Festival Air Bali 2024: Solusi Krisis Air dan Lingkungan

  • 24 Jul 2024 13:03 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Menanggapi krisis air dan berbagai masalah lingkungan yang semakin mengkhawatirkan di Bali, beberapa NGO dan komunitas berkolaborasi kembali dengan mengadakan inisiatif "Apa Kabar Kita". Tahun 2024, inisiatif ini hadir dengan tema "Apa Kabar Kita (2): Festival Air Bali". Krisis air dan lingkungan menjadi fokus utama dalam rangkaian acara yang akan diadakan pada 30 Juli 2024 di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Desa Adat Intaran, Sanur Kauh, Denpasar Selatan.

Direktur Eksekutif Yayasan IDEP, Muchamad Awal, menegaskan Acara ini dirancang sebagai festival untuk memfasilitasi kolaborasi multi-perspektif dalam mencari solusi krisis air dan masalah lingkungan di Bali. Salah satu harapan utama adalah terbentuknya rancangan awal Peta Jalan Air Bali.

“Acara yang didesain sebagai sebuah festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi multi-perspektif untuk mencari solusi terhadap krisis air dan masalah lingkungan lain di Bali. Salah satu hasil konkret yang diharapkan dapat lahir adalah rancangan awal Peta Jalan Air Bali,” ungkapnya.

Pertumbuhan pesat pariwisata dan urbanisasi di Bali, ditambah dengan krisis iklim, telah menekan sumber daya air. Permintaan air yang meningkat untuk kebutuhan domestik dan komersial memperparah krisis ini. Hingga kini, Bali belum memiliki tata kelola air yang berkelanjutan dan partisipatif sebagai solusi.

Muchamad Awal juga menyampaikan dari laporan Walhi Bali menunjukkan penggunaan air di Bali telah melampaui kapasitas siklus hidrologi, dengan intrusi air laut terjadi di daerah wisata utama seperti Sanur dan Kuta. Di daerah Kerobokan dan Uma Alas, lebih dari 1.000 villa memiliki kolam renang, yang menunjukkan adanya lebih dari 1.000 sumur bor.

Khusus di Denpasar, terdapat 1.088 sumur bor berizin dengan volume pengambilan air tanah sekitar 4.183.452 m³ pada November 2010. Jika ditambahkan dengan pengambilan air oleh PDAM Denpasar, total eksplorasi air tanah mencapai sekitar 59.602.326 m³ per tahun. Penurunan muka air tanah di Cekungan Air Tanah Denpasar-Tabanan tercatat sebesar 1,4 – 29,2 meter antara 1985-2004.

Situasi ini diperparah oleh distribusi air yang tidak merata dan privatisasi air yang menciptakan ketidakadilan dalam akses air bersih antara masyarakat lokal dan industri pariwisata, memicu konflik antara kepentingan bisnis dan kebutuhan dasar masyarakat. Pada Mei lalu, Bali menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) yang dihadiri oleh 9.477 delegasi dari 104 negara untuk membahas krisis air global.

Namun, penelitian oleh Ni Gusti Putu Dinda Mahadewi, Ni Luh Fenny Sulistya Murty, dan Ufiya Amirahair mengungkapkan ketidakadilan dalam distribusi air selama forum tersebut, dengan Nusa Dua yang tidak kesulitan mengakses air bersih sementara Kuta Selatan menghadapi kekurangan air. Sejak 2012, Yayasan IDEP Selaras Alam melalui program Bali Water Protection (BWP) berupaya mencegah krisis air di Bali dengan membangun sumur imbuhan untuk menangkap air hujan dan mencegah intrusi air laut, serta mengedukasi masyarakat melalui kampanye konservasi air di lebih dari 300 sekolah dan penanaman 15.000 pohon.

"Untuk menyelesaikan masalah ini, diperlukan upaya terkoordinasi dan partisipatif dari semua pihak terkait untuk merumuskan Peta Jalan Air Bali," Imbuhnya.

Mochamad Awal menegaskan Festival ini juga akan menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) terkait isu air, coffee talks, lokakarya, pasar rakyat, dan panggung hiburan. Ia menyampaikan pada 25 Juli, akan ada penanaman 100 bibit terumbu karang bekerja sama dengan Komunitas Sungai Bahari. Inisiatif "Apa Kabar Kita" pertama kali diadakan pada 2022 bertepatan dengan pertemuan G20, dan kali ini beberapa organisasi termasuk IDEP, Temanmu, dan lainnya akan menjadi kolaborator dalam festival ini. Ia menambahkan agenda ini terbuka untuk publik dan diharapkan menarik ribuan orang. Bibit pohon akan menjadi tiket masuk acara ini, yang dapat dibeli di lokasi acara dan didonasikan ke Komunitas Sungai Bahari untuk melanjutkan penanaman pohon. Partisipasi aktif masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian air di Bali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....