Turuk Langgai, Implementasi Alam Dalam Sebuah Tarian

  • 22 Apr 2024 23:29 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi : Matahari baru beranjak naik setengah penggalan namun suasana terasa riuh diantara hentakan-hentakan kaki berirama diiringi suara gendang dan nyanyian yang lebih mirip suara binatang di hutan. Diatas Uma ( rumah khas Mentawai) terdapat beberapa orang laki-laki memakai Kabit (pakaian tradisonal Mentawai ), aksesoris dedaunan serta manik-manik dikepala dan pergelangan tangan serta tubuh dihiasi titi (tato khas Mentawai). Mereka bukanlah penari biasa namun para Sikerei ( dukun pengobatan ) menarikan tarian Turuk Langgai.

Gerakan tarian ini sangat unik, lincah dan meliuk-liuk.Beberapa penari mengepakakan tangannya sambil mengibaskan dedaunan di ujung jari, menukik sembari mengeluarkan pekikan suara binatang, sedangkan yang lainnya berputar putar mengentakan kaki mereka menghasilkan sebuah irama mengikuti tabuhan gajeuma ( gendang khas Mentawai yang terbuat dari kulit kayu aren dan kulit ular).

Turuk berasal dari kata tarian, sedangkana uliyat dapat diartikan menyerupai. Turuk uliyat mayang bisa disrtikan tarian yang menyerupai burung camar. Begitu juga dengan Turuk uliyat Bilou yang artinya tarian menyerupai monyet khas Mentawai. Tarian Turuk Langgai merupakan tarian tradisional masyarakat Mentawai yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17. Tarian ini mengadopsi gerakan hewan yang ada disekitar mereka.Masyarakat mentawai percaya tarian ini merupakan cara berkomunikasi dengan roh leluhur.

Sirirui, salah seorang penduduk asli Mentawai mengatakan tarian ini biasanya ditarikan pada malam hari sebagai media pengobatan.” Kalau untuk pengobatan dilakukan malam hari agar komunikasi Sikerei dengan Roh leluhur lebih lancar. Sebetulnya, Turuk laggai adalah bagian akhir dari ritual pengobatan yang dilakukan ,Sikerei akan menari yang tujuannya agar roh yang sakit terhibur dan tidak meninggalkan raganya kalau sampai roh meninggalkan tubuh si sakit maka ia akan meninggal,” jelasnya.

Dikejauhan tabuhan Tuddukat ( alat musik dari kayu yang dilobangi tengahnya) dan Urai sayup terdengar. Urai merupakan seni olah vokal Mentawai yang dilakukan Sikerei ketika sedang menari dan diakhir setelah tarian selesai. Ketika Tuddukat dipukul maka Sikerei akan menjinjitkan kakinya, kepala mengadah ke atas, badan dibungkukkan dan tangan yang memegang dedaunan mulai bergoyang.

Markus, salah seorang pemandu wisata yang kami temui mengatakan bahwa tarian ini juga merupakan media penyampai pesan dari para leluhur tentang nasehat kehidupan. “ Dalam tarian Turuk Langgai ini ada istilah apakah sebuah kegiatan disetujui oleh leleluhur atau tidak. Bila disetujui maka boleh dilanjutkan. Bila tidak maka akan mendatangan bencana seperti penyakit hingga kematian. Biasanya untuk mengatahui jawaban roh leluhur ini ada cara khusus yang dilakukan Sikerei, seperti melalui pemotongan hewan dan kalau untuk pengobatan tidak boleh dipertontonkan berbeda jika sebagai hiburan seperti ini“ terangnya.

Ada dua macam Turuk Langgai yaitu turuk puliaijat ( ritual pengobatan) dan turuk punen ( tarian pesta). “Turuk puliaijat melibatkan roh leluhur jadi tidak akan ditampilkan saat pesta karena itu dilarang,”lanjutnya. Turuk Langgai merupakan implementasi kedekatan alam dengan masyarakat mentawai selaras dengan ajaran Arat Sabulungan ( kepercayaan asli masyarakat Mentawai) yang berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai luhur seperti persatuan, perdamaian, kemakmuran , dan cinta kasih antar suku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....