Limbah Sekam Jadi Media Tanam Jamur Tiram, Terobosan Bulog-UNS

  • 16 Jan 2025 22:46 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Sragen: Perum Bulog membuat terobosan memanfaatkan limbah sekam di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Desa Karangmalang, Kecamatan Masaran, Sragen, untuk budi daya jamur tiram. Pemanfaatan sekam untuk media tanam jamur tiram ini kerjasama dengan Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Pemberdayaan dengan melibatkan masyarakat sekitar ini sudah dimulai sejak November 2023. Produk jamur tiram yang dihasilkan akan bisa untuk menyuplai Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Human Capital Perum Bulog, Prof. Sudarsono Hardjosoekarto mengatakan, pengembangan jamur tiram merupakan program tanggungjawab sosial dan lingkungan Bulog dengan tiga prioritas. Meliputi bidang pendidikan, lingkungan, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengembangan jamur tiram ini sejalan dengan core business Bulog di bagian hulu, yakni program industry ecosociosystem. Program tersebut dilakukan dengan pemanfaatan limbah sekam dengan pelibatan masyarakat sekitar.

"Bulog menyelenggarakan program lingkungan UMKM memanfaatkan sekam yang merupakan bagian dari produksi pabrik beras di sini yang sangat banyak untuk dikembangkan berdasarkan teknologi yang dikembangkan UNS untuk media tanam jamur tiram," kata Prof Suharsono di SPP Masaran, Sragen, Kamis (16/1/2025).

Seorang anggota Poktan menunjukkan beglok jamur tiram di kumbong yang dikelola, binaan Perum Bulog dan D3 Agribisnis UNS Solo. Dok Mulato RRI Program tersebut dilaksanakan dalam bentuk pelatihan pengoperasian alat streamer baglog jamur tiram dan smart kimbung. Yakni alat deteksi suhu kumbung danodifukasi suhu optimal kumbung berbasis IoT (Internet of Things).

Kemudian pembangunan kumbung baru berkapasitas 6.000 baglog jamur tiram untuk optimalisasi limbah sekam SPP; dan pengembangan komposisi baglog berbahan sekam pada kumbung lama.

"Pelatihan juga sudah diikuti Poktan Mekar dari Mondokan, Sragen. Kami juga akan menawarkan produk jamur tiram ini ke Badan Gizi Nasional untuk mendukung program MBG," ujar dia.

Kegiatan itu dilaksanakan dengan menggandeng Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dengan sasaran kelompok tani pemuda Alugoro Karangmalang, Kecamatan Masaran, Sragen, dan didampingi konsultan jamur tiram dari Sukoharjo.

Direktur Human Capital Perum BULOG Bapak Prof. Sudarsono Hardjosoekarto (tengah) memberikan keterangan pers perihal pemanfaatan sekam dari limbah Penggilingan Padi SPP Karangmalang, Masaran Sragen untuk budidaya jamur tiram. Dol Mulato RRI Sudarsono menerangkan jamur tiram ini bergizi dan layak ditawarkan ke BGN yang sedang menyiapkan program MBG. Dia melihat banyak manfaat dari limbah sekam SPP Masaran.

Pertama bagi Bulog dapat saluran teknologi yang selama ini dibuang. Manfaat kedua, bagi Poktan dapat memanfaatkan peluang usaha, dan dari masyarakat dapat memanfaatkan bahan baku dari jamur tiram bergizi.

"Ada 30 orang anggota Poktan Alugoro yang sudah mengembangkan dan menanam jamur tiram. Sekarang pengembangannya dengan membuat media tanam berbahan limbah sekam SPP dengan bimbingan dari UNS dan pelaku bisnis jamur tiram Sukoharjo," kata dia.

Menurutnya ada dua fasilitas yang disediakan Bulog yakni kumbung atau rumah jamur dan baglog sebagai media tanamnya. Dia menyebut sekarang baru ada satu unit kumbung dan akan ditambah satu unit kumbung lagi dengan kapasitas masing-masing 6.000 baglog.

"Pemasarannya tidak menjadi soal karena pasokan pasar Soloraya masih kurang. Sehari bisa 10 kg pemasaran di Sragen saja."

Marsono perintis budidaya jamur tiram dari Sukoharjo dalam kesempatan itu menyampaikan, jamur tiram tidak ada kimia karena diproduksi dari limbah sekam dan limbah serbuk gergaji serta bekatul air saja tidak ada obat-obatan. Lanjutnya gizinya juga sangat tinggi sama seperti daging.

"Jadi kalau kita tidak makan daging tepung dan sebagainya maka gizinya sudah tercukupi dengan jamur tiram itu," ucap dia.

Terkait pemanfaatan sekam untuk media tanam jamur tiram saat ini masih dicampur dengan serbuk gergaji dengan komposisi 50% sekam dan 50% serbuk gergaji. Penampakannya tidak beda alias hasilnya juga tidak beda.

"Usia juga sama 6 bulan, kan pembuatan bibit sampai panen itu 2 bulan, kemudian efektif produktif itu 4 bulan. Segi biaya kalau kita campur dengan sekam akan lebih murah, karena serbuk kayu itu mahal sekarang satu truk itu sudah Rp 3 juta, kalai sekam bisa gratis."

Budidaya jamur tiram saat ini memang masih cukup menjanjikan. Harga jual dari rumah petani Rp 12.000 sementara di pasar bisa Rp 18.000-20.000 per kilogram.

"Harapannya bisa menambah sekular ekonomi, jadi kerjasama antara Perum Bulog dengan UNS bisa mengangkat masyarakat sekitar SPP Sragen ini untuk berdaya secara ekonomi dengan limbah yang ada tadi. Kalau (penggunaan sekam) bisa di atas 50% kan biaya produksi akan lebih murah," kata Raden Kunto Adi Kaprodi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi UNS Solo. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....