Ditengah Abu Vulkanik Lewotobi, Jurnalis Paul Tak Berhenti Menulis
- 19 Nov 2024 10:42 WIB
- Ende
KRBN, Flores Timur: Malam itu, 3 November 2024 dan suasana di Hokeng Jaya, Flores Timur, terasa sunyi. Listrik padam, hanya ditemani suara angin yang menggoyang pepohonan. Paul Kabelen, seorang jurnalis lokal, duduk di sudut rumah sambil menatap layar ponselnya yang hampir kehabisan daya hanya tersisa 3 persen. Dan, firasat buruk mulai menyelinap di benaknya.
Paul yang telah terbiasa dengan denyut dinamika jurnalistik segera berbagi kontak editor dengan ayah dan kekasihnya. Langkah antisipasi sederhana, mengingat ponselnya hampir mati. Tak lama, ia berbaring untuk beristirahat. Namun, hanya sekejap mata terpejam, bumi bergetar hebat. Paul terbangun, dan suara jerit histeris membangunkan seluruh rumah.
Paul segera bangkit dan keluar rumah. Dalam kegelapan, ia melihat warga berhamburan, berusaha menyelamatkan diri. Hanya dalam hitungan menit, langit berubah kelam. Hujan batu dan pasir tiba-tiba mengguyur.
Paul kembali ke dalam rumah, mendekap ibunya yang ketakutan. "Mama jangan terlalu panik, semuanya akan baik-baik saja," bisiknya sambil mencoba menenangkan. Meski hanya berlangsung tiga menit, hujan batu dan pasir itu morehkan trauma. Hujan deras yang menyusul kemudian memberikan sedikit rasa aman, meski ancaman belum sepenuhnya berlalu.
Di tengah kekacauan itu, insting jurnalistik Paul tetap menyala. Dengan ponsel ayahnya yang sudah usang, ia mulai mengetik laporan awal. āItu hp sudah rusak, jadi butuh waktu 45 menit untuk menulis dan mengirim berita ke editor,ā kenangnya. Meski penuh keterbatasan, ia berhasil mengabarkan situasi di desanya.
Paul dan keluarga 4 November dini hari ini itu memutuskan untuk tetap di rumah. Mereka takut hujan batu dan pasir kembali terjadi saat mereka dalam perjalanan mencari tempat pengungsian. Saat fajar menyingsing, Paul tahu tugasnya menanti.
Paul meninggalkan keluarganya yang masih terpukul, ia bergegas menuju Klatanlo, salah satu daerah terdampak parah. Setibanya di sana, pemandangan memilukan menyambutnya, reruntuhan rumah dan abu tutup menyelimuti. Di antara puing-puing itu, ia menemukan kenyataan pahit, satu keluarga, yang ternyata adalah sanak keluarganya, ditemukan meninggal dunia, tertimbun muntahan Lewotobi Laki-laki.
"Enam orang, semuanya keluarga saya abang," ucapnya, dengan suara bergetar saat berbagi kisah dengan RRI Ende, Sabtu (16/11/2024) di Lewolaga.
Namun, duka itu harus disingkirkan sejenak. Sebagai jurnalis, Paul tahu tugasnya adalah melaporkan kebenaran, meski hatinya remuk. Ia segera menulis laporan untuk berita breaking news, memberitakan kisah pilu keluarganya sendiri kepada dunia.
Hingga kini, Paul Kabelen masih berpindah-pindah, mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Dari rumahnya di Hokeng Jaya, ia kini menetap sementara di rumah seorang teman di Lewolaga. Meski begitu, semangatnya tak pernah surut. Setiap hari ia meliput dampak erupsi, memastikan setiap cerita dan fakta sampai kepada dunia luar.
Paul adalah potret keteguhan seorang jurnalis yang tak hanya melaporkan bencana, tetapi juga menghidupinya. Di tengah abu dan batu, ia tetap berdiri, menjalankan tugasnya sebagai pembawa suara, meski itu berarti menyimpan luka di dalam dada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....