PBB: Kelaparan Sudan dan Gaza Jadi “Tonggak Memalukan”

  • 26 Agt 2026 15:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut kelaparan di Sudan dan Gaza sebagai tonggak yang memalukan dalam sidang Dewan Keamanan PBB tentang ketahanan pangan global.
  • Tahun 2025 mengalami jumlah konflik bersenjata tertinggi sejak Perang Dunia II dengan tingkat kelaparan global yang mencapai rekor.
  • Sedikitnya 266 juta orang di dunia menghadapi ketidakstabilan pangan akut pada tahun 2025.

RRI.CO.ID, New York — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut konfirmasi kelaparan di Sudan dan Gaza sebagai “tonggak yang memalukan”. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengenai ketahanan pangan global, dilansir dari Anadolu, Rabu, 26 Agustus 2026.

Guterres mengatakan 2025 mencatat jumlah konflik bersenjata tertinggi sejak Perang Dunia II. Tahun tersebut juga mencatat tingkat kelaparan global yang mencapai rekor, dengan sedikitnya 266 juta orang menghadapi ketidakstabilan pangan akut.

Menurut Guterres, kekerasan menjadi faktor utama yang mendorong kelaparan di 12 dari 13 wilayah yang paling parah terdampak krisis pangan. Kondisi tersebut menunjukkan hubungan erat antara konflik bersenjata dan memburuknya ketahanan pangan masyarakat.

Pelaksana tugas Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau menggambarkan konflik regional dapat memengaruhi pasokan pangan secara global. Ia mengatakan kapal tanker minyak yang berhenti di Selat Hormuz dapat berdampak pada berkurangnya makanan bagi anak-anak di Sudan.

Skau mengatakan harga pangan pokok di Sudan telah meningkat hampir 40 persen sejak Februari. Ia juga memperingatkan krisis yang melibatkan tiga titik penyumbatan jalur perdagangan utama, yakni Selat Hormuz, Laut Merah, dan Laut Hitam.

Guterres mengusulkan mekanisme untuk membangun kepercayaan terkait jalur perdagangan tersebut. Mekanisme itu akan diawali dengan verifikasi dan pendaftaran kapal pengangkut pupuk secara netral.

Namun, Guterres menegaskan mekanisme tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti pemulihan penuh hak navigasi di kawasan. Menurutnya, upaya tersebut hanya menjadi langkah praktis untuk menjaga kelancaran pasokan pangan dan pupuk.

CEO Action Against Hunger Perrine Benoist mengatakan perempuan di Sudan menghadapi risiko kelaparan yang sangat tinggi. Ia juga menjelaskan bahwa anak-anak dapat mengalami kekurangan gizi parah setelah kehilangan akses terhadap makanan.

Dalam kondisi tertentu, anak-anak bahkan dapat mengalami kegagalan organ dalam waktu tiga minggu setelah kehilangan akses terhadap makanan. Kondisi tersebut menunjukkan betapa cepat krisis pangan dapat berubah menjadi ancaman serius terhadap kehidupan.

Guterres mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan sebelum kondisi kelaparan semakin parah. Ia menegaskan dunia tidak boleh menunggu sampai kelaparan secara resmi dikonfirmasi untuk mengambil langkah pencegahan.

Guterres menyerukan penerapan penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2417 untuk melindungi akses warga sipil terhadap makanan dan air. Ia juga meminta perlindungan terhadap lahan pertanian, pelabuhan, dan fasilitas penyimpanan pangan.

Selain itu, Guterres mengusulkan sanksi terhadap pihak-pihak yang secara ilegal menghalangi akses bantuan kemanusiaan. Menurutnya, perlindungan terhadap sistem pangan dan kelancaran bantuan menjadi bagian penting dalam mencegah meluasnya kelaparan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....