Pemerintah Nepal Minta Meta dan TikTok Hapus Konten Palsu Terkait Banjir

  • 30 Agt 2026 15:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok menghapus konten palsu terkait bencana banjir yang beredar di media sosial.
  • Konten bermasalah mencakup video AI, rekaman lama, gambar grafis, hingga QR donasi palsu.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok menghapus konten bermasalah terkait bencana banjir yang melanda negara tersebut. Ini mencakup gambar korban, video buatan AI, hingga kode QR donasi palsu.

Permintaan tersebut disampaikan pada pertemuan antara pemerintah dan perwakilan kedua platform media sosial itu di Nepal. Pemerintah Nepal menginginkan penanganan lebih cepat terhadap konten yang dapat menyesatkan masyarakat dan mengganggu proses bantuan.

Mengutip The Kathmandu Post, Pemerintah Nepal juga meminta Meta dan TikTok segera menghapus konten menyesatkan setelah dilaporkan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kepanikan dan tekanan tambahan bagi keluarga korban.

Koordinator satuan tugas untuk pengelolaan media sosial, Bijay Kumar Roy, langsung bertemu perwakilan kedua platform tersebut. “Kami meminta mereka meningkatkan respons terhadap laporan konten yang dianggap bermasalah,” ujarnya, Sabtu 29 Agustus 2026.

Pemerintah Nepal juga mendorong Meta dan TikTok memperkuat sistem algoritma mereka. Tujuannya untuk lebih cepat mendeteksi dan memblokir konten palsu maupun gambar yang mengandung unsur kekerasan.

Otoritas menemukan sejumlah rekaman lama kembali disebarkan seolah-olah berasal dari bencana terbaru. Selain itu terdapat video dan gambar buatan AI yang diklaim sebagai dokumentasi asli.

Kode QR palsu untuk menggalang donasi bagi korban banjir juga ditemukan beredar di media sosial. Pemerintah Nepal menilai konten tersebut berpotensi merugikan masyarakat dan menghambat penyaluran bantuan.

Meta dan TikTok dikabarkan membutuhkan waktu sekitar 24 hingga 48 jam untuk menanggapinya. Namun, waktu respons itu dinilai terlalu lama untuk menangani konten bermasalah dalam situasi bencana.

Pemerintah Nepal kemudian meminta kedua platform mempercepat proses penanganan laporan masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat membatasi penyebaran informasi palsu selama proses pencarian dan penyelamatan.

Permintaan itu disampaikan ketika jumlah korban meninggal di Nepal dan Tiongkok mencapai 543 orang. Kemudian 1.281 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 856 warga negara asing.

Banjir bandang dan longsor melanda wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026 . Bencana tersebut menerjang permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli.

Sejumlah rumah, jembatan, dan ruas jalan di wilayah terdampak mengalami rusak parah bahkan sampai hancur. Kondisi tersebut juga menyulitkan akses menuju lokasi untuk keperluan pencarian dan bantuan.

Di wilayah Tiongkok, material lumpur dan puing menerjang Pelabuhan Gyirong di Kabupaten Gyirong. Bencana tersebut memutus akses jalan serta jaringan komunikasi dan listrik.

Ratusan warga, pekerja konstruksi, dan wisatawan di sana telah dievakuasi. Mereka dipindahkan menuju lokasi yang lebih aman selama operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....