Siswa Tidak Naik Kelas Salah Siapa ?

  • 11 Jul 2024 08:11 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Kurikulum Merdeka, sebagai kerangka kurikulum terbaru dalam sistem pendidikan Indonesia, membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek, termasuk penilaian dan kenaikan kelas. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah masih ada siswa yang tidak naik kelas dalam Kurikulum Merdeka.

Temuan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur seperti yang disampaikan oleh Ketua Bidang Data, Komunikasi, dan Litbang Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur M Isa Anshori, tentang adanya siswa SMA Negeri di Surabaya yang tidak naik kelas menjadi fenomena yang perlu dibahas lebih lanjut. Hal ini dikarenakan, dalam Kurikulum Merdeka tidak lagi menerapkan sistem tinggal kelas secara otomatis. Fokus utama Kurikulum Merdeka adalah pada pencapaian kompetensi siswa, bukan hanya pada nilai akademis semata. Oleh karena itu, keputusan kenaikan kelas didasarkan pada capaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Siswa yang belum mencapai kompetensi tertentu tidak serta merta dinyatakan tidak naik kelas. Mereka akan diberikan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran remedial atau pengayaan untuk membantu mereka mencapai kompetensi yang belum tercapai. Tujuannya adalah agar semua siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keputusan siswa untuk tidak naik kelas, dan banyak hal yang dapat diperdebatkan dalam hal ini. Namun, mari kita lihat beberapa kemungkinan penyebab dan siapa yang bertanggung jawab atas situasi ini.

Pertama-tama, penting diingat bahwa kenaikan kelas didasarkan pada kinerja siswa dalam akademik dan non-akademik. Jika seorang siswa tidak naik kelas, kemungkinan besar karena siswa belum menunjukkan kemajuan yang diharapkan. Karena itu, tanggung jawab untuk meningkatkan kinerja akademik dan non-akademik seharusnya diletakkan pada siswa itu sendiri, orang tua dan pihak sekolah.

Sebagai individu, siswa harus bertanggung jawab atas kinerja akademik dan non-akademiknya sendiri. Mereka harus memahami bahwa kenaikan kelas adalah keputusan penting dan penting untuk berusaha sebaik mungkin. Siswa juga harus memaksimalkan kesempatan yang tersedia untuk membuka diri terhadap bimbingan dan dukungan dari guru mereka jika mereka kesulitan dalam beberapa aspek akademik. Selain itu, mereka juga perlu belajar mandiri dan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan anak mereka. Mereka perlu memotivasi anak-anak mereka untuk belajar, membantu mereka menyelesaikan tugas rumah, dan mengawasi aktivitas mereka agar tidak berdampak negatif pada akademik mereka. Mereka juga harus terbuka terhadap dialog dengan pihak sekolah tentang kemajuan siswa.

Terakhir, pihak sekolah berperan penting dalam memfasilitasi kenaikan kelas siswa. Mereka perlu mengawasi kemajuan akademik siswa dengan lebih teliti dan menyediakan dukungan melalui program pelatihan tambahan jika diperlukan untuk membantu siswa yang mungkin memiliki kesulitan dalam beberapa aspek akademik. Pihak sekolah juga harus memastikan bahwa kriteria kenaikan kelas jelas dan transparan, dan memastikan bahwa siswa dan orang tua mereka memahami kriteria tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....