Puskesmas Harus Inovatif Demi Layanan Cek Kesehatan Gratis

  • 24 Agt 2026 14:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala Puskesmas Duren Jaya, Bekasi Timur, bernama Ria memulai hari dengan berangkat lebih awal sejak subuh untuk mengatasi kemacetan dan tiba tepat waktu di tempat tugasnya.
  • Setiap pagi pukul 07.00, sudah terdapat antrian panjang pasien di loket pendaftaran puskesmas yang menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap layanan kesehatan.
  • Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Pro Lanis) menjadi daya tarik utama bagi pasien lansia yang mendominasi pendaftaran di pagi hari untuk pengelolaan penyakit kronis mereka.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketika sinar matahari masih belum tampak dan suara kokok ayam terdengar bersahutan menyatu dengan deru mesin mobil, menjadi penanda dimulainya hari Ria. Kepala Puskesmas Duren Jaya, Bekasi Timur, yang harus berlomba dengan kemacetan dan menembus gelap subuh demi sampai tepat waktu di tempat tugasnya.

Tepat pukul 07.00 WIB Ria memasuki kawasan puskesmas, sudah terlihat dari ujung jalan antrian pasien yang mengular dan riuh suara pasien bercerita tentang sakitnya dengan sesama pasien dari balik jendela mobil yang sengaja dibuka. Pagi hari itu pasien lansia terlihat mendominasi loket pendaftaran karena adanya Pro Lanis (Program Pengelolan Penyakit Kronis) untuk mereka.

Sambil melempar senyum dan menyapa hangat pasien dan staffnya, Ria bergegas mengecek kesiapan puskesmas untuk kegiatan rutin dan Cek Kesehatan Gratis yang akan mereka gelar di sekolah Santa Maria Monica, Bekasi Timur.

Mengikuti arahan Presiden Prabowo, Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu program Puskemas Duren Jaya, Bekasi yang rutin digelar hampir dua tahun belakangan. Menanggung target 38.500 jiwa untuk mendapatkan layanan kesehatan menjadi sebuah misi besar yang dipikul dan bukan perkara mudah untuk diwujudkan oleh Ria beserta staffnya.

Ria harus jeli dan pintar melihat celah agar program CKG berjalan dan target mereka terpenuhi. Mereka melakukan inovasi 'jemput bola' menyasar sekolah, unit usaha sekolah yang ada di sekitar wilayah Duren Jaya, Bekasi Timur.

"Kita harus pinter cari cara bagaimana masyarakat bisa ikut CKG dan target kita juga terpenuhi. Dengan adanya CKG juga sebenernya penyakit bisa terdeteksi sejak dini dan bisa diobati secara tuntas atau simpelnya cegah dini, tuntas atasi," ujar Drg. Ria Kepala Puskesmas Duren Jaya, Bekasi Timur saat diwawancarai RRI, Jumat 14 Agustus 2026 lalu.

Sebanyak 13.500 siswa dari 16 SD, 6 SMP, 12 SMA menjadi sasaran CKG dan sementara ini baru 2000 siswa yang sudah mendapatkan layanan ini, tersisa 11.500. Sebuah pekerjaan rumah yang harus dipikul puskesmas Duren Jaya, Bekasi Timur hingga akhir tahun 2026.

Namun Ria optimis mereka bisa memenuhi 85 persen target yang diberikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi. Mengingat jumlah penduduk di kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur saat ini sebesar 72.500 jiwa.

"Kita optimis insya allah sampe bulan Oktober bisa mencapai target, setidaknya paling tidak 85 persen terealisasi," katanya.

Drama Tangisan Siswa dan Kejadian Lucu Saat CKG

Suara raungan dan teriakan terdengar dari barisan murid kelas 1 beberapa murid ketakutan dan menolak untuk divaksin. Samara seorang siswa kelas 1A bahkan memberontak dan berusaha kabur ketika mendapat giliran suntik, "aku ngga mau,ngga mau," kata Samara dengan wajah ketakutan berurai airmata yang berusaha kabur.

Nita sang guru terpaksa menggendong tubuh muridnya lalu mendudukkannya ke atas paha. Menggulung tangan baju Samara, Nita menenangkan dan membujuknya untuk divaksin.

