Perubahan Iklim, Perempuan di Maros Sulit Akses Air Bersih
- 06 Sep 2024 10:55 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar : Seorang perempuan duduk di pematang sawah, disampingnya terdapat sebuah baskom berisi pakaian kotor. Di tangan kanan perempuan itu memegang sikat, sementara tangan kirinya menahan pakaian yang hendak digosok.
Dengan bermodalkan karpet plastik, wanita bermana Marwah itu menggosok pakaiannya dengan menggunakan air yang diambil dari sisa penampungan air yang kini tidak lagi bersih. Kondisi seperti ini menjadi rutinitas sebagian besar warga yang bermukim di Lingkungan Suli-suli, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Wanita yang kini telah menginjak usia 35 tahun itu harus rela berjalan kaki sekitar 500 meter dari rumahnya untuk menuju pematang sawah untuk mencuci sudah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir. Khususnya setelah musim kemarau datang dan air di penampungannya sudah habis.
Bagi Marwah hampir setiap hari dirinya menghabiskan sekitar dua jam untuk melakukan proses mencuci pakaian. Dan setelah mencuci, Marwah juga mandi sebelum kembali ke rumahnya.
Perempuan yang kini telah dikaruniai sebanyak tiga orang buah hati ini menyebut, kondisi yang dialaminya ini bukan hanya terjadi saat ini saja, akan tetapi sejak dirinya masih kecil. Hanya saja untuk kondisi saat ini jauh lebih parah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumya.
“Untuk air yang digunakan mencuci pakaian ini adalah air sisa penampungan hujan yang biasanya digunakan untuk keperluan pertanian,” kata perempuan kelahiran 1989 itu kepada rri.co.id saat ditemui, Kamis (29/8/2024).
Bagi Marwah kondisi ini sudah tidak menjadi masalah bagi masyarakat di Lingkungan Suli-suli, mereka sudah beradaptasi sejak lama. “Kalau digunakan mencuci hingga mandi sudah sejak lama, jadi kalau gatal-gatal sudah tidak terasa lagi,” jelas perempuan yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga ini
Sumber air bersih kini menjadi hal yang sangat langka di Lingkungan Suli-Suli, untuk mendapatkannya pun harus mengeluarkan dana lebih.Suli-suli merupakan salah satu dari beberapa lingkungan yang terdampak akan krisis air bersih yang sudah berlangsung beberapa bulan terakhir, khususnya pasca musim kemarau hadir.
/o2i5qpepo21xflb.jpeg)
Salah satu warga di Lingkungan Suli-suli sedang mencuci pakaian dengan menggunakan sumber air bersih, Kamis (29/8/2024). Kegiatan seperti ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir. (rri.co.id/Aan Ariska Febriansyah)
Setidaknya terdapat 625 orang penduduk dan 190 keluarga yang terdampak krisis air bersih.Merujuk pada website maroskab.go.id, Kabuputen Maros termasuk daerah yang beriklim tropis dengan dua musim yakni musim hujan pada Oktober sampai Maret dan musim kemarau pada April sampai September.
Dengan kondisi saat ini, selain kebutuhan untuk minum dan memasak makanan, khususnya untuk mencuci pakaian dan mandi mengandalkan sisa-sisa air hujan yang tersimpan pada lubang penampungan yang terletak areal persawahan. Warga, khususnya perempuan mulai sejak selepas melaksanakan salat subuh sekitar pukul 05.30 hingga pukul 08.00 sudah berkumpul di beberapa titik penampungan air.
Saat ini dua dari lima lubang penampungan, airnya semakin menipis dan kotor. Adapun penyebab kotornya air pada penampungan tersebut disebabkan hewan ternak milik warga seperti sapi dan bebek yang turun untuk sekadar minum atau mandi.
Selain Marwah, perempuan lain yang juga terdampak dari kondisi keterbatasan air bersih ini yakni Marliana. Ia mengaku kondisi kekukarangan air bersih ini memaksa dirinya untuk hanya menggunakan air yang ada untuk melakukan aktivitas mencuci dan mandi.
Wanita dua anak itu menyebut jika dalam kondisi terpaksa, air yang kondisinya tidak terlalu keruh dapat di tampung berhari-hari kemudian dimasak sebagai air minum, maupun untuk memasak nasi. “Itu kalau terpaksa sekali, dan tidak ada pemasukan sama sekali untuk membeli air bersih,” ujarnya.
