Gelombang Panas Picu Kekeringan yang Mengkhawatirkan di Prancis

  • 16 Jul 2026 13:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Prancis menyebut kekeringan tahun ini datang hampir satu bulan lebih awal dengan intensitas tinggi, sehingga memicu pembatasan penggunaan air di banyak wilayah.
  • Debit sungai terus menurun sejak Juni, seperempat saluran air kecil mengering, dan kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan gangguan siklus air akibat perubahan iklim.
  • Tiga gelombang panas dalam tiga bulan terakhir memperburuk kekeringan, memicu kebakaran hutan, serta menyebabkan Sungai Doubs mengering di sejumlah titik di Prancis timur.

RRI.CO.ID, Paris — Prancis menghadapi kekeringan yang disebut sangat mengkhawatirkan setelah dilanda gelombang panas berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian besar wilayah negara itu kini memberlakukan pembatasan penggunaan air, dilansir dari France24, Kamis, 16 Juli 2026.

Menteri Transisi Ekologi Prancis Monique Barbut mengatakan jumlah pembatasan penggunaan air yang diterapkan menjadi yang tertinggi untuk periode ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat penanganan krisis pada Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut Barbut, kekeringan tahun ini terjadi hampir satu bulan lebih awal dibandingkan biasanya dengan tingkat intensitas yang sangat tinggi. Ia menilai kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena terjadi meski curah hujan selama musim semi masih berada dalam kisaran normal.

Barbut mengatakan fenomena tersebut menunjukkan adanya gangguan besar pada siklus air akibat perubahan iklim. Menurutnya, kondisi aliran sungai menjadi perhatian utama karena debit air terus menurun sejak Juni.

Selain itu, Barbut juga mengatakan sekitar seperempat saluran air kecil telah mengering. Pemerintah Prancis menyebut situasi tersebut belum pernah terjadi sejak sistem pemantauan nasional mulai diterapkan pada 2012.

Dalam tiga bulan terakhir, Prancis telah mengalami tiga gelombang panas berturut-turut. Kondisi tersebut memperparah kekeringan dan memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah.

Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan lebih intens. Dampak tersebut terlihat di wilayah timur Prancis, ketika Sungai Doubs mengering di beberapa titik hingga menyisakan dasar sungai.

Wali Kota Desa Arcon, Fabien Henriet, mengatakan kondisi seperti itu sebelumnya baru terjadi pada Agustus. Namun kini kekeringan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan memiliki dampak yang lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....