Korban Meninggal Banjir Nepal dan Tibet Capai 673 Orang

  • 30 Agt 2026 14:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebanyak 673 jenazah telah ditemukan dalam bencana banjir di wilayah Nepal-Tibet.
  • Hampir 3.000 orang masih hilang, termasuk 517 warga negara asing di wilayah Nepal.
  • Operasi pencarian kembali dilanjutkan setelah risiko banjir glasial susulan dinilai masih terkendali.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tim penyelamat kembali melanjutkan pencarian korban banjir di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Operasi sempat dihentikan karena kekhawatiran munculnya banjir glasial susulan.

Otoritas Manajemen Bencana Nasional Nepal melaporkan 673 jenazah telah ditemukan hingga Sabtu, 29 Agustus 2026. Sementara itu, jumlah orang yang masih hilang di wilayah Nepal mencapai 2.496 orang, melansir data dari Aljazeera.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 517 orang merupakan warga negara asing. Mereka diduga terdiri dari wisatawan maupun pekerja asing yang berada di kawasan terdampak.

Di sisi Tibet, otoritas Tiongkok melaporkan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia. Sebanyak 554 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.

Pemerintah Nepal telah meminta bantuan tenaga khusus dari India dan Tiongkok untuk memperkuat operasi pencarian. Tim tersebut mencakup personel dengan kemampuan penyelamatan di area terowongan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal menyebut bantuan tersebut dibutuhkan karena situasi sangat mendesak. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan keselamatan warga yang masih berada di wilayah terdampak.

Bencana bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika bagian gletser runtuh di kawasan Himalaya. Material es, batu, dan puing kemudian jatuh menuju Sungai Lende dan memicu aliran deras.

Banjir tersebut bergerak ke sejumlah distrik Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading. Ketinggian Sungai Trishuli bahkan meningkat sekitar sembilan meter dalam waktu 30 menit.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sebelumnya menduga gempa menjadi pemicu runtuhnya gletser. Namun, hasil kajian terbaru menyebut sinyal seismik berasal dari longsoran material.

Sebuah danau baru terbentuk di lokasi runtuhnya gletser setelah bencana terjadi. Kondisi tersebut sempat membuat operasi pencarian dihentikan karena dikhawatirkan memicu banjir glasial susulan.

Operasi pencarian kini kembali dilanjutkan setelah risiko danau dinilai masih dapat dikendalikan. Namun, ilmuwan memperingatkan tanggul alami yang menahan danau tersebut sangat tidak stabil.

Bantuan internasional telah berdatangan untuk mendukung penanganan bencana tersebut. Bantuan antara lain berasal dari India, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Pemerintah memperkirakan jumlah korban meninggal masih dapat bertambah. Tim penyelamat terus berupaya menjangkau wilayah yang terisolasi akibat lumpur dan kerusakan jalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....