Wanita berusia 35 tahunmenyebut, dengan mencuci pakaian menggunakan air yang tidak bersih ini, pakaian akan lebih cepat berubah warna, olehnya itu, khusus untuk pakaian sekolah atau yang berwarna putih tidak di cuci menggunakan air ini. “Biasanya kami beli air bersih untuk mencuci baju putih agar warnanya tidak cepat pudar,” jelasnya.
Dana khusus untuk air bersih
/g23ujip8sjx6l5g.jpeg)
Kondisi air penampungan di Lingkungan Suli-suli, Bontoa, Kecamtan Bontoa, Maros yang digunakan untuk keperluan harian salah satunya untuk mencuci pakaian. Saat ini kondisi penampungan air semakin keruh dan juga debitnya semakin menipis. (rri.co.id/Aan Ariska Febriansyah)
Bagi Marwah, dengan kondisi keuangan yang tidak menentu, terlebih suaminya tidak memiliki pekerjaan yang tetap, menjadikan kondisi saat ini semakin berat. Setidaknya Marwa harus mengeluarkan setidaknya Rp100 ribu untuk membeli air galon. “Harga air galon sekali beli sekitar Rp 5 ribu, dalam sebulan setidaknya bisa beli hingga 20 galon,” jelasnya.
Selain air galon, Marwah juga biasanya membeli air bak yang kondisinya tidak sebersih air galon, akan tetapi lebih bersih dari air yang digunakan saat ini untuk mencuci pakaian. Untuk air bak sendiri dibanderol dengan harga Rp135 ribu dengan kapasitas 1000 liter.
“Untuk air bak yang kami beli, kami biasanya menampung di tandon, dan digunakan seirit mungkin, karena air ini bisa digunakan sebagai air minum maupun untuk masak,” tambahnya.
Seperti halnya Marwah, Marliana juga mengaku harus merogoh kocek lebih dalam saat kondisi seperti saat ini. Marliana juga mengaku hampir setiap hari membeli air galon untuk keperluan minum dan memasak makanan.
“Selain itu, pengeluaran juga dari anak-anak yang mau belanja dan lain sebagainya,” tambahnya. Padahal kata Marliana semenjak kondisi seperti ini, kondisi keuangan keluarganya tidak meningkat, bahkan biasa melakukan hutang jika kondisi sangat terdesak.
Dari informasi uang dikumpulkan, bahwa di Lingkungan Suli-suli ini tidak memiliki akses air bersih dari PDAM Maros, disebabkan pernah terjadi penolakan beberapa tahun yang lalu.
/wp3zku2b7m0k00o.jpeg)
Seorang warga di Lingkungan Suli-suli, Bontoa, Kecamatan Bontoa, Maros menggunakan gerobak untuk mengambil air dari penampungan. Kondisi perubahan iklim menjadi salah satu penyebab kesulitan warga mendapatkan sumber air bersih. (rri.co.id/Aan Ariska Febriansyah)
Lurah Bontoa, Saharuddin mengatakan, kondisi kekurangan air bersih di wilayahnya memang bukan hal yang baru. Pria yang merupakan putra asli daerah tersbut mengaku kondisi ini sudah terjadi sejak berpuluh tahun silam.
“Memang untuk di wilayah Bontoa ini, akses air bersih sangat minim. Bahkan tidak hanya di Bontoa saja, akan tetapi di beberapa daerah sekitar juga mengalami hal yang sama,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) Sulsel, Aflina Mustafainah menyebutkan, dalam situasi konstruksi gender biner, perempuan memang masih merasakan adanya pembagian kerja secara seksual. Kerja tersebut masuk dalam kategori kerja reproduksi.
“Perempuan, dari dia anak perempuan, perempuan dewasa hingga lansia, tetap memegang tanggung jawab kerja rumah tangga, bebannya terasa lebih berat karena air, yang menjadi sumber kehidupan manusia, baik untuk makan dan minum, juga mandi dan mencuci, masih menjadi tanggung jawab perempuan. Ketika sumber air kering atau hilang, pastinya perempuan akan lebih lama mencari air, atau bahkan lebih jauh mencari air,” ujar Pino sapaan akrab Aflina Mustafainah, Senin (02/9/2024).
Lebih lanjut kata Pino, bahwa proses ini akan menambah waktu kerja perempuan, sehingga tanggung jawab kerja rumah tangga seperti mencari bahan makanan di hutan atau di pesisir akan semakin sulit. “Padahal proses ini bisa penting, karena perempuan dapat memberi nutrisi pada keluarganya tanpa harus membeli bahan pangan seperti sayur dan buah,” tambahnya.
