Mengenal Ratu Kalinyamat, Pahlawan Wanita Penguasa Maritim Jawa
- 02 Des 2024 09:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pemerintah Indonesia resmi menobatkan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional, pada 10 November 2023. Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono merupakan ahli perang, dari Jepara, Jawa Tengah.
Retno Kencono merupakan Puteri dari Raja Demak, Sultan Trenggono. Situs PPID Kabupaten Jepara mencatat, sejarah ini diawali pada tahun 1536.
Sultan Trenggono menyerahkan tampuk Adipati Jepara kepada anaknya Retno Kencono. Suami Retno Kencono, Pangeran Hadiri, putera Sultan Ibrahim dari Aceh ikut membantu pemerintahan.
Namun, dalam perjalanannya menjadi Adipati Jepara, terjadilah perebutan tahta kerajaan Demak. Perebutan tahta terjadi setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam ekpedisi militernya di Panarukan, Jawa Timur, tahun 1546.
Empat tahun kemudian, kerajaan Demak kembali bersitegang. Pangeran Hadiri tewas oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549, dalam perebutan tahta Demak.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono berduka, dan meninggalkan kehidupan istana. Ia kemudian mengasingkan diri ke hutan dan melakukan pertapaan di bukit Danaraja.
Sejak Aryo Penangsang terbunuh oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaannya. Ia pun dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Nimas Ratu Kalinyamat.
Ratu Kalinyamat dinobatkan sebagai penguasa Jepara pada tanggal 10 April 1549. Penobatan ini juga menjadi hari lahirnya Kota Jepara.
Berkembangnya Jepara pada Awal Pemerintahan Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat memerintah Jepara sejak 1549 hingga 1679. Jepara berkembang pesat dan menjadi bandar niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani ekspor dan impor.
Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme antikolonial. Ia mengirim armada perangnya ke Malaka untuk menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574.
Tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menjuluki Ratu Kalinyamat sebagai Rainha de Jepara. Ia juga dikenal sebagai 'Senora De Rica', Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal. Total ada 5 ribuan prajurit yang berada dalam kapal.
Misi ini gagal ketika prajurit Kalinyamat melakukan serangan darat, dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka. Tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Ratu Kalinyamat.
Puncak Perlawanan Bangsa Portugis
Berbekal keberanian yang sangat matang, semangat patriotisme Ratu Kalinyamat enggan luntur dan tetap melayani serangan penjajahan bangsa Portugis. Portugis menjadi bangsa paling ditakuti karena sedang dalam puncak kejayaannya sebagai bangsa pemberani di dunia.
Ratu Kalinyamat kembali mengirimkan pasukan dengan jumlah besar ke Malaka, 24 tahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1574. Ekspedisi militer ini melibatkan 300 buah kapal, di antaranya 80 buah kapal Jung besar yang berisikan 15 ribu prajurit pilihan.
Armada militer kubu Jepara akan berhadapan dengan pemimpin Protugis yang disebut Quilimo. Perang kedua berlangsung selama berbulan-bulan, namun tentara Ratu Kalinyamat tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka.
Namun, rentetan peperangan yang terus dikobarkan Ratu Kalinyamat telah membuat Portugis takut dan jera. Hal ini terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis pada abad 16.
Catatan sejarah ini menjadi peninggalan perang besar antara Jepara dan Portugis. Bahkan, hingga sekarang, masih terdapat sebuah komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa di Malaka.
Berjasa dalam Budayakan Seni Ukir Jepara
Ratu Kalinyamat juga sangat berjasa dalam membudayakan seni ukir yang sekarang menjadi andalan utama ekonomi Jepara. Perpaduan seni ukir ini menggabungkan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Tiongkok.
Sejarah mencatat Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579. Ia dimakamkan di Desa Mantingan, Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....