Korban Banjir di Perbatasan Nepal-China: 270 Meninggal, 1.300 Hilang
- 27 Agt 2026 20:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Banjir bandang yang dipicu longsoran es gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan China.
- Hingga hari ini, Kamis 27 Agustus 2026 sore, sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia.
- Sementara itu, Otoritas Nepal mencatat jumlah orang hilang di Nepal dan China telah melampaui 1.300 orang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Banjir bandang yang dipicu longsoran es gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan China. Hingga hari ini, Kamis 27 Agustus 2026 sore, sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia.
Sementara itu, jumlah korban hilang terus bertambah. Otoritas Nepal mencatat sebanyak 826 orang masih dinyatakan hilang.
Mereka terdiri atas warga Nepal maupun wisatawan asing yang berada di wilayah terdampak. Secara keseluruhan, jumlah orang hilang di Nepal dan China telah melampaui 1.300 orang.
Berdasarkan laporan kantor berita dpa, sebanyak 558 orang di wilayah China juga masih belum ditemukan. Para ahli menyebut bencana tersebut kemungkinan besar dipicu longsoran es dan salju dari gletser di kawasan Himalaya yang terdampak peningkatan suhu akibat perubahan iklim.
Rekaman drone memperlihatkan kerusakan parah di kawasan terdampak. Sejumlah jalan utama hancur, sementara bangunan tertimbun lumpur tebal yang menyerupai semen basah.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan masih terdapat kemungkinan jumlah korban jiwa bertambah secara signifikan.
Lembah-lembah terjal di kawasan Himalaya menjadi jalur utama aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Namun, wilayah tersebut juga memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.
Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan lumpur menutupi hingga lantai dua bangunan di Distrik Nuwakot, Nepal.
Puing-puing tersangkut di dahan pohon dan kabel listrik, sementara sejumlah kendaraan terkubur material longsoran. Para penyintas terlihat berlumuran lumpur setelah banjir menerjang kawasan permukiman.
Seorang warga setempat, Shoyam Rajbhandari, mengatakan warga hampir tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Sehingga banyak korban berjatuhan.
"Ketika saya tiba di pasar Dhunge, dalam waktu setengah jam, banjir datang dan merusak seluruh pasar. Saat itu, orang-orang sedang bersiap untuk pergi ke kantor," kata Rajbhandari kepada AP, dikutip Kamis 27 Agustus 2026.
"Berapa banyak orang yang hilang atau tewas, kami tidak tahu," ujarnya. Bencana tersebut terjadi bertepatan dengan persiapan perayaan festival lokal Janai Purnima pada Jumat.
Meski musim monsun dianggap kurang ideal untuk aktivitas luar ruang, periode tersebut justru menjadi salah satu masa ramai perjalanan menuju Gunung Kailash melalui Distrik Rasuwa. Pada Rabu (26/8), pejabat Nepal menyebut sebanyak 403 orang, termasuk 341 warga negara asing, dilaporkan hilang.
Juru bicara badan pariwisata setempat, Sunil Sharma, mengatakan sebanyak 133 warga India berada dalam daftar orang hilang. Mereka diketahui tengah melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet, yang merupakan situs suci bagi umat Hindu.
Selain warga India, terdapat 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada yang juga dilaporkan hilang. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tengah memantau kondisi warga negaranya yang terdampak bencana.
Sharma juga menyebut sedikitnya 62 warga Nepal yang hilang sedang melakukan pendakian di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa. Distrik tersebut berbatasan langsung dengan Gyirong, Tibet, dan menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan kepada AP bahwa sedikitnya 28 personel kepolisian juga masuk dalam daftar orang hilang. Pemerintah Nepal telah memperingatkan warga di sejumlah distrik untuk menjauh dari bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani.
Arus banjir dilaporkan menghancurkan sedikitnya 19 jembatan dan merusak hampir 40 kilometer jalan raya. Sungai Bhotekoshi mulai meluap sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada Rabu. Air bah kemudian menghancurkan sejumlah desa serta proyek pembangkit listrik tenaga air.
"Kami telah meminta bantuan dari India maupun China untuk operasi penyelamatan," kata juru bicara pemerintah Nepal, Sasmit Pokharel. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sempat melaporkan gempa bumi bermagnitudo 4,4 pada Rabu dini hari, sekitar 66 kilometer di utara Kathmandu.
Namun, analisis tersebut kemudian direvisi. Aktivitas seismik yang terdeteksi ternyata berkaitan dengan longsoran gletser dalam skala besar.
Peristiwa tersebut menghasilkan guncangan yang setara dengan gempa bermagnitudo 5,2 dan melepaskan material dalam jumlah besar ke wilayah hilir hingga menghancurkan permukiman.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada data stasiun seismik terdekat serta citra satelit yang menunjukkan tidak adanya aktivitas tektonik murni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....