Pasar Senen, Baju Bekas, dan Romantisme Masa Lalu

  • 02 Des 2023 15:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KETIKA larangan berubah jadi tantangan, membuat popularitas thrifting tidak surut. Penjualan barang bekas—terutama pakaian impor—masih saja mengundang minat pembeli.

Kegiatan mencari barang bekas ini terus berkembang. Beragam larangan yang sudah diterbitkan seperti bukan halangan.

Thrifting menjadi opsi unik bagi mereka yang ingin berbelanja cerdas. Dengan thrifting seseorang bisa dapat barang bagus, tetapi terjangkau.

Sebagai pusatnya, Pasar Senen di Jakarta telah lama menjadi tempat penyedia berbagai barang bekas dan antik. Kegiatan thrifting di sana sudah bertahun-tahun.

Pasar Senen dikenal karena menyajikan beragam barang bekas. Termasuk pakaian vintage, peralatan rumah tangga, dan bersejarah.

Keberadaan dan ketenaran thrifting di Pasar Senen telah menjadi ciri khas pasar tersebut. Di Pasar Senen, setiap benda yang dijual memiliki cerita dan kisahnya sendiri.

Orang-orang masih banyak yang berburu baju bekas di Pasar Senen dengan alasan yang beragam (Foto: RRI/Julia Aninda Putri)

Pasar Senen berlokasi di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Tempat ini menjadi favorit penggemar barang bekas.

Berbelanja di sini mengundang romantisme sekaligus keunikan. Di setiap sudutnya tersimpan sejarah dan cerita khas masa kebebasan berburu baju bekas.

Sekarang para pedagang barang bekas di Pasar Senen mulai khawatir. Mereka resah karena sewaktu-waktu bisa kena razia dan ditutup.

“Kalau mau ditutup kenapa tidak dari dahulu? Tempat ini sudah lama ada, sekitar 2000-an, hingga tahun ke tahun masih berlanjut,” kata Syahid, pedagang pakaian impor bekas di Pasar Senen.

Tumpukan baju-baju bekas impor yang ada di sebuah kios Pasar Senen (Foto: RRI/Julia Aninda Putri)

Suasana Pasar Senen sekarang tidak seramai sebelum ada larangan. Pedagang risau tidak bisa mencapai omset yang diinginkan.

“Sewa kios itu per tahun ada yang Rp100 juta, Rp150 juta, bahkan Rp200 juta. Jadi omset pedagang dalam sehari minimal Rp1 juta baru balik modal,” ujar Syahid.

Namun Syahid dan para pedagang lainnya tetap bertahan di Pasar Senen. Mereka terus berupaya masyarakat bisa datang meramaikan pasar lagi.

“Pedagang berharap jangan ditutup. Ini mata pencaharian, kalau ditutup mau kerja di mana lagi?” ucap Syahid.

Pastinya orang memilih thrifting daripada ritel karena faktor ekonomis. Harga yang terjangkau dan keunikannya membuat thrifting mengasyikkan.

“Saya memilih thrifting untuk kebutuhan pribadi. Thrifting itu unik dan tentu lebih murah,” ujar Dian, pembeli setia thrifting.

(Artikel ini ditulis Julia Aninda Putri, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, peserta program magang di RRI Pusat Pemberitaan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....