Pola Asuh dan Pendidikan dalam Permainan Petak Umpet

  • 31 Agt 2024 10:29 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Permainan tradisional petak umpet sudah dikenal lama di Indonesia, khususnya di Pontianak, Kalimantan Barat. Permainan ini juga dimainkan di beberapa wilayah di Indonesia dengan beragam penyebutan seperti tapok pipit, tapok antu maupun tapok-tapok. Permainan ini mengajarkan pesan moral, edukasi dan pola asuh sejak dini terutama bagi anak-anak.

Petak umpet mengandalkan teknik bersembunyi dan berlari yang dimainkan oleh beberapa anak dengan tanpa menggunakan alat satupun. Aturan permainan diawali dengan hompimpah, sebagai petunjuk awal dalam menentukan posisi anak, siapa yang berjaga maupun yang bersembunyi.

Bagi anak yang kebagian berjaga, akan menutup mata pada sebuah pohon maupun tembok sambil berhitung. Anak lainnya bersembunyi sampai batas hitungan yang sudah disepakati bersama. “Jujur, yang tak bise berhitung, bise berhitung yang anak bawang, ade yang kecil, biase bahase Melayu, ayo tapok, itong satu sampai sepuloh, tu, wa, ge, pat, mak, nam ,jo, pan, lan lo, mulailah belajar beritung adek-adek tuh. Salah satunya adalah melatih kemampuan beritung, calistungnye. Jadi, muncul pembelajaran edukatif dari permainan tradisional,” ujar Vivi Norvika Hariyantini, Kabid. Permainan Rakyat KPOTI Kalimantan Barat, saat “Ngander” di RRI Pro 4 Pontianak, Jum’at (30/8/2024).

Kejujuran dalam permainan ini pun tampak dari perilaku anak. Mereka akan berargumen serta menunjukkan bukti kebenaran masing masing. “Saipul pipit, yang ini pun bekejar, padahal yang jage benteng dah bilang, saipul pipit, saipul tak dengar, larilah saipul dengan bilang pipit, mulailah jujur, saye dah nyebut kate yang jage, tadak, aku lok yang nyentuh kate saipul, jadi mane yang jujur, di situ terlihat,” ujarnya.

Dalam permainan ini, kawasan/batas jarak bersembunyi juga sudah disepakati sebelum permainan dimulai. Namun masih saja ada anak yang bersembunyi di luar kawasan yang ditentukan. Sehingga tampaklah kejujuran dari anak -anak tersebut.

Tempat yang biasa dipilih anak- anak untuk bersembunyi, di balik pohon, tembok, semak- semak dll. Penjaga akan mencari dari tempatnya berjaga maupun akan mencari di sekitar kawasan. Anak yang sembunyi beruntung apabila dapat menembus pertahanan penjagaan dengan mendahului penjaga sambil menepuk pohon dan mengatakan “pipit”. Permainan ini mengajarkan anak sedari dini agar waspada menjaga wilayahnya untuk tidak dengan mudah ditembus/ dimasuki lawan.

Dalam permainan tapok pipit ini juga menyertakan pemain anak anak yang tidak/belum mengetahui aturan permainan. Anak tersebut diistilahkan sebagai anak bawang, yang usianya masih tergolong kecil diantara teman bermain seusianya. Permainan ini mengajarkan pola asuh karena dimainkan anak anak usia SD, sementara anak usia PAUD/TK diistilahkan anak bawang.

“Istilah anak bawang, yang dikaseh dan yang disayang. Istilah itu muncul karena yang kecil tak pandai maen, tapi ingin diikutkan, tapi takut die jatuh, terluka, tempat die maen same si kakak-kakak. Tanpa orang tua sadari dalam permainan tradisional muncullah sifat welas asih, asah,asih,asuh dari seorang kakak kepada seorang adik, walaupun bukan kandung, disebutlah dengan anak bawang,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....