HUT ke-79, Ini Perjalanan Sejarah RRI Surabaya
- 10 Sep 2024 08:38 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Pada hari penyerahan kekuasaan Kamis 27 September 1945 pukul 18.00 WIB, untuk pertama kalinya Radio Surabaya memperkenalkan dirinya sebagai Radio Republik Indonesia Surabaya, melalui gelombang 92-116 dan 150 meter. RRI Surabaya adalah instansi yang pertama-tama melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang. Hal ini dinyatakan juga oleh harian Suara Rakyat yang terbit 27 September 1953.
Peresmian siaran RRI Surabaya baru dilakukan pada tanggal 1 Oktober 1945 dengan menyiarkan pidato sambutan untuk pertama kalinya selaku pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) Gubernur Suryo. Pada tanggal 13 Oktober 1945, untuk pertama kalinya sesudah ada persesuaian pendapat dengan pemerintah daerah, Bung Tomo selaku pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, diberi kesempatan untuk berpidato dimuka corong RRI Surabaya.
Dan mulailah rakyat mengenal siaran Radio Pemberontakan dari Bung Tomo. Cara penyelenggaraan siaran diatur sedemikian rupa, seolah-olah RRI Surabaya merelay dari pemancar Radio Pemberontakan. Hal ini dilakukan karena pemancar radio pemberontakan sendiri belum selesai dan menurut siasat perjuangan yang ditentukan pemerintah waktu itu, harus ada pemisahan secara tegas antara radio resmi dan radio pemberontakan.
Dengan terbentuknya Markas Besar BKR di gedung HWA untuk melayani kepentingan komando-komando yang bisa diadakan sewaktu-waktu, RRI menempatkan amplifer dimarkas besar tersebut beserta 4 orang pegawai selaku penghubung.
Ternyata usaha ini berfaedah sekali waktu kita menghadapi saat-saat pendaratan tentara Inggris-Gurkha. Tanggal 28 Oktober 1945 kembali RRI Surabaya menjadi sasaran siasat tentara Inggris. Sesudah tindakan-tindakannya yang sangat mencurigai kita, pada hari itu sekitar pukul 14.15 WIB. Tentara Gurkha sebanyak 35 orang dibawah pimpinan seorang mayor bangsa Inggris dengan tidak diduga-duga sama sekali menduduki studio RRI Surabaya.
Pada waktu itu mengingat suasana di kota yang menjadi genting, RRI Surabaya selalu memutar lagu Indonesia Raya pada pembukaan dan penutup siarannya. Kepada penyiar dinas Soetoyo, ditanyakan alamat pemimpin umum. Soetoyo menelpon Soekirman, dan melaporkan keadaan.
Pada waktu itu intruksi yang diberikan pemimpin umum hanyalah supaya semua pegawai bersikap tenang saja dan mempersilahkan opsir Inggris itu datang kerumah Soekirman yang letaknya disamping belakang gedung studio. Tidak lama kemudian rumah Soekirman, telah dikepung oleh tentara Gurkha sambil mengadakan stelling Sdr Soekirman kemudian diajak kestudio. Semua pegawai yang dinas disuruh pulang, sedangkan Soekirman diwajibkan tinggal.
Kunci-kunci studio dipegang opsir tersebut. Meskipun studio RRI Surabaya telah diduduki, siaran RRI Surabaya tidak berhenti. Siaran sore pada hari itu mulai diselenggarakan dari Embong Malang. Pada kira-kira pukul 18.00 WIB opsir itu dengan mengendarai jeep SKSN kembali ke markasnya.
Maksudnya ini tak sampai, karena ia dapat di cegat didepan markas PRI dan mati terbunuh ditempat itu juga. Demi perlindungan Alloh SWT Sdr Soekirman dalam pertempuran yang mulai berlaku malamnya dapat meloloskan diri. Pertempuran-pertempuran oleh karena pendudukan gedung radio berkobar juga dimana-mana. Pada keesokan harinya tanggal 29 Oktober 1945, kira-kira pukul 16.00 WIB, tentara Gurkha di semua tempat sudah dihancurkan kecuali yang di jalan Kayoon.
Gedung radio RRI Surabaya dibakar pemuda, semua Gurkha mati terbakar, terkecuali 2 orang yang lari meninggalkan gedung RRI Surabaya yang sedang terbakar. Tetapi mereka menjadi mangsa bayonet pemuda dan tentara rakyat. Dalam peristiwa ini perlu dicatat betapa cinta dan rasa tanggung jawab petugas teknik didalam menyelamatkan alat-alat radio. Pada waktu pertempuran masih sedang berkecamuk, orang-orang ini secara bergiliran satu demi satu memasuki gedung untuk mengeluarkan alat-alat radio yang masih bisa terselamatkan dari dalam gedung RRI Surabaya.
Dibawah pimpinan kepala bagian tekhnik RRI Surabaya Moertamadji, mulai diadakan siasat penempatan pemancar, dengan mengadakan terugval basis di Petemon, Sepanjang dan Balongbendo. Demikian juga tenaga-tenaga siaran dan teknik sudah dibagi-bagi pos-posnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....