Pakar: Pasokan Pangan Global Terancam Gelombang Panas dan Konflik

  • 25 Agt 2026 14:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pasokan pangan global saat ini menghadapi ancaman dari gelombang panas, konflik, dan penurunan hasil panen yang berpotensi mengganggu ketersediaan pangan.
  • Konflik telah menghambat jalur distribusi pangan global, termasuk jalur pengiriman biji-bijian yang krusial bagi ketahanan pangan internasional.
  • Gangguan pada jalur pasokan pangan mempunyai dampak langsung terhadap ketersediaan pangan di wilayah-wilayah yang bergantung pada impor dan meningkatkan tekanan terhadap harga komoditas.

RRI.CO.ID, Ottawa — Pasokan pangan global saat ini menghadapi berbagai ancaman yang berasal dari gelombang panas, konflik, dan penurunan hasil panen. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan pangan serta meningkatkan tekanan terhadap harga komoditas di berbagai negara.

Melansir dari Tasnim, Selasa, 25 Agustus 2026, konflik telah menghambat sejumlah jalur distribusi pangan global, termasuk jalur pengiriman biji-bijian. Gangguan pada jalur pasokan dapat memengaruhi ketersediaan pangan di berbagai wilayah yang bergantung pada impor.

Perubahan iklim turut memperburuk kondisi tersebut. Perubahan iklim menyebabkan penurunan ketinggian air di sejumlah jalur pelayaran penting yang berpotensi mengganggu pengiriman komoditas pangan.

Gelombang panas dan kekeringan juga mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. Dampaknya dirasakan oleh sejumlah negara penghasil komoditas pertanian utama.

Profesor Evan Fraser, pakar sistem pangan global, mengatakan sistem pangan saat ini bergantung pada tiga hal yang kini tidak terpenuhi. Tiga hal tersebut yaitu perdagangan yang lancar, energi murah, dan iklim yang stabil.

Amerika Serikat diperkirakan mengalami penurunan besar dalam produksi gandum akibat kekeringan parah. Produksi gandum negara tersebut bahkan diperkirakan menjadi yang terburuk sejak 1970.

Australia juga menghadapi tekanan terhadap produksi gandumnya. Negara tersebut merupakan salah satu pemasok biji-bijian utama dunia, tetapi telah mengurangi luas lahan gandum akibat tingginya harga pupuk.

Sementara itu, Prancis dan Jerman juga memperkirakan penurunan hasil panen akibat suhu panas yang tidak normal. Penurunan produksi di sejumlah negara dapat meningkatkan tekanan terhadap pasokan pangan global.

Namun, persediaan gandum dari panen yang baik pada tahun sebelumnya masih membantu menahan kenaikan harga pangan global. Persediaan tersebut untuk sementara memberikan ruang bagi pasar pangan dalam menghadapi gangguan pasokan.

Meski demikian, ancaman terhadap sistem pangan global dinilai semakin kompleks. Perubahan iklim, konflik, dan penurunan hasil panen secara bersamaan dapat meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan dunia.

Fraser menilai sistem pangan yang telah berjalan selama bertahun-tahun tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini. Ia mengatakan sistem tersebut perlu dipikirkan dan dirancang ulang untuk menghadapi berbagai tantangan baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....