"Sini sama Bu Nita, ngga apa-apa kok, ngga sakit," ucap Nita pada Samara.

Kejadian ini menarik perhatian dan rasa penasaran teman lainnya sehingga mereka berkerumun mencari tahu. Mereka yang awalnya ketakutan saat melihat Samara menangis , maju dengan ragu tapi justru terjadi hal mengejutkan, banyak murid yang berteriak kencang setelah disuntik 'eh ngga sakit ' memberitahu pada teman-temannya yang sedang menunggu giliran.

Seperti mendengar sebuah kata ajaib, mereka yang awalnya takut akhirnya terlihat lega setelah mendengar teriakan teman mereka. Sementara untuk murid kelas 4, mereka diminta untuk melakukan Tes Kesehatan Olahraga.

Tes kesehatan olahraga menggunakan metode single tes sendiri di mana anak-anak diminta lari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali putaran. Menurut Adit, Penanggung Jawab Kesehatan, tes ini dimaksudkan untuk melihat seberapa baik kesehatan murid usia 9-10 tahun

"Jadi, untuk putarannya itu tergantung luas lapangan mbak, kemarin SD Dimonica itu luas lapangan 100m per putaran, jadi untuk siswa kelas 4 yang ratarata-rata usianya 9-10 ahunth dan jarak lari yg ditempuh 1000m. Rata-rata waktu diusia tersebut kelas 4 normal nya 6-8 menit untuk nilai kategori baik, Jadi jika ada siswa yang waktu nya kurang dari 6 menit itu nilai nya sangat baik," ucap Adit.

Gwen dan Ailen murid kelas 4 sedang beristirahat sambil menyedot air dari botol minum dengan nafas terengah- engah. Mereka sudah menyelesaikan tes kesehatan dalam waktu 6 menit dengan mengikuti trik jitu dari orang tua mereka.

Ailen mendapatkan trik dari ayahnya untuk melakukan pemanasan sebelum berlari "Kalo papa aku bilang harus pemanasan dulu dan jangan lari cepet-cepet biar ngga capek," ucap Ailen.

Sementara Gwen diminta untuk tidak berlari cepat-cepat "Kata papa, larinya pelan-pelan biar ngga jatuh" kata Gwen.

Murid perempuan kelas 5,6 mendapatkan vaksin HPV untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Ternyata ketakutan akan jarum suntik bukan terjadi pada murid kelas 1, 2 tetapi juga siswi kelas 5 yang akan suntik HPV.

Wajah seorang siswi terlihat tegang saat petugas memegang jarum suntik, namun kemudian terbit senyum di wajahnya. Bahkan saat keluar ruangan ia berteriak 'woy ngga sakit' sambil joget tarian semut dan bernyanyi lagu 'skedang skeding' yang sedang viral.

Dukungan Sekolah pada Program Pemerintah CKG

Sebelum melakukan CKG di SD ST.Maria Monica Bekasi Timur, tim Puskesmas Duren Jaya sudah melakukan sosialisasi sejak bulan Februari 2026. Kepala Sekolah dan seluruh jajaran pengajar dan staf ikut dalam kegiatan itu.

Sekolah kemudian melakukan sosialisasi kepada orang tua murid dengan cara daring lewat 'whats up grup kelas'. Mereka meminta orang tua murid untuk mengisi data skrining anak mereka di gogle form.

"Kami sosialisasikan kegiatan ini pada murid dan wali murid melalui wa grup, memberikan e-flyer. Kami juga meminta orang tua murid untuk mengisi skrining data anak dan menanda tangani surat pernyataan, hampir semua mengisi kecuali kalau si anak sakit atau sudah vaksin maka mereka tidak mengisi," ucap Tika, Kepala Sekolah SD ST.Maria Monica Bekasi Timur.

SD ST.Maria Monica menganggap puskesmas Duren Jaya sudah menjadi mitra untuk sekolah mereka. Hal ini karena puskemas yang selalu melakukan program kesehatan di sekolah mereka.

"Kami sudah seperti mitra dengan Puskesmas Duren Jaya, karena mereka sangat peduli dengan kesehatan anak-anak sekolah. Dan sudah sering kami bekerja sama dengan puskesmas," kata Tika menutup percakapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....