Alat Musik Tradisional Batak Dan Ancaman Kepunahan
- 23 Sep 2024 21:59 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Sejarah alat musik Batak yang tradional contohnya Jenggong, menilik sejarah pada jaman dulu kaum muda mudi kalau mau merayu gadis pujaanya di daerah batak, selalu memainkan jenggong yang dilakukan di balik dinding yaitu memainkanya dengan cara digigit dan terbuat dari pelepah Enau dimainkanya di tengah malam sehingga bisa terdengar oleh sang gadis yang dicintainya.
"Jenggong" memiliki beberapa arti, tergantung pada konteks dan wilayah. Dalam konteks musik, jenggong atau genggong adalah alat musik tradisional yang dikenal di Indonesia, terutama di Bali dan Sumatra Utara. Alat ini termasuk dalam keluarga harpa mulut atau "Jew's harp," yang dimainkan dengan menempatkannya di mulut dan memetik bagian logam atau bambu untuk menghasilkan suara. Mulut bertindak sebagai resonator untuk memperkuat bunyi yang dihasilkan . Jadi, tergantung dari konteksnya, jenggong bisa mengacu pada alat musik tradisional atau hanya suara tertentu.
Saga-saga adalah alat musik tradisional dari suku Batak Toba di Sumatra Utara, Indonesia. Alat ini merupakan jenis alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Saga-saga memiliki bentuk sederhana namun berperan penting dalam berbagai upacara adat Batak, seperti upacara pernikahan dan ritual adat lainnya.
Suara yang dihasilkan oleh saga-saga bersifat serupa dengan bunyi seruling, namun dengan nada yang lebih lembut. Biasanya, saga-saga dimainkan dalam ansambel musik tradisional Batak yang disebut gondang sabangunan, di mana alat ini dipadukan dengan alat musik lain seperti taganing (gendang) dan sarune (seruling). Saga-saga termasuk dalam kelompok alat musik tiup karena dimainkan dengan cara ditiup, dan melodi yang dihasilkan sering digunakan untuk menyampaikan pesan atau melodi dalam lagu-lagu Batak tradisional .
Pesta pesta budaya pada era sekarang ini alat musik tradisional batak sudah mulai diminati akan tetapi harus ada perpaduan kolaborasi dengan musik barat juga contohnya pada grup musik Viky sianipar yang bermarkas di manggarai. Dalam karyanya, Viky sering menggunakan alat musik tradisional Batak seperti gondang, sarune, dan hasapi, yang dipadukan dengan instrumen modern seperti gitar listrik, drum, dan keyboard. Melalui album-albumnya, seperti Toba Dream, ia berhasil memperkenalkan musik Batak ke audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda yang mungkin kurang familiar dengan musik tradisional.
Kolaborasi musik Batak dan band modern yang dilakukan oleh Viky Sianipar tidak hanya melestarikan budaya Batak tetapi juga membuatnya lebih relevan dan menarik di zaman sekarang. Salah satu lagu terkenal dari proyek kolaborasinya adalah "Butet", sebuah lagu Batak tradisional yang diaransemen ulang dengan sentuhan rock modern, memperlihatkan kemampuannya menggabungkan dua dunia musik ini.
Dengan karya-karyanya, Viky telah membuka jalan bagi musisi lain untuk mengeksplorasi musik etnis dalam konteks modern dan global. Menurut Narsum yang mengakibatkan alat musik tradisonal makin punah,j angan disalahkan anak mudanya yang disalahkan adalah orang tua karena tidak mau mengenalkan alat musik tradisi kepada anaknya sejak dini. Dan masyarakat pendukung di era sekarang kemungkinan juga berkurang sehingga event budaya maupun pernikahan tergantikan dengan Musik kekinian.
Gondang Sabangunan adalah sebuah ensambel musik tradisional dari suku Batak Toba di Sumatra Utara. Ini adalah salah satu bentuk musik Batak yang paling penting dan digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, kematian, serta ritual adat lainnya. Gondang Sabangunan berfungsi sebagai sarana komunikasi spiritual antara manusia dan leluhur atau roh-roh dalam kepercayaan Batak. Gondang Sabangunan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai elemen penting dalam berbagai ritual Batak. Setiap komposisi musik Gondang memiliki makna tertentu dan dapat digunakan untuk meminta berkat dari para leluhur, merayakan kejadian penting, atau menyatukan komunitas. Musik ini sering kali diiringi dengan tarian tor-tor, yang juga memiliki nilai sakral. Gondang Sabangunan adalah bentuk ekspresi budaya yang mendalam, menghubungkan orang Batak dengan leluhur dan sejarah mereka. Musik Gondang Sabangunan tetap dilestarikan dalam budaya Batak hingga hari ini, meskipun sudah banyak terjadi adaptasi dengan musik modern. Tutur Drs, Torang Naiborhu, M Hum ( Pengurus Departemen Kesenian DPW Batak Center Prov. Sumut & Dosen Etnomusikologi FIB USU Medan). Baik di toba, mandailing maupun di fak fak dan di samulungun alat musik nya sama tapi dari segi musikalitasnya berbeda yang membedakan adalah stemnya atau tuningnya contohnya dalam sulingan antara mandailing dan fak fak pasti berbeda demikian juga dari tuning keyboardnya.
Harapan supaya minat anak muda tertarik dengan alat musik batak, peran pemerintah dalam menghidupkan alat tradisi musik batak harus lebih gencar lagi dengan diadakan event budaya,Kolaborasi dengan Musik Modern,Penggunaan di Media Sosial dan Platform Digital,Festival dan Kompetisi Musik,Integrasi dalam Kurikulum Pendidikan,Role Model dan Influencer, Pameran dan Workshop Mengadakan workshop atau pameran alat musik Batak di berbagai kota, baik secara fisik maupun virtual, memungkinkan anak muda untuk berinteraksi langsung dengan alat musik tradisional ini. Pengalaman hands-on biasanya lebih efektif dalam menumbuhkan minat dan keterikatan terhadap musik tradisional. Dengan strategi-strategi ini, alat musik tradisional Batak bisa tetap relevan dan menarik bagi generasi muda, sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....