Rumah Sakit Indonesia di Gaza Hadapi Krisis Serius
- 19 Okt 2024 14:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara kondisinya sangat memprihatinkan akibat agresi militer Israel. Rumah sakit beroperasi dengan kondisi krisis serius yakni kekurangan bahan bakar minyak (BBM), alat-alat medis, dan makanan.
"Bahan bakar harus irit walau ada suplai BBM dan panel solar tapi tidak memadai untuk operasional rumah sakit. Kondisinya menyedihkan, mereka bertahan apa adanya bahkan pernah ada perawat tidak makan selama dua hari," kata Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C di Jalur Gaza, Marissa Noriti dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, seperti dikutip rri.co.id, Sabtu (19/10/2024).
Rumah sakit menangani 30 pasien diantaranya pasien kritis dan umumnya pasien anak-anak dan luka ringan. Di rumah sakit juga terdapat 30 orang keluarga pendamping pasien, 14 perawat dan dua dokter.
Rumah sakit Indonesia tidak melayani pasien dengan tindakan operasi karena selain sarana tidak memadai, juga tidak ada dokter bedah. Jika ada pasien kritis, akan di rujuk ke rumah sakit lain seperti Rumah Sakit Al Ahli dan Al Shifa.

Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C di Jalur Gaza, Marissa Noriti dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jumat (18/10/2024) . Marrisa menyebut kondisi rumah sakit Indonesia di Gaza memprihantinkan. (Foto: RRI Net).
Marissa menyebut pelayanan di semua rumah sakit di Gaza dibawah standar karena situasi masih perang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang membawa alat medis, tidak serta merta mendapatkan izin masuk ke Gaza.
"Terkendala akses, pihak WHO terus berusaha melakukan konvoi membawa bantuan medi. Tapi eskalasi meningkat , tidak dapat izin dari Israel untuk melewati check point," ujarnya.
Dokter dan tim medis lainnya tetap melayani kendati dengan standar medis yang tidak layak dan sumber daya seadanya. Mereka tetap bertahan dalam kondisi apapun termasuk kondisi paling buruk sehingga masyarakat Gaza tetap mendapatkan pelayanan medis.
"Kondisinya menyedihkan, mereka bertahan apapun yang bisa dilakukan dan saya percaya tidak akan berhenti (operasional) dengan tenaga tersisa. Dalam keadaan menyedihkan sekalipun dan saya melihat warga Gaza akan menemukan jalan," ucapnya.
Sebelumnya awal Oktober, Israel telah memerintahkan tiga RS di Gaza Utara, termasuk RS Indonesia untuk melakukan evakuasi. Semua jalur di Gaza ditutup sehingga memperburuk keadaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....