Kisah di Balik Bubur Asyura yang Membumi di Tanah Banjar

  • 16 Jul 2024 13:51 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: ‘Mengawah’ bubur asyura setiap 10 Muharam tahun hijriah, sudah menjadi tradisi masyarakat Banjarmasin yang tak pernah terlewatkan. Biasanya bubur asyura ini dibuat bergotong-royong dengan dana urunan oleh masyarakat, yang nantinya bubur ini akan dibagikan untuk hidangan berbuka puasa ataupun disantap bersama-sama.

Lantas bagaimanakah kisah di balik tradisi bubur asyura yang membumi di Bum Banjar ini?

Salah seorang tokoh masyarakat, Bahrah menceritakan, banyak kejadian bersejarah sejak zaman dahulu dahulu yang terjadi bertepatan pada hari ini. Sehingga bisa dikatakan hari asyura ini adalah hari kasih sayang ataupun hari berbagi.

Pasalnya di 10 Muharam, ada peristiwa dibebaskannya Nabi Yunus dari perut ikan paus, hingga peristiwa dibakarnya Nabi Ibrahim terjadi bertepatan pada hari asyura ini. Selain itu masih banyak peristiwa penting lainnya yang terjadi, sehingga hari asyura ini adalah merupakan hari yang baik.

"Maka dari itu dianjurkan di hari ini kita bersedekah, berbagai, lalu menyantuni anak yatim," ucapnya.

Lalu untuk tradisi berbagi bubur ini sendiri, dijelaskannya dulu dimasa Nabi Nuh pernah terjadi masa paceklik yang panjang. Sehingga membuat bahan makanan sulit dicari. Dari situ akhirnya diputuskan untuk membuat makanan dari seluruh bahan yang bisa ditemukan.

Itupun berlanjut dan berkembang menjadi tradisi hingga sekarang ini. Dengan membuat bubur asyura dengan 41 macam bahan untuk untuk masyarakat Banjar. Hingga akhirnya dicampurkan sebanyak 40 jenis bahan makanan, mulai dari sayuran, buah, dan rempah-rempah.

“Lalu itu dibagikan ke tetangga-tetangga sekitar," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....