Di Balik Bilik Video Call Seks
- 02 Agt 2023 15:59 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya : Membeli adegan syur dan beraktivitas seksual secara maya dengan cara berbayar kini sedang trend dengan istilah Video Call Seks atau VCS. Masyarakat modern kini tentu tidak asing dengan kehadiran fenomena telanjang dan melampiaskan hasrat kesenanganan seksual melalui jejaring media sosial ini.
Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi dan digitalisasi, Video Call Seks atau VCS memang kini seolah menemukan kejayaannya. Dengan membayarkan uang dengan kisaran tentu, mereka para pembeli jasa akan mendapatkan imbal balik berupa pelayanan seks melaluai virtual.
VCS kini menjadi ladang empuk bagi mereka yang menginginkan kemudahan hidup dan juga uang dalam waktu sekejap. Layaknya mental instan, VCS menjadi jalan pintas untuk mengejar pemenuhan kebutuhan dan tuntutaan hidup tanpa harus berlelah lelah merasakan kerja keras dan proses menuju keberhasilan yang penuh deru dan debu. Bagaikan meminta pelangi namun, tidak mau menghadapi hujan petir yang pasti akan mendahuluinya.
Fenomena ini menjadi kian subur karena adanya hukum permintaan dan penawaran. Di satu sisi , banyak pria kesepian, laki laki yang gampang tergoda, wanita yang haus kasih sayang yang tidak mendapatkan objek pelepasan hasrat biologis yang sudah menuntut untuk dipenuhi. Sehingga dengan kedua alasan logis ini, VCS terus menerus berkembang dan seakan menjadi sebuah trend khususnya bagi anak muda.
Namun di balik trend VCS ini, salah satu kelemahan teknologi media sosial adalah tidak menghadirkan interaksi langsung kedua belah pihak. Ini tentu memberi ruang dan celah bagi sifat dan dorongan lemah manusia untuk mencari untung sebanyaknya tanpa perlu bersusah payah.
Sehingga VCS rentan bergeser menjadi sebuah praktek penipuan berujung pemerasan yang merugikan pihak korban. Banyak sekali kasus, video yang sudah terlanjur direkam kemudian menjadi alat bagi sang penipu via VCS untuk memeras dan terus memeras pihak korban. Karena takut malu dan menjadi aib dan permasalahan, pihak korban cenderung mengalah dan mengikuti kemauan pelaku penipuan VCS dengan memberi uang yang disepakati.
Kasus ini banyak sekali menyeruak di permukaan, dimana yang tidak melapor jumlahnya lebih banyak daripada yang memberanikan diri untuk melapor. Terlebih jika video syur tersebut sudah kadung direkam dan dicadangkan oleh pihak si penipu, bisa dibayangkan pemerasan ini bisa jadi tak menemukan ujungnya.
Fenomena ini tentu harus disikapi dengan cerdas, walaupun aturan, regulasi dan hukum adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan fenomena ini. Salah satunya dengan tidak mudah tergoda menjadi pelaku baik penyedia atau penikmat jasa layanan seks ini.
Sebagai anak muda yang memiliki rasa tanggung jawab tentunya menjadi penyedia VCS bukanlah jalan yang tepat untuk mencari kemudahan hidup secara instan. Di satu sisi, bagi si pengguna jasa VCS ini, harus paham benar bahwa interaksi dan keterikatan sosial di media sosial adalah dunia maya yang tak selamanya bisa dipercaya kesahihannya.
Sebagian penuh tipu daya dan muslihat tak kasat mata. Hubungan asmara dan percintaan yang sehat tentu harus dibangun melalui kedekatan dan interaksi tatap muka secara langsung dan mengharuskan keterlibatan fisik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....