Dunia Tanpa Budaya Akan Terasa Kering dan Panas
- 26 Jul 2024 12:41 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Puisi, seringkali dianggap sebagai karya seni eksklusif dan hanya bisa dinikmati segelintir orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang sastra. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, puisi adalah bentuk ekspresi universal yang dapat diakses tanpa memandang latar belakang pendidikan atau sosial.
Gusjur Mahesa seorang seniman dan dosen IKIP Siliwangi dalam wawancara pada acara Sampurasun Pasundan di Pro 4 RRI Bandung Jum’at (26/7/2024) menyampaikan, puisi bisa dibawakan oleh siapa saja, tidak perlu memiliki talenta khusus.
“Pada dasarnya manusia diberikan kelebihan oleh yang maha kuasa, hanya perlu diasah saja. Begitupun halnya dengan membaca puisi, bisa dengan cara berlatih.”
“Yang terpenting, kita harus menghayati dari isi puisinya,” ungkapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, biasanya tema yang diangkat dalam puisi diantaranya, cinta, kehidupan, kematian, alam, sosial, sepiritual dan politik. Puisi berisi ungkapan isi hati seseorang, baik pengalaman secara pribadi sang pembuat puisi ataupun pengalaman orang-orang disekitar pembuat puisi.
Gusjur menambahkan, membaca puisi atau mendengarkan puisi harus memutar otak, karena kebanyakan menggunakan bahasa sastra .
“Contohnya, Puisi Kangen karya WS Rendra yang mengatakan bahwa kangen itu adalah suatu derita,” ucapnya sambil tersenyum.
Dikatakan, puisi yang sering diangkat di masa sekarang ini, banyak menyisipkan dan mengandung suatu bentuk kritik sosial. Melaui puisi ini diharapkan dapat menyentuh hati pihak yang dituju, agar bisa menyadari atas kesalahan yang telah dilakukan.
“Puisi itu budaya purba yang sampai sekarang terus bekerja. Dunia ini kalau berkembang tanpa budaya akan kering dan panas. Kerja itu harus diademkan, nikmatilah musik, sastra, seni untuk mengademkan”, ia menambahkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....