Dibalik Lantunan Lagu Ayam Den Lapeh

  • 21 Apr 2024 15:10 WIB
  •  Bukittinggi

Luruihlah jalan payakumbuah , babelok jalan kayu jati, dima hati indak karusuah ayam den lapeh... Aii... Aii...ayam den lapeh..

KBRN, Bukittinggi : Penggalan lirik lagu berbahasa Minang di atas berasal dari lagu ayam den lapeh yang sangat populer. Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak lagu tradisional daerah Sumatera Barat.

Judul lagu tersebut diambil karena orang Minangkabau dahulunya menganggap bahwa ayam adalah hewan yang berharga. Jika melihat akar tradisi Minang lama, konteks ayam merupakan barang mewah, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memeliharanya.

Liriknya dikarang oleh Nurseha, salah satu personel kelompok musik yang terkenal era 1950-an, Orkes Gumarang. Sementara melodinya diciptakan oleh Abdul Hamid. Lagu yang telah berusia puluhan tahun ini diperkenalkan pada publik sekitar tahun 1954, popularitasnya melejit hingga ke berbagai negara seperti Malaysia, Vietnam, Jepang dan negara lain.

Dibalik kesan ceria yang dihadirkan lantunan lagu ini, ternyata ada kisah pilu yang pernah terjadi. Berbagai literatur mengungkapkan bahwa lagu ini menceritakan tentang seseorang yang kehilangan sesuatu yang berharga.

Ayam dalam lagu ini adalah kiasan dari seorang kekasih hati. Sementara lapeh berarti pergi. Sesuai dengan judulnya, maka ayam den lapeh adalah lagu yang memiliki arti kekasihku pergi.

Lagu ini dimaksudkan untuk menertawakan nasib buruk yang telah lewat dan seperti berpesan tak ada gunanya berlarut larut dalam kesedihan. Sehingga akan lebih baik jika kesedihan dijadikan sebagai peringatan agar terus melihat masa depan dengan penuh optimisme dan belajar dari kesalahan di masa lalu. (AMP)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....