“Jadi climate change yang berdampak pada kurangnya air bersih, dapat membuat satu keluarga berutang untuk memenuhi kebutuhan air bersih atai nutrisi lainnya,” jelas Pino.
Akan Hadirkan Embung
/5mxx9dps52h5lc1.jpeg)
Lurah Kelurahan Bontoa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros Saharuddin sudah mengusulkan anggaran untuk membuat embung sebagai tempat penampungan air yang dapat digunakan saat musim kemarau, Jumat (30/8/2024). Embung diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang bermukim di lingkungan Suli-suli. (rri.co.id/Aan Ariska Febriansyah)
Dikutip dari buku Navigasi Isu Perubahan Iklim di Pemilu 2024 terbitan Monash Climate Change Communication Research Hub (MCCCRH) Indonesia Node, perubahan iklim yang ditandai oleh kenaikan suhu mempercepat proses penguapan, menyebabkan tanah dan tanaman kehilangan air dengan cepat ke atmosfer. Proses penguapan yang cepat inilah yang berujung pada kekeringan berkepanjangan.
Tidak hanya itu, kekeringan berujung pada penurunan produksi pangan karena agrikultur atau pertanian sangat sensitif terhadap cuaca dan iklim. Kementerian Pertanian mencatat, ratusan ribu hektar (ha) lahan sawah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan mencapai 250.000-300.000 hektare atau hampir separuh dari total 730.000 hektare tanaman padi.
Untuk mengatasi masalah ini agar masalah krisis air bersih tidak berulang, Saharuddin mengatakan pihak kelurahan telah mengusulkan ke pemerintah kabupaten melalui Dinas Pekerjaan Umum untuk menghadirkan Embung. Pemilihan Embung sendiri kata Saharuddin dianggap hal yang tepat.
“Embung dapat digunakan untuk menampung air hujan, dan dapat digunakan oleh masyrakat saat musim kemarau,” kata Sahar, saat ditemui rri, Jumat (30/8/2024).
Sahar mengatakan melalui Dinas PU, pihak kelurahan Bontoa meminta untuk dihadirkan sebanyak dua buah embung. Dengan luasan embung yang akan dibangun 20 x 20 meter.
“Kami sudah mengusulkan dengan anggaran untuk satu embung ini sebesar Rp200 juta. Kami harapkan anggaran ini masuk pada anggaran perubahan Kabupaten Maros 2024,” tambahnya.
/5vt8shp2ibjoztx.jpeg)
Sejumlah masyarakat di Lingkungan Suli-suli, Bontoa, Kecamatan Bontoa, Maros berkumpul di pinggir penampungan air untuk mencuci pakaian menggunakan air keruh, Sabtu (29/8/2024). Meski air keruh masyarakat terpaksa menggunakan untuk mencuci pakaian. (rri.co.id/Aan Ariska Febriansyah)
Sementara itu, Sosiolog Anshar Aminullah mengatakan bahwa dengan kehidupan yang lebih modern sekarang ini bukan berarti bahwa kehidupan sosial kini lebih aman daripada dahulu. Bagi sebahagian orang persoalan perubahan iklim ini bukan masalah.
“Namun pada saat yang bersamaan, mudahnya akses informasi beserta penyebarannya yang cepat, pada akhirnya memperkenalkan parameter risiko baru yang sebagian besar tidak dikenal secara ilmiah oleh masyarakat kita di era sebelumnya,” ujar kandidat doktor di Universitas Indonesia ini, Jumat (30/8/2024).
Lebih lanjut, kata pria yang akrab disapa Anshar ini bahwa dalam pendekatan konstruksi sosial dalam konteks perubahan iklim. Bahwa fenomena ini tidak hanya dipahami dalam konstruksi sosial klasik yang pernah dikemukanakan Peter L Berger.
“Perubahan iklim dalam konteks modern sekarang ini media sangat memegang peranan penting dalam memberikan perspektif lebih luas terhadap efeknya,” tambahnya.
“Masyarakat kita di era digital ini perlahan tak lagi menganggap tindakan melawan perubahan iklim sebagai ancaman terhadap kemakmuran. Namun dia adalah ketentuan Tuhan terhadap alam yang tak bisa dihindari,” jelasnya.
Bagi Anshar Aminullah beradaptasi dan dengan memperkuat pendekatan budaya yang lebih menghargai alam dan keberlanjutannya, maka perubahan iklim akan diperlakukan sebagai isu yang mendesak untuk selalu dipersiapkan dalam menghadapinya.(*)
Tulisan ini adalah Fellowship kolaborasi dengan team riset Monash University dan SIEJ Simpul Sulsel
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....