Kerja Sama dengan Venezuela, Trump Mampu Gandakan Cadangan Minyak AS

  • 29 Agt 2026 12:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim melipatgandakan cadangan minyak Amerika melalui kesepakatan besar dengan Venezuela
  • Kesepakatan itu memberikan Washington kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel minyak mentah Venezuela
  • Kesepakatan ini merupakan perluasan terbaru dari kendali AS atas kekayaan minyak Venezuela yang melimpah, menyusul operasi militer pada 3 Januari yang menangkap Maduro dan membawanya ke AS untuk menghadapi dakwaan federal

RRI.CO.ID, Washinton - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim melipatgandakan cadangan minyak Amerika melalui kesepakatan besar dengan Venezuela. Kesepakatan itu memberikan Washington kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel minyak mentah Venezuela.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah bekerja sama dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, serta pihak swasta untuk mengamankan "kendali mayoritas AS" atas cadangan tersebut "tanpa biaya bagi pembayar pajak Amerika," demikian diumumkan Trump di Truth Social pada hari Jumat.

"Amerika Serikat baru saja menjalin Kesepakatan dengan Negara Venezuela mengenai KESEPAKATAN MINYAK TERBESAR DALAM SEJARAH DUNIA!" tegas presiden AS tersebut.

Trump mengklaim transaksi itu "MELIPATGANDAKAN Cadangan Minyak Amerika." Data terbaru dari Badan Informasi Energi (EIA) AS mencatat cadangan minyak mentah dan kondensat yang terbukti milik Amerika berada di angka sekitar 46 miliar barel.

Penambahan 65 miliar barel minyak Venezuela akan menjadikan total volume yang berada di bawah kendali AS (dalam bentuk tertentu) lebih dari 111 miliar barel, meskipun secara teknis minyak mentah tersebut tidak akan menjadi bagian dari cadangan domestik AS.

Rubio menyebut kesepakatan ini sebagai "kemenangan besar," seraya mengatakan hal itu akan mendatangkan investasi swasta senilai hampir USD100 miliar ke Venezuela, mendukung ribuan lapangan kerja, dan membantu menurunkan harga bensin di AS.

Rodriguez kemudian mengonfirmasi kesepakatan tersebut, dengan mengatakan kesepakatan itu mencakup 17 ladang minyak strategis yang memiliki potensi terbukti sebesar 65 miliar barel serta memproyeksikan investasi lebih dari USD100 miliar dan pendapatan pajak lebih dari USD209 miliar bagi Venezuela.

Ia mengatakan ladang-ladang tersebut akan dikembangkan dengan partisipasi operator swasta, namun struktur kepemilikan yang pasti masih belum jelas. Laporan sebelumnya mengindikasikan Washington mengupayakan hak pengembangan untuk jangka waktu satu abad.

Kesepakatan ini merupakan perluasan terbaru dari kendali AS atas kekayaan minyak Venezuela yang melimpah, menyusul operasi militer pada 3 Januari yang menangkap Maduro dan membawanya ke AS untuk menghadapi dakwaan federal.

Setelah operasi tersebut, Trump menyatakan Washington akan "mengelola" Venezuela sembari mengawasi transisi politik, serta membuka kemungkinan tindakan militer lebih lanjut jika kepemimpinan sementara gagal bekerja sama.

Washington kemudian mengambil langkah untuk menguasai penjualan dan pendapatan minyak Venezuela untuk jangka waktu "tak terbatas," sementara Trump memerintahkan agar hasil penjualan minyak mentah Venezuela disimpan dalam rekening Departemen Keuangan AS dan tunduk pada pembatasan AS.

Kesepakatan tersebut menuai kritik tajam terkait kedaulatan Venezuela, bahkan dari sejumlah pihak oposisi yang pro-Barat.

Ricardo Hausmann, mantan menteri perencanaan Venezuela, menyebut kesepakatan itu "inkonstitusional" dengan argumen Rodriguez memimpin pemerintahan sementara yang tidak sah dan tidak memiliki wewenang untuk menyerahkan kendali jangka panjang atas sumber daya minyak negara tersebut.

Sementara itu, mantan wakil presiden sekaligus tokoh senior Chavista, Elias Jaua, baru-baru ini menuduh Washington—dalam konteks yang lebih luas—telah merampas kedaulatan Venezuela dan mengambil alih kendali atas sumber daya alamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....