Indonesia-Malaysia Perkuat Diplomasi Kebudayaan lewat Forum Madani Malindo

  • 21 Agt 2026 07:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenbud mendorong Madani Malindo sebagai ruang memperkuat kerja sama, dialog budaya, dan hubungan peradaban Indonesia-Malaysia.
  • Cendekiawan kedua negara membahas landasan filosofis, teologis, serta strategi kebudayaan untuk mewujudkan konsep negara madani.
  • Din Syamsuddin menilai Indonesia dapat memperkuat Pancasila sebagai fondasi negara madani yang berpotensi menjadi acuan peradaban kawasan dan dunia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Kedutaan Besar Malaysia menerima delegasi Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) 2 di Jakarta. Pertemuan tersebut mempertemukan cendikiawan, ulama, organisasi Islam, serta akademisi untuk memperkuat dialog budaya dan peradaban antara Malaysia-Indonesia.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyebut pertemuan itu menjadi bagian penting dalam memperluas kerja sama sekaligus diplomasi kebudayaan kedua negara. Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan budaya serta sejarah peradaban panjang yang dapat menjadi fondasi hubungan semakin erat.

"Kami berharap para cendekiawan terus membangun budaya dan peradaban bersama melalui dialog terbuka, sejuk, dan berkelanjutan untuk kemajuan. Indonesia memiliki budaya majemuk dan tua, menjadi ruang pertemuan beragam tradisi hingga membentuk masyarakat toleran dan bergotong royong," katanya saat menghadiri Jamuan Makan Malam Penyambutan Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Agustus 2026.

Ia menilai nilai budaya tersebut turut membentuk Pancasila, yang menjadi pegangan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Ia mengapresiasi cendikiawan muslim, Din Syamsuddin, IKIM, perguruan tinggi, guru besar, serta ulama yang berkontribusi dalam forum budaya.

Ia berharap hasil dialog Madani Malindo dapat dibagikan lebih luas agar memperkuat pemahaman tentang budaya dan peradaban bersama. Kerja sama tersebut diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia melalui kebudayaan berkelanjutan.

"Kami sambut baik, apresiasi kepada Din Syamsuddin yang selalu mempunyai kepedulian untuk memanjukan budaya dan peradaban di Indonesia. Mudah-mudahan nanti hasilnya kita juga bisa dibagi-bagi," ujarnya.

Cendikiawan Muslim, Din Syamsuddin mengatakan, Madani Malindo menjadi ruang pertemuan cendekiawan Malaysia-Indonesia untuk membahas konsep negara madani. Pertemuan tersebut sebelumnya berlangsung di Kuala Lumpur dan kini memasuki pertemuan kedua yang digelar di Jakarta tahun ini.

Ia menjelaskan, forum tersebut membahas berbagai aspek negara madani yang digagas Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim. Para cendekiawan memiliki peran penting memberikan telaah kritis sekaligus menyusun landasan filosofis dan teologis konsep tersebut bersama.

"Para cendekiawan bertugas menelaah secara kritis konsep negara madani, sekaligus meletakkan landasan filosofis dan teologis yang kuat bersama. Kami juga ingin membahas strategi kebudayaan agar gagasan negara madani dapat diwujudkan melalui langkah nyata dan berkelanjutan bersama," ujarnya.

Menurutnya, pembahasan Madani-Malindo juga diarahkan pada penguatan nilai kebudayaan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat. Ia menilai strategi kebudayaan perlu dikembangkan agar konsep negara madani tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjadi gerakan bersama.

"Bagi Indonesia, negara Pancasila pada hakikatnya merupakan negara madani yang perlu terus diperkuat melalui nilai kebangsaan bersama. Kami ingin mengembangkan gagasan tersebut di kawasan, bahkan tidak mustahil menjadi acuan dunia menghadapi kerusakan peradaban saat ini," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....