagian dari proses refleksi dan pembaruan ASEAN menjelang usia organisasi ke-60. Forum tersebut diharapkan menyediakan ruang intelektual untuk menguji berbagai asumsi dan merumuskan rekomendasi bagi proses kebijakan ASEAN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....