Sejarah Meriam Karbit di Pontianak

  • 09 Apr 2024 16:02 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Meriam Karbit merupakan salah satu tradisi unik di Pontianak. Meriam dibuat menggunakan batang kayu laban dan dilubangi tengahnya, kemudian diisi dengan kalsium karbida atau biasa dikenal dengan batu karbit. Detelah terisi batu karbit, meriam akan disulut dengan api yang akan meledakkan batu tersebut dan membuat suara yang menggelegar.

Tradisi meriam karbit biasanya ditemukan di tepian Sungai Kapuas dan diledakkan tiga hari sebelum Idulfitri. Berdasarkan buku MERIAM KE(a)RBIT - Menjaga Tradisi - Memberi Identitas karya Ahmad Asma dZ, awal permainan ini digagas oleh Syarif Abdurrahman Al Kadri yang tengah menyusuri Sungai Kapuas untuk menemukan areal yang bisa didiami dan konon katanya rombongan beliau sedang mendapatkan gangguan. Syarif Abdurrahman beserta rombongan kemudian menembakkan meriam ke arah delta pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, untuk menghentikan gangguan-gangguan tersebut, juga untuk membuka areal kawasan. Disekitar itulah sekarang berdiri Istana Kadriah dan Mesjid Jami.

Tradisi ini sempat beralih fungsi menjadi penanda waktu magrib pada bulan puasa, mengingat pada saat itu populasi penduduk Pontianak masih jarang dan terpisah-pisah. Awalnya warga menggunakan batang kayu kelapa untuk membuat meriam, akan tetapi karena waktu pemakaian yang hanya bisa sekali, akhirnya warga melakukan inovasi dengan mengganti ke kayu leban.

Dalam perjalanan waktu, tradisi meriam karbit ini pernah dilarang. Di tahun 1985, polisi sempat merazia permainan ini dengan alasan mengganggu ketenangan warga. Ada juga desas-desus bahwa pengusaha swamil merasa bahwa beberapa batang kayu mereka hilang entah kemana.

Namun akhirnya pemerintah mengizinkan pembunyian meriam karbit pada satu atau dua hari sebelum lebaran dan satu hari sesudahnya, itupun dengan batasan frekuensi tertentu. Barulah beberasa belas tahun belakang tradisi ini dapat dilakukan dengan bebas oleh warga Pontianak bahkan dijadikan festifal.

Saat ini, meriam karbit tidak dibunyikan sebagai tanda waktu magrib atau buka puasa, melainkan dibunyikan tiga hari sebelum lebaran dan tiga hari sesudahnya. Meriam dimainkan selepas senja hingga lewat tengah malam terutama puncaknya di malam takbiran.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....