Gelombang Panas Ekstrem Renggut 14.000 Nyawa di Eropa

  • 15 Jul 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem di Eropa Barat menewaskan sedikitnya 14.000 orang selama 18 Juni–1 Juli 2026, dengan Jerman mencatat jumlah korban terbanyak di antara enam negara yang paling terdampak.
  • Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan pembakaran bahan bakar fosil menjadi penyebab utama yang membuat suhu ekstrem tersebut hampir mustahil terjadi secara alami.
  • Dampak gelombang panas meluas di berbagai negara Eropa, dengan EuroMOMO mencatat lebih dari 10.650 kematian berlebih dan para ahli menegaskan krisis iklim kini telah mengancam kesehatan serta keselamatan manusia secara nyata.

RRI.CO.ID, Berlin — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat pada akhir Juni menjadi salah satu bencana iklim mematikan di kawasan tersebut. Analisis Politico menunjukkan sedikitnya 14.000 orang meninggal selama periode cuaca panas ekstrem, dilansir dari Politico, Rabu, 15 Juli 2026.

Angka tersebut berdasarkan data resmi sementara dan estimasi para ilmuwan dari enam negara yang paling terdampak. Gelombang panas berlangsung sejak 18 Juni hingga 1 Juli 2026 dan memecahkan rekor suhu di sejumlah negara.

Para ilmuwan menyatakan suhu ekstrem tersebut hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Mereka menilai pembakaran bahan bakar fosil menjadi penyebab utama yang mempercepat pemanasan global.

Data menunjukkan sekitar 2.000 kematian berlebih terjadi di Prancis, 1.740 di Belgia, 6.800 di Jerman, dan 480 di Belanda. Selain itu, tercatat sekitar 810 kematian akibat panas di Spanyol serta sekitar 2.200 kematian di Britania Raya.

Jerman menjadi negara dengan jumlah korban terbanyak selama periode tersebut. Sementara itu, layanan pemantauan kematian EuroMOMO melaporkan 10.650 kematian berlebih di 27 negara anggotanya antara 22 hingga 28 Juni.

Angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring masuknya laporan terbaru dari masing-masing negara. Kematian berlebih merupakan jumlah kematian yang melebihi rata-rata pada periode normal dan kerap digunakan untuk mengukur dampak gelombang panas.

Suhu ekstrem tidak hanya menyebabkan sengatan panas, tetapi juga memperburuk penyakit yang telah diderita korban sehingga meningkatkan risiko kematian. EuroMOMO menyatakan tidak ada ancaman kesehatan masyarakat lain yang dapat menjelaskan lonjakan kematian tersebut.

Layanan tersebut juga mencatat Prancis dan Belgia menjadi dua negara dengan peningkatan angka kematian paling signifikan pada akhir Juni. Di Prancis, suhu udara melampaui 40 derajat Celsius, sementara kawasan Île-de-France yang mencakup Paris mengalami lonjakan kematian terbesar.

Belgia menyebut gelombang panas tahun ini sebagai yang paling mematikan sejak pencatatan dimulai pada 2000. Otoritas kesehatan juga mencatat ratusan korban berusia di bawah 65 tahun meninggal selama periode tersebut.

Di Jerman, Robert Koch Institute memperkirakan sekitar 5.100 kematian akibat panas terjadi sepanjang 2026, sebagian besar berlangsung saat Juni. Di Spanyol, ratusan korban tetap tercatat meski tingkat kepemilikan pendingin ruangan lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara-negara Eropa.

Belanda melaporkan mayoritas korban berusia di atas 80 tahun. Para peneliti di Inggris dan Wales memperkirakan sekitar 2.700 orang meninggal akibat suhu tinggi sepanjang Mei hingga Juni.

Sekitar 42 persen dari kematian tersebut diperkirakan berkaitan dengan peningkatan suhu yang dipicu oleh perubahan iklim. Para ahli menegaskan gelombang panas ini membuktikan krisis iklim telah memberikan dampak nyata terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....