Program OPAD, Tingkatkan Manajemen Diabetes Melitus

  • 21 Agt 2024 23:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

MENINGKATNYA kebiasaan mengkonsumsi makanan tidak sehat serta kurangnya aktivitas fisik mengancam kesehatan masyarakat. Satu di antaranya adalah risiko terjangkit diabetes melitus. 

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan terjadi peningkatan pada kebiasaan berisiko tersebut. Kebiasaan itu sangat berkontribusi pada peningkatan angka kasus diabetes melitus. 

Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat manjadi tantangan dalam penanganan kasus mematikan ketiga di Indonesia setelah stroke dan jantung ini. "Untuk itu, penanganannya tidak bisa disepelekan," kata Pakar Keperawatan Kesehatan Komunitas dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Henny Permatasari kepada rri.co.id, Rabu (21/8/2024).

Menurut dosen Fakultas Ilmu Keperawatan UI ini, sampainya edukasi risiko, deteksi dini gejala, mampu menekan angka kasus. Tidak hanya edukasi, memberdayakan masyarakat untuk mengelola diabetes secara mandiri juga menjadi sangat penting. 

Apa itu Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular kronis dengan peningkatan kadar gula darah. Penyakit ini disebabkan oleh faktor gaya hidup dan genetik. 

Prevalensi global (jumlah kasus) diabetes melitus pada usia 20-79 tahun diperkirakan meningkat. Yakni dari 9,5% (536 juta) pada 2021 menjadi 11,2% (783 juta) pada 2045. 

Indonesia menempati peringkat kelima dalam jumlah pasien diabetes terbanyak, dengan 19,47 juta jiwa atau 11,7% dari populasi dewasa pada 2023. Dampak diabetes melitus signifikan, termasuk beban biaya kesehatan dan penurunan produktivitas. 

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan penanggulangan diabetes melitus. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2015, pemerintah fokus pada strategi promotif dan preventif.

Program Optimal Pantau dan Atasi Diabetes (OPAD) 

Program OPAD menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi peningkatan kasus diabetes melitus. Digagas oleh Dr. Henny Permatasari, program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk mengelola diabetes secara mandiri. 

"OPAD menyasar kelompok dewasa dan keluarga mereka. Memberikan pemahaman mendalam tentang diabetes melitus," ujar Henny penggagas program OPAD. 

"Mulai dari pengenalan gejala dan faktor risiko, hingga pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. OPAD membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan."

Menurut Henny, urgensi OPAD semakin terasa di tengah bonus demografi Indonesia. Di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. 

"Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang usia dewasa dan usia produktif, serta intervensi kesehatan yang tepat seperti OPAD, sangat penting. Penting untuk mengoptimalkan potensi bonus demografi Indonesia ini," kata Henny.

Pakar Keperawatan Kesehatan Komunitas dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Henny Permatasari (duduk tengah) dan tim berfoto bersama masyarakat penderita diabetes di Depok (Foto: Henny/ist)

OPAD Dukung Kebijakan Kemenkes

Dampak diabetes melitus signifikan, termasuk beban biaya kesehatan dan penurunan produktivitas. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan penanggulangan diabetes melitus.

Kebijakan melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2015. Yakni dengan fokus pada strategi promotif dan preventif.

"OPAD hadir sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan tersebut. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan demonstrasi," ujar Henny.

"Juga pada pendampingan pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stress. Serta dalam manajemen obat."

Henny menjelaskan, Inovasi OPAD terletak pada integrasi teori Community as Partner, Self-Care Chronic Illness, Family Centered Nursing, Health Promotion Model, dan Informatic Nursing System. Pendekatan ini memungkinkan penanganan masalah diabetes pada dewasa di komunitas dan keluarga secara optimal dan komprehensif.

OPAD terdiri dari edukasi kesehatan, manajemen nutrisi, manajemen pengobatan, manajemen aktivitas fisik, dan manajemen stres yang diimplementasikan di keluarga dan komunitas. "Kami sudah uji pada warga Depok, khususnya Kelurahan Jatijajar dalam pengabdian dan pemberdayaan masyarakat," ujar Henny.  

"Hasilnya, terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap manajemen diabetes melitus. Serta penurunan kadar gula darah pada individu diabetes di sepuluh keluarga binaan di Kelurahan Jatijajar."

Selain itu, OPAD juga berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku pengobatan, diet, aktivitas fisik, dan pemeriksaan rutin pada sepuluh keluarga binaan tersebut. Terdapat pula penurunan tingkat stres, peningkatan dukungan keluarga, dan peningkatan kemandirian keluarga.

Keberhasilan OPAD memberikan rekomendasi bagi berbagai pihak terkait diabetes melitus. Bagi pasien diabetes, penting untuk meningkatkan pengetahuan, menerapkan gaya hidup sehat.

Memanfaatkan fasilitas kesehatan, dan melakukan pencegahan komplikasi sejak dini. Keluarga pasien diharapkan memberikan dukungan dan pendampingan.

Kader kesehatan diharapkan memantau kondisi pasien secara berkala, mengingatkan jadwal kontrol, dan memberikan edukasi serta dukungan. Puskesmas dapat menjadikan OPAD sebagai acuan dalam mengembangkan prosedur asuhan keperawatan untuk penanganan diabetes. 

Tim pengabdian masyarakat FIK UI mengedukasi masyarakat tentang penanganan Diabetes Melitus di Depok (Foto: Henny/ist)

Dinkes dapat Menggunakan OPAD

Dinas Kesehatan dapat menggunakan OPAD sebagai model kebijakan pengendalian diabetes, meningkatkan sumber daya dan pelayanan kesehatan masyarakat, serta melakukan monitoring, evaluasi, dan kolaborasi lintas sektor. 

Pendidikan Keperawatan dapat mengembangkan praktik intervensi keperawatan komunitas khusus diabetes. Sementara Penelitian dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak intervensi OPAD untuk meningkatkan efektivitasnya.

Dengan hasil yang menjanjikan, OPAD diharapkan dapat menjadi model program pengabdian masyarakat yang efektif dalam mengatasi masalah Kesehatan khususnya diabetes melitus. Keberlanjutan dan perluasan program ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak masyarakat, tidak hanya di Depok, tetapi juga di seluruh Indonesia.


Rekomendasi Berita