Iran: Kapal Militer Tidak Diizinkan Melintasi Selat Hormuz

  • 28 Agt 2026 13:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran dan Oman sedang menegosiasikan kesepakatan untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang sangat penting bagi perdagangan maritim global.
  • Iran menegaskan bahwa kapal militer tidak akan diizinkan melintas melalui Selat Hormuz, sebuah kebijakan yang mencerminkan ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.
  • Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menjelaskan bahwa kapal komersial akan menggunakan rute khusus melalui perairan Iran dan Oman untuk akses ke Teluk Persia.

RRI.CO.ID, Teheran - Iran dan Oman sedang menegosiasikan kesepakatan untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz di tengah ketegangan di Timur Tengah. Iran menyatakan kapal militer tidak diizinkan melintas melalui jalur perairan strategis tersebut, dilansir AP News, Jumat, 28 Agustus 2026.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kapal komersial yang menuju Teluk Persia akan menggunakan rute melalui perairan Iran. Sementara itu, kapal yang keluar dari Teluk Persia akan melewati sebagian perairan Iran dan Oman.

Rute tersebut akan diberlakukan sementara sambil menunggu kesepakatan permanen antara kedua negara. Iran dan Oman berencana membahas pengaturan permanen dalam waktu 30 hingga 60 hari.

Namun, Amerika Serikat menentang sejumlah bagian dari kesepakatan yang sedang dinegosiasikan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengancam Oman jika dianggap menghalangi kepentingan Washington.

Di tengah perkembangan tersebut, Qatar juga akan membahas kebebasan navigasi di Selat Hormuz dengan pemerintah Iran. Doha menyerukan agar kondisi pelayaran dikembalikan seperti sebelum perang Iran.

Di bidang ekonomi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam ancaman sanksi baru Amerika Serikat. Dalam surat kepada PBB, Araghchi menilai kebijakan Washington dapat mengancam akses warga Iran terhadap berbagai kebutuhan dasar.

Kebutuhan tersebut mencakup makanan, obat-obatan, peralatan medis, energi, dan kebutuhan lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih berdampak luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....