Maniamölö Fest Menyulam Ulang Bunyi yang Terlupa

  • 24 Jun 2025 07:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Nias Selatan: Sebuah peristiwa budaya sarat sejarah tengah berlangsung di Desa Hilisimaetano. Di tengah semaraknya Maniamölö Fest 2025, Proyek "Suara yang Pulang" hadir dengan Pameran Eksibisi Multimedia Material Jaap Kunst.

Pameran ini menyuguhkan arsip rekaman suara, gambar, dan film bisu dari Nias. Material ini dikumpulkan oleh etnomusikolog Belanda Jaap Kunst pada tahun 1930.

Sebagai salah satu sorotan utama Maniamölö Fest, pameran ini dibuka sejak 15 Juni 2025. Acara berlangsung hingga 22 Juni 2025 di jantung Desa Hilisimaetano.

Inisiatif ini menjadi jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu dengan realitas masa kini masyarakat Nias. Secara khusus, masyarakat Nias Selatan merasakan dampak langsung kehadiran arsip leluhur mereka.

"Suara yang Pulang" adalah inisiatif luar biasa yang menggarisbawahi pentingnya repatriasi warisan budaya Nias. Proyek ini mengembalikan makna dan relevansi arsip kepada komunitas asli tempatnya berasal.

Ini bukan sekadar pemutaran arsip biasa, tetapi proses penghidupan kembali ingatan kolektif yang mendalam. Tujuannya adalah meregenerasi hubungan spiritual generasi kini dengan leluhur mereka.

Keberadaan pameran ini memperkuat visi Maniamölö Fest melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Nias. Identitas masa lalu dihidupkan kembali melalui suara dan citra.

Salah satu kegiatan dalam Maniamölö Fest (Foto: Maniamölö Fest/ist)

Dari Pengantar Tidur Hingga Repatriasi Bunyi

Gagasan di balik "Suara yang Pulang" lahir dari pemikiran Doni Kristian Dachi. Ia merupakan peneliti independen asal Nias dengan minat besar pada budaya leluhur.

Kecintaan Doni tumbuh sejak kecil melalui cerita pengantar tidur sang ayah tentang kisah para leluhur. Ketertarikan ini membimbingnya menelusuri panjang warisan budaya Nias.

Jaap Kunst diketahui merekam 53 suara dari 11 lokasi berbeda di Nias pada tahun 1930. Ia tiba di Gunungsitoli pada 1 April dan merekam hingga Mei 1930.

Dari seluruh rekaman, 21 diambil di Desa Hilisimaetano, lokasi pameran kini berlangsung. Doni mengetahui keberadaan rekaman ini sejak membaca buku "Music in Nias" pada 2013.

"Namun, saat itu tidak ada petunjuk sama sekali mengenai lokasi penyimpanan arsip-arsip tersebut," kata Doni. "Rasanya seperti mencari harta karun tanpa peta."

Titik balik penting terjadi pada Oktober 2024 saat Doni menemukan berita di Facebook. Berita itu tentang repatriasi arsip Jaap Kunst di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia pun bertanya-tanya, "Jika rekaman suara NTT ada, mengapa rekaman suara Nias tidak?" Dorongan pun muncul dalam dirinya. Ia mulai mencari jawaban.

Dari informasi itu, Doni menemukan nama Barbara Titus, etnomusikolog yang sering meneliti karya Jaap Kunst. Ia mencari alamat email Barbara melalui Google dan langsung menghubunginya.

Barbara merespons dengan cepat dan menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan repatriasi arsip Nias. "Awalnya saya memberanikan diri saja," ujar Doni mengenang. "Ternyata Barbara sangat terbuka dan responsif."

Setelah komunikasi awal, mereka menjadwalkan pertemuan virtual dan berdiskusi intens. Pembahasan mereka meliputi banyak kemungkinan kolaborasi pelestarian arsip budaya.

Pertemuan berlanjut ke tahap lebih signifikan saat Doni mengunjungi Barbara di Amsterdam awal 2025. Di sana, ia melihat langsung bagaimana arsip-arsip itu disimpan dengan rapi.

"Barbara tidak hanya memberikan akses penuh," ucap Doni menjelaskan. "Ia juga memprakarsai restorasi arsip berbasis kecerdasan buatan."

