Mengenal Lebih Dekat Sosok Sultan Syarif Abdurrahman

  • 02 Sep 2024 10:12 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Sultan Syarif Abdurrahman bin Husain Al-Kadrie adalah pendiri dan Sultan Pertama Kerajaan Pontianak. Ia dilahirkan di Kerajaan Matan (Tanjungpura), Kerajaan Melayu tertua di Kalimantan Barat, tepatnya di Kelurahan Mulya Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat pada hari Senin tanggal 15 Rabiul Awal jam 10 siang tahun 1151 H (1739 M). Dia adalah putra kedua dari Syarif Husein Alkadrie dan Nyai Tua.

Hampir 17 tahun lamanya Syarif Husein Alkadrie bermukim di negeri Matan dengan jabatan yang mulia sebagai Qadhi (hakim) peradilan agama Islam Matan. Pada tahun 1755 M Syarif Husein dan seluruh keluarganya berpindah dari negeri Matan ke negeri Mempawah menjadi sebagai penasihat/mufti di Keraton Mempawah. Pada saat di Mempawah Syarif Sultan Abdurrahman berusia 18 tahun menikah dengan Puteri Chandramidi yang merupakan anak dari Raja Mempawah kala itu Opu Daeng Menambun.

Pada 11 Rabiul Akhir tahun 1185 H atau pada pertengahan tahun 1771, Syarif Abdurrahman kembali ke Mempawah setelah perjalanan panjangnya ke berbagai daerah di Indonesia, sesampainya di Mempawah Syarif Abdurrahman mendapati kabar bahwa ayahandanya Syarif Husein dan mertuanya Opu Daeng Menambun telah meninggal dunia. Syarif Abdurrahman pun bermusyawarah dengan kepada 4 saudaranya Syarif Ahmad, Syarif Abu Bakar, Syarif Alwi, dan Syarif Muhammad untuk keluar dari negeri Mempawah.

Tidak lama kemudian mereka berlayar menggunakan 14 perahu kecil untuk mencari dan menemukan tempat pemukiman yang baru. Setelah 5 hari perjalanan Syarif Abdurrahman beserta rombongan menemukan sebuah pulau di tengah sungai yang kemudian dinamakan Pulau Batu Layang.

Mereka berhenti di depan pulau Batu Layang untuk beristirahat dan pada malam harinya mereka mendapat gangguan yang mendiami pulau Batu Layang dan daerah sekitarnya. Karena mereka merasa terganggu oleh hantu jahat yang disebut kuntilanak untuk mengusirnya harus ditembak dengan meriam, maka tempat itu dinamakan Pontianak.

Ternyata plot twistnya gangguan yang menakutkan itu sesungguhnya datang dari para perompak dan penjahat yang banyak terdapat di perairan Sungai Kapuas dan Sungai landak. Mereka bersembunyi di daerah pertigaan pertemuan kedua sungai itu. Selama lima malam lamanya rombongan Syarif Abdurrahman memerintahkan menembaki tempat – tempat yang dianggap persembunyian para perompak ini.

Pada dini hari Rabu tanggal 14 Rajab 1185 H, 23 Oktober 1771 Syarif Abdurrahman memasuki perairan di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Kapuas untuk memastikan masih ada atau tidak para perompak ini. Ternyata tidak terdapat lagi gangguan para perampok ini, Syarif Abdurrahman kemudian mendarat di daratan tepian Sungai Kapuas sekitar jam 8 pagi.

Ia merasa sangat yakin bahwa tempat itu sangat baik untuk pemukiman. Peristiwa dan saat mulai pembangunan tempat pemukiman baru oleh Syarif Abdurrahman yang dijadikan hari jadi kota Pontianak, yaitu hari Rabu 14 Rajab 1185 H bersamaan dengan tanggal 23 oktober 1771 M.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....