Gelar Pertemuan 2+2 di Melbourne, Menlu Sugiono Sebut Pentingnya Jaga Stabilitas

  • 27 Agt 2026 08:03 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia dan Australia menyelenggarakan Pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (2+2) ke-10 di Commonwealth Parliament Offices, Melbourne, Australia, Rabu, 26 Agustus.
  • Menlu Australia, Penny Wong, menekankan bahwa Treaty on Common Security membawa hubungan Indonesia–Australia ke tingkat yang lebih tinggi.
  • Pertemuan 2+2 menjadi momentum untuk mendorong kemitraan kedua negara yang semakin konkret dan memberikan manfaat bagi Indonesia dan Australia.

RRI.CO.ID, Melbourne - Indonesia dan Australia menyelenggarakan Pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (2+2) ke-10 di Commonwealth Parliament Offices, Melbourne, Australia, Rabu, 26 Agustus. Pertemuan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, bersama Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, serta Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles.

Dalam pertemuan, para Menteri menegaskan pentingnya terus memperkuat kemitraan Indonesia-Australia sebagai negara bertetangga dekat dan sesama negara maritim. Indonesia dan Australia memiliki kepentingan bersama untuk menjaga kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera, kedekatan geografis kedua negara menjadi landasan penting untuk terus membangun kepercayaan dan menghadirkan manfaat nyata bagi kedua negara.

“Indonesia dan Australia adalah tetangga yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Karena itu, kita perlu terus membangun kerja sama yang semakin kuat, tidak hanya untuk kepentingan kita hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” ujar Menlu Sugiono.

Menlu Australia, Penny Wong, menekankan bahwa Treaty on Common Security membawa hubungan Indonesia–Australia ke tingkat yang lebih tinggi. Sementara itu, Menhan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles, menekankan pentingnya kedua negara bekerja bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Lebih lanjut, Menlu Sugiono menyampaikan pentingnya memastikan Plan of Action (PoA) dari Comprehensive Strategic Partnership. Yaitu, menjadi peta jalan yang efektif untuk menerjemahkan kemitraan strategis ke dalam kerja sama yang lebih konkret.

Di bidang ekonomi, Indonesia menegaskan pentingnya untuk terus meningkatkan neraca perdagangan dan mengatasi hambatan perdagangan, termasuk melalui implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang efektif. “Kerja sama ekonomi perlu kita fokuskan pada penguatan rantai pasok yang andal bagi ketahanan pangan dan energi kedua negara dan kawasan,” ujar Menlu Sugiono.

Dalam pembahasan mengenai tantangan kawasan, Menlu Sugiono menyampaikan gagasan Partnership for Regional Resilience (PRR) sebagai kerangka kemitraan Indonesia–Australia untuk memperkuat ketahanan kawasan dalam menghadapi berbagai tantangan. Konsep ini mencakup kerja sama di berbagai sektor, termasuk ketahanan pangan dan energi, tanpa membentuk aliansi atau blok baru.

Pertemuan juga menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman mengenai Kerja Sama Trilateral antara Indonesia dan Australia dengan negara-negara Pasifik oleh Menlu Sugiono dan Menlu Penny Wong. Nota Kesepahaman tersebut akan menjadi landasan bagi Indonesia dan Australia untuk mengembangkan kerja sama pembangunan bersama negara-negara Pasifik, dengan memperhatikan kebutuhan dan prioritas masing-masing mitra.

Sebelum memulai Pertemuan 2+2, Menlu Sugiono dan Menlu Penny Wong telah melakukan pertemuan one-on-one untuk membahas perkembangan hubungan bilateral dan tindak lanjut berbagai agenda kerja sama kedua negara. Menlu Sugiono juga menghadiri Foreign Ministers’ Sports Diplomacy Engagement di Melbourne Cricket Ground dan berkesempatan berbincang dalam bahasa Indonesia dengan kapten Collingwood Football Club, Darcy Moore dan siswa-siswi Brunswick North West Primary School sebagai salah satu upaya mempromosikan Bahasa Indonesia.

Pertemuan 2+2 merupakan forum strategis bagi Indonesia dan Australia untuk membahas perkembangan hubungan bilateral serta prioritas kebijakan luar negeri, pertahanan, dan keamanan yang menjadi perhatian bersama. Pertemuan tahun ini menjadi momentum penting sebagai pertemuan 2+2 pertama setelah penandatanganan Treaty on Common Security oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Jakarta pada 6 Februari 2026.

Rangkaian kegiatan di Melbourne juga menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Australia tidak hanya semakin erat pada tingkat pemerintah, tetapi juga terus berkembang melalui hubungan antarmasyarakat. Pertemuan 2+2 menjadi momentum untuk mendorong kemitraan kedua negara yang semakin konkret dan memberikan manfaat bagi Indonesia dan Australia, sekaligus berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, kemakmuran dan ketahanan kawasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....