Proses restorasi dilakukan untuk mengurangi noise, distorsi, serta menjaga karakter asli rekaman. Hasilnya, masyarakat Nias dapat menikmati suara leluhur dalam kualitas terbaik.

"Namun lebih jauh lagi, bentuk kepulangan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa keterbukaan," kata Doni. "Kesediaan membuka arsip sangat penting."

Ia menambahkan, "Walaupun keinginan komunitas asal besar, pengembalian akan sulit jika pemilik arsip tidak terbuka." Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya kemauan untuk mendengarkan dan bekerja bersama.

Pameran Eksibisi Multimedia di Jantung Maniamölö Fest 2025

Pameran Material Jaap Kunst di Hilisimaetano bukan sekadar etalase artefak sejarah. Ini adalah pengalaman imersif yang menyentuh banyak lapisan emosi pengunjung.

Pameran ini mengajak pengunjung merasakan koneksi mendalam dengan masa lalu leluhur Nias. Letaknya di desa dipilih untuk mendekatkan arsip kepada masyarakat asal.

Penempatan di lokasi ini juga mendorong partisipasi aktif pengunjung Maniamölö Fest. Masyarakat merasakan kedekatan langsung dengan suara dan citra sejarah.

Pengunjung memiliki kesempatan langka mendengar melodi-melodi kuno yang direkam hampir seabad lalu. Simfoni masa lalu ini kembali bergema di tanah asalnya.

Mereka dapat melihat potret kehidupan masyarakat Nias Selatan pada era 1930-an. Foto-foto ini menampilkan detail keseharian, ekspresi, dan suasana adat masa lalu.

Film bisu yang diputar turut menghadirkan visual tradisi dan interaksi masyarakat. Ini memberikan gambaran hidup bagaimana leluhur mereka beraktivitas.

Setiap elemen pameran dirancang untuk menciptakan pengalaman mendalam dan menyentuh hati. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga ikut merasakan sejarah.

Yang membuat pameran ini istimewa adalah keterlibatan generasi muda lokal sebagai pemandu. Mereka berasal dari desa dan mahasiswa Universitas Nias Raya.

Mereka menjelaskan konteks arsip dan menunjukkan bahwa warisan ini dijaga generasi muda. Ini memberi harapan bahwa budaya terus diwariskan dengan kesadaran.

"Ini momen sangat mengharukan bagi saya dan masyarakat Nias Selatan," ucap Doni saat di lokasi pameran. "Suara-suara ini harus hidup kembali di tengah kita."

Ia menambahkan, "Kami ingin generasi muda mengenal dan mencintai warisan budaya mereka." Suara-suara ini bagian dari narasi hidup yang sedang dijalani.

"Kami ingin mereka merasakan koneksi kuat dengan leluhur melalui bunyi-bunyi ini," ujarnya penuh harap. "Setiap nada dan gambar adalah bagian dari identitas mereka."

Maniamölö Fest 2025: Perayaan Warisan Nias

Pameran "Suara yang Pulang" menjadi daya tarik utama dalam rangkaian Maniamölö Fest 2025. Festival ini diinisiasi oleh Desa Hilisimaetano dan Dinas Pariwisata Nias Selatan.

Festival bertujuan menonjolkan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif desa. Maniamölö Fest juga masuk dalam 110 Karisma Event Nusantara 2025.

Selain pameran, festival menampilkan kekayaan budaya lainnya, termasuk ritual sakral Famadaya Harimao. Upacara ini hanya digelar setiap 14 tahun sekali.

Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan seni dan budaya tradisional. Ini termasuk Hoho, Lomba Maena, Tari Kreasi, dan Paduan Suara.

Atraksi ikonis Fahombo Batu atau lompat batu juga dipertunjukkan dalam festival ini. Aksi ini melambangkan ketangkasan dan kedewasaan pemuda Nias.

Festival turut diramaikan pameran kesenian sekolah dan komunitas lokal. Stan kuliner dan UMKM khas Nias menambah semarak pengalaman pengunjung.

Festival ini menghadirkan pengalaman menyeluruh tentang kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Nias Selatan. Maniamölö Fest menjadi cerminan hidupnya identitas budaya lokal.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....