Detektif Sungai Temukan Mikroplastik Di Udara Kota Kediri

  • 08 Jul 2024 20:46 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Puluhan Detektif Sungai menemukan adanya kandungan mikroplastik di udara Kota Kediri.

Hal ini diungkapkan, Rafika Aprilianti selaku peneliti mikroplastik ECOTON, saat ditanya terkait hasil penelitiannya bersama 40 Detektif Sungai di Kota Kediri, Senin (8/7/2024).

"Temuan Mikroplastik ini kami jumpai saat DOMIK (Drone Mikroplastik) adalah Drone yang dimodifikasi dan dipasang alat saring mikroplastik di kaki drone," katanya.

Rafika menyebutkan, uji kadar mikroplastik udara yang baru pertama kali dilakukan, karena detektif sungai dan ECOTON menggunakan drone khusus yang dirancang untuk Bisa mengangkut dan menangkap mikroplastik di udara, bernama DOMIK (Drone Mikroplastik).

"Ini kami lakukan dengan memodifikasi drone, agar dapat mengidentifikasi mikroplastik udara di ketinggian 20 meter. Sebab, salah satu sumber mikroplastik di udara adalah dari pembakaran sampah plastik yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, dan asapnya tinggi mencapai 5-20 meter," katanya.

Ia menambahkan, penelitian ini didasari oleh Sebuah studi baru yang terbit dalam jurnal Environmental Science & Technology menyoroti negara-negara di dunia yang penduduknya paling banyak mengonsumsi mikroplastik, dan Indonesia menduduki peringkat teratas. Masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik per bulan.

Sumber mikroplastik yang mengontaminasi tubuh dapat berasal dari banyak hal meliputi makanan dan minuman yang terkontaminasi mikroplastik, sehingga lingkungan sekitar banyak mengandung mikroplastik, misalnya udara, air dan tanah.

Lebih lanjut, DOMIK (Drone mikroplastik) pertama kali diterbangkan di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik kemudian Kota Kediri. Dari ketiga kota dan kabupaten terssebut, jumlah kelimpahan rata-rata mikroplastik yang berhasil ditangkap oleh DOMIK adalah 90 partikel/jam. Partikel mikroplastik yang berhasil ditangkap adalah dari jenis Fiber, Filamen dan Fragmen.

"Temuan Mikroplastik yang terdeteksi di udara pada ketinggian 20 meter, mengkonfirmasi kekhawatiran tentang dampak buruk pencemaran plastik, terutama karena mikroplastik yang ada di udara berpotensi turun ke permukaan bumi dan terhirup oleh manusia," kata Rafika.

Di tempat sama, Madjid Panjalung siswa kelas 4 Sekolah Dasar, dan pelajar detektif sungai mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan pengalaman pertamanya melakukan penelitian mikroplastik di udara.

"Ternyata sampah plastik yang biasanya dibakar akan membentuk mikroplastik yang berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 5 milimeter, dan memungkinkan bisa masuk dalam tubuh," kata Madjid.

Diketahui, mikroplastik di udara dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk Abrasi dari ban kendaraan di jalan raya. Pemakaian dan pembuangan produk plastik sehari-hari, Proses industri yang melibatkan plastik, Degradasi material plastik di lingkungan. Partikel-partikel ini dapat terdispersi melalui angin dan fenomena atmosfer lainnya, sehingga tersebar luas dan mencapai daerah yang jauh dari sumber pencemaran.

Sementara itu, masalah utama adanya mikroplastik di udara adalah dari pembakaran sampah yang masih massif di negara Indonesia. Berdasarkan data dari databooks, 2023 menyebutkan bahwa 57,2 persen rumah tangga Indonesia rutin bakar sampah, 27,6 persen diangkut petugas dan hanya 0,1 persen saja yang didaur ulang. Mikroplastik di udara juga dapat menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Misal, mikroplastik berukuran cukup kecil bisa terhirup langsung ke paru-paru. Mikroplastik bisa berbahaya jika masuk ke saluran pernafasan.

Kembali dikatakan Rafika, mikroplastik sifatnya seperti magnet, sehingga bahan polutan yang ada di sekitarnya dapat diserap dan diikat. Selain itu nikroplastik pada udara juga dapat mencemari